Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Terlalu manis


__ADS_3

Kediaman Devan


Suasana yang hening dan sepi terlihat begitu mencekam di salah satu ruangan di mansion milik Devan, Devan duduk di dekat ranjang miliknya sambil memegang sebotol wiski di tangannya. Pikiran Devan benar benar kacau saat ini semua usahanya untuk menjatuhkan Kafeel telah gagal total, tidak hanya itu saja bahkan usaha yang sudah ia rintis dari nol juga ikut gagal seiring rumor yang beredar luas di masyarakat tentang bobroknya perusahaan W Food.


Devan menjambak rambutnya dengan frustasi, ia benar benar tak menyangka akan berakhir seperti ini. Jika ia tahu akan jadi separah ini mungkin Devan tidak akan memulainya. Em tidak menjamin juga sih mengingat sifat Devan yang seperti itu.


Cetar


Suara benturan antara tembok dan juga botol wiski di tangannya terdengar begitu nyaring memenuhi ruangan kamar tersebut.


"Arg benar benar menyebalkan! kau Kafeel benar benar membuat ku muak. Kenapa kau selalu saja menang dan menang ha? bangs*t!" teriak Devan dengan kesetanan.


****


Apartment Kafeel


Setelah menyelesaikan masakannya Kafeel dan juga Kinara melanjutkannya dengan makan malam bersama. Seulas senyum nampak terlihat dari wajah Kinara ketika melihat hasil karya masakan Kafeel.


"Aku tahu kamu pasti akan mengejekku bukan?" ucap Kafeel yang paham betul dengan ekspresi wajah Kinara yang seperti itu.


Sedangkan Kinara yang mendengar perkataan Kafeel barusan lantas tersenyum lagi dan lagi. "Sepertinya hanya ini yang selamat bukan Kaf? aku tidak akan mengejeknya karena kamu pasti sudah berusaha membuatnya. Jika sudah begitu mari kita coba..." ucapnya sambil mengambil terlur mata sapi di depannya, satu satunya masakan Kafeel yang terlihat luar biasa daripada yang lainnya, yah kalian tahu sendirilah bentukannya akan seperti apa, benar benar berantakan 🤭.


Kafeel yang melihat Kinara hendak memakan telurnya, lantas menghentikan gerakan tangan Kinara membuat Kinara bingung akan apa yang dilakukan oleh Kafeel saat ini.


"Ada apa?" tanya Kinara sambil menatap ke arah Kafeel.


"Kita pesan makan di luar saja ya? aku tidak yakin itu bisa di makan." ucap Kafeel sambil menatap beberapa hidangan hasil maha karyanya.


"Tidak usah, lagi pula aku tidak akan mati juga jika memakannya. Ya mungkin... mentok mentok diare hahaha" ucap Kinara sambil tertawa yang lantas membuat wajah Kafeel semakin suram. Kinara yang melihat Kafeel seperti itu lantas menghentikan tawanya. "Sudahlah Kaf, ini benar benar bisa di makan lihatlah..." ucap Kinara kemudian sambil mulai memakannya setelah itu memberikan dua jempol untuk Kafeel.


"Apakah benar seenak itu? aku tidak terlalu yakin akan hal itu, apa sekarang kamu sedang membodohi ku?" ucap Kafeel kemudian yang tak langsung percaya akan review dari Kinara barusan.


Sedangkan Kinara yang melihat Kafeel tak mempercayainya hanya diam saja dan tersenyum kemudian menyendok satu nasi dan telur lalu memasukkannya ke dalam mulut Kafeel begitu saja.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Kinara kemudian yang melihat Kafeel mulai mengunyah makanannya.


"Not bad..." ucapnya dengan singkat yang lantas membuat Kinara semakin tersenyum. "Benar benar luar biasa, apalagi ditambah dengan suapan dari kamu benar benar luar biasa." ucap Kafeel dengan nada yang berbinar menatap ke arah Kinara.


"Dasar gombal!" ucap Kinara sambil menggelengkan kepalanya pelan ketika mendengar gombalan yang keluar dari mulut Kafeel, sudah lama sekali Kinara tidak mendengar gombalan tersebut dan sekarang ia kembali mendengarnya. Benar benar terasa seperti kenangan manis yang kembali terulang setelah begitu banyak kenangan pahit yang menyelimutinya.


"Aku berkata benar, apa kamu tidak percaya padaku?" ucap Kafeel lagi.


"Ya ya ya kau selalu benar, bukankah begitu tuan Kafeel Hafizhan Adhitama?" ucap Kinara sengaja dengan nada yang di panjangkan.


"Jangan coba coba menggoda ku Ra!" ucap Kafeel dengan nada memperingati Kinara.


Sedangkan Kinara yang mendengar hal itu malah dengan sengaja menjulurkan lidahnya mengejek Kafeel. Melihat Kinara yang seperti itu Kafeel lantas bangkit dan berusaha mengejar Kinara. Pada akhirnya keduanya saling kejar kejaran satu sama lain sambil tertawa lepas seakan melepas semua beban berat yang sudah berhasil mereka berdua lewati bersama.


Hingga kemudian Kafeel berhasil menangkap Kinara lalu menggendongnya sambil sedikit berputar dan berakhir dengan terlentang di karpet karena Kafeel yang tidak sengaja terjatuh saat menggendong Kinara.


Keduanya tertawa saat mendapati mereka terjatuh bersama dengan nafas yang terengah engah. Kafeel kemudian lantas menggeser tangannya perlahan agar Kinara bisa menjadikannya sebagai bantalan untuk ia berbaring di sana.


"Untuk?" tanya Kafeel.


"Em untuk semua hal yang telah kamu lakukan untuk ku, mungkin aku tidak bisa berhitung seberapa besar semua hal yang kamu lakukan pada ku, untuk itu terima kasih banyak Kaf." ucap Kinara lagi dengan mata yang berbinar.


Kafeel yang mendengar kata kata itu hanya tersenyum kemudian mengelus rambut Kinara dengan pelan.


"Apapun yang membuat mu bahagia aku siap melakukannya untuk mu Ra." ucap Kafeel sambil tersenyum manis kepada Kinara.


"Jangan begitu Kaf, kamu membuat ku takut." ucap Kinara kemudian.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Kafeel dengan penasaran.


"Aku pernah bertemu dengan seseorang yang begitu manis dan menjalin hubungan yang manis pula bersamanya, hanya saja pada akhirnya semua yang berbuah manis hanyalah selimut dari sebuah kepahitan. Tidak ada seseorang yang benar benar tulus dalam mencintai Kaf, karena cinta akan pudar seiring dengan berjalannya waktu." ucap Kinara dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh Kinara.


"Aku tidak pernah memaksa mu untuk percaya pada cinta ku karena aku pun tidak mempercayainya. Hanya saja aku berani yakin dan menjamin bahwa cinta ku tidak akan pernah pudar walau termakan dengan perkembangan jaman sekalipun." ucap Kafeel dengan nada yang yakin dan percaya diri.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mencoba mempercayainya." ucap Kinara kemudian sambil tersenyum menatap ke arah langit langit apartment milik Kafeel.


***


Sementara itu Rian kini tengah berada di apartment miliknya yang ada di Jakarta di kejutkan dengan suara deringan ponsel miliknya.


"Halo" ucap Rian dengan nada yang lirih setelah menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Kenapa dengan nada mu nak? apa telah terjadi sesuatu?" tanya Ratih ketika mendengar suara Rian yang tidak bersemangat.


"Tidak apa ma Rian hanya mengantuk saja." ucap Rian berdalih karena tidak ingin membuat Ratih khawatir.


"Jangan bekerja terlalu keras nak, istirahatlah sebentar." ucap Ratih menasehati.


"Iya, mama tidak perlu khawatir akan hal itu." ucap Rian menenangkan Ratih.


"Em bagaimana keadaan Kinara nak?" tanya Ratih dengan nada yang penasaran.


"Kinara baik, tuduhannya sudah di cabut dan Kinara saat ini sudah bebas ma." ucap Rian menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu mama ikut lega mendengarnya." ucap Ratih dengan nada yang bahagia.


"Jika tidak ada lagi yang ingin mama ketahui Rian tutup dulu telponnya ya ma, soalnya aku benar benar mengantuk saat ini." ucap Rian lagi mencoba mengakhiri panggilan telponnya.


"Apa kamu yakin tidak ada yang terjadi padamu yan? kenapa mama merasa seperti sebaliknya?" tanya Ratih yang tidak langsung percaya dengan ucapan anaknya.


"Mama hanya sedang over thinking saja Rian baik kok, sudah ya ma Rian sambung besok lagi telponnya." ucap Rian kemudian sambil mengakhiri telponnya.


Rian menghela nafasnya panjang setelah panggilan telpon dari Ratih berakhir. Pikirannya benar benar sedang tidak baik baik saja saat ini.


"Mungkin tidur sebentar akan membuat otak dan hati ku lebih fresh, setidaknya mungkin aku akan melupakan Kinara sejenak." ucapnya sambil bangkit berdiri dan melenggang pergi menuju kamarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2