
Acara ijab qabul berlangsung dengan khidmat dan lancar, Kinara mencium puncak tangan Kafeel dengan lembut kemudian berganti dengan Kafeel yang mencium kening Kinara.
"Akhirnya kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri Ra." bisik Kafeel dengan lirih di telinga Kinara.
"Iya Kaf, semoga kita akan menjadi pasangan hingga kakek nenek ya Kaf..." ucap Kinara dengan tersenyum.
"Cantik" ucap Kafeel yang lantas membuat Kinara mencebikkan wajahnya ketika mendengar jawaban ngelantur dari Kafeel.
"Di mohon untuk mempelai wanita dan pria agar berdiri dan mengangkat surat nikah kalian berdua ke arah tamu undangan." ucap MC yang lantas menghentikan pembicaraan keduanya.
Sesuai dengan arahan MC baik Kafeel dan Kinara lantas bangkit sambil menunjukkan surat nikah mereka berdua dengan wajah yang bahagia. Kafeel memegang erat pinggang Kinara dengan tangan satunya, membuat seulas senyum terbit dari wajah Kinara ketika melihat kelakuan Kafeel.
Suara riuh gemuruh tamu undangan terdengar ketika keduanya menunjukkan surat nikah mereka. Sesuai dengan Kinara yang menyukai suasana outdoor, pernikahan kali ini juga di langsungkan di ruangan terbuka dengan konsep garden party.
Senyuman kebahagian tak henti hentinya terlihat dari wajah Kafeel, membuat Kinara ikut bahagia ketika melihatnya. Hanya saja ketika Kafeel dan juga Kinara mulai di tuntun naik ke panggung pelaminan, samar samar Kinara seperti melihat sosok seorang yang asing dengan tatapan menghunus tajam ke arahnya dan juga Kafeel di antara ratusan tamu undangan.
"Apa mungkin itu teman bisnis Kafeel ya?" batin Kinara dalam hati.
Sebenarnya di antara ratusan tamu undangan yang menghadiri acara tersebut, orang yang di lihat oleh Kinara membaur dengan kerumunan. Hanya saja tetap terasa aneh bagi Kinara di saat semua orang menatap keduanya dengan bahagia namun dia menatap Kafeel dan dirinya dengan tatapan kebencian, tidak hanya itu tingkah lakunya yang terus memasukkan tangan ke saku celananya bagi Kinara sangatlah aneh.
"Mungkin hanya perasaan ku saja." ucap Kinara dalam hati mengusir perasaannya yang kini sedang gelisah setelah melihat sosok orang itu.
Kafeel menoleh sekilas ke arah Kinara yang kini sudah berstatus menjadi istrinya itu. Kafeel agak sedikit bingung ketika melihat Kinara yang harusnya bahagia malah terlihat sangat gelisah.
"Ada apa?" bisik Kafeel yang langsung membuat Kinara menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Kafeel barusan Kinara lantas memaksakan senyumnya. "Tidak apa" jawabnya dengan singkat.
"Apa kamu lelah? kita bisa menyudahinya kalau kamu lelah." tawar Kafeel memberikan saran karena ia tidak tega melihat Kinara seperti itu.
"Tidak apa, aku baik baik saja." ucap Kinara meyakinkan Kafeel untuk tetap melanjutkan acara.
Setelah prosesi salam salaman dan berfoto selesai, kini tiba saatnya acara ramah tamah. Kedua mempelai di tuntun untuk menghampiri satu persatu tamu undangan untuk sekedar beramah tamah. Tidak harus seluruh namun bisa beberapa saja untuk formalitas sambil menikmati makanan ringan yang tersaji di dalam acara tersebut.
Hanya saja Kinara agak sedikit risih karena setiap keduanya berpindah tempat dan bercengkrama dengan beberapa tamu, sosok pria yang di lihat Kinara terus saja mengikuti langkah kaki mereka namun dengan bersembunyi di beberapa kerumunan agar tidak terlihat.
"Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?" batin Kinara dalam hati.
Entah mengapa perasaannya semakin gelisah dan juga tak karuan ketika melihat sosok pria itu terus mengikuti langkahnya dan juga Kafeel. Kafeel yang menyadari cengkraman Kinara semakin erat lantas kembali menoleh ke arahnya untuk mengecek keadaan Kinara.
"Apa kamu yakin baik baik saja Ra? kita bisa istirahat sebentar jika kamu lelah, tidak perlu di paksakan." tawar Kafeel lagi namun Kinara kembali menggelengkan kepalanya seakan mengatakan dia baik baik saja.
Beberapa tamu undangan nampak melipir membiarkan dua mempelai berbicara, posisi Kafeel dan juga Kinara yang saling berhadapan membuat Kinara bisa melihat ke arah belakang Kafeel.
Kinara yang awalnya memang sudah gelisah, lantas langsung di buat terkejut ketika tak sengaja melihat di belakang standing flower sosok laki laki yang di lihatnya tadi tengah menodongkan pistol ke arah Kafeel.
Kinara yang panik akan terjadi sesuatu lantas langsung menarik tangan Kafeel agar berpindah posisi dan menggantikannya. Kafeel yang tidak tahu apa apa lantas terkejut dengan gerakan Kinara yang tiba tiba, hingga kemudian terdengar bunyi tembakan yang cukup nyaring membuat beberapa tamu undangan lantas berhamburan pergi mencari tempat aman.
Dor dor dor dor...
Sebanyak empat tembakan peluru terdengar menggema di tempat itu. Gaun pengantin Kinara yang tadinya berwarna putih perlahan lahan berubah karena noda bercak darah akibat tembakan tersebut.
__ADS_1
"Ra kamu gak papa?" tanya Kafeel ketika melihat Kinara yang terlihat sedikit meringis menahan sakit.
Tapi tunggu... bukankah peluru itu di tembakkan sebanyak empat kali? namun mengapa Kinara hanya merasakan sakit di bagian lengannya saja? bukankah harusnya dia sudah tepar karena terkena tembakan tersebut.
Di saat Kafeel tengah sibuk mengecek kondisi Kinara, Kinara yang saat ini tengah shock perlahan mulai menoleh ke arah belakang. Lagi lagi Kinara terkejut bukan main ketika melihat Rian sudah tergeletak di tanah dengan bersimbah darah.
"Rian!" pekik Kinara yang melihat pemandangan di belakangnya yang lantas membuat Kafeel beralih fokus menatap ke arah bawah.
Kinara yang melihat Rian tergeletak lantas bangkit dan menghampirinya, sementara Rian hanya tersenyum ketika melihat kepanikan Kinara.
"Rian kenapa kamu melakukannya? harusnya kamu tidak perlu berkorban!" ucap Kinara dengan menahan isak tangisnya sambil duduk bersimpuh dan memangku kepala Rian.
Mendengar hal itu Rian kembali tersenyum. "Ak..u ingin me...lihat mu bahagia Ra... ap..a aku salah?" ucapnya dengan nada yang terbata.
Kafeel yang melihat hal itu lantas meremas dengan kasar rambutnya, ia benar benar terkejut akan aksi heroik yang di lakukan oleh Rian untuk melindungi Kinara. Dengan perasaan yang campur aduk Kafeel lantas melipir sedikit dan berusaha menelpon ambulans untuk memberikan pertolongan pada Rian.
Sedangkan Kinara yang mendengar ucapan Rian barusan tentu saja langsung menangis tersedu sejadi jadinya. Kinara benar benar tidak menyangka Rian akan melakukannya, di saat Kinara memilih untuk menjadi pelindung bagi Kafeel namun Rian malah maju dan melindungi dirinya. Bukankah kisah cinta ketiganya begitu rumit untuk di jelaskan?
Melihat Kinara yang menangis, tangan Rian perlahan terlihat naik ke atas dengan pelan lalu mengusapnya. "Jangan... me..nangis...Ra! aku... uhuk uhuk tidak... melakukannya... un..tuk melihat mu... menangis... uhuk uhuk." ucap Rian dengan terbata, darah segar terlihat keluar dari mulutnya ketika ia berusaha memaksakan dirinya untuk berbicara.
Kinara yang melihat hal itu lantas mengusap darah yang keluar dari mulut Rian secara perlahan sambil menggigit bibirnya menahan tangisnya agar tidak lagi keluar. "Kamu pasti selamat Yan... jangan banyak berbicara lagi oke... kamu harus... selamat... hiks hiks." ucap Kinara dengan tersendat sendat karena menahan tangisnya sambil terus membersihkan muntahan darah Rian.
"Ini... saatnya... aku pergi Ra... ber..bahagialah...." ucap Rian kemudian terhenti, tangan Rian yang semula memegang pipi Kinara perlahan turun dan jatuh dengan posisi mata yang tertutup.
"Riannnnnnnn...." teriak Kinara secara spontan dengan disertai tangisan yang tidak bisa dia tahan lagi.
__ADS_1
Bersambung