
Kediaman Ardi dan Sila.
Pagi harinya deringan ponsel, mulai terdengar menggema memenuhi ruangan kamar membuat Ardi langsung terjaga dari tidurnya. Ardi yang masih belum bangun sepenuhnya dari tidurnya, lantas dengan gerakan perlahan mulai meraba ponselnya yang berada di atas nakas.
"Cepat angkatlah, aku ngantuk berisik banget suara ponsel mu itu!" ucap Sila dengan nada serak khas suara orang bangun tidur.
Ardi yang mendengar omelan dari Sila yang semula hanya meraba dan mencari ponselnya dengan enggan kini lantas langsung mengambil ponselnya dengan cekatan lalu menggeser ikon berwarna hijau di sana.
"Halo ada apa? bukankah ini masih pagi? kenapa kau sudah menganggu orang tidur." ucap Ardi dengan nada yang kesal kala sambungan telpon itu ia angkat.
"Maaf sebelumnya pak sekarang sudah pukul 10 dan bukan pagi lagi. Selain itu ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada anda." ucap sekertaris Ardi dengan nada lirih karena ia tahu tempramen bosnya sangatlah buruk.
"Baiklah katakan ada apa? awas saja kalau sampai tidak penting." ucap Ardi dengan nada yang kesal.
"Saham perusahaan kita terus anjlok sejak tadi pagi pak, setelah beredar rumor yang mengatakan bahwa anda telah memperkosa menantu anda sendiri dan rumah tangga anak anda berantakan karena anda. Beberapa investor mengeluh tentang ganti rugi dan meminta dana mereka segera di kembalikan." ucap sekertaris tersebut menjelaskan kondisi perusahaan yang saat ini sedang kacau.
"Siapa yang menyebarkan berita itu? kurang ajar! redam berita panas itu sebisa mungkin. Jika beberapa investor meminta pengembalian dana ulur saja dan minta keringanan kepada mereka. Jika tidak bisa, kita adakan rapat darurat bersama manager keuangan kita." ucap Ardi kemudian mencoba memberikan solusi kepada sekertarisnya.
"Em yang jadi masalahnya pak, manager keuangan kita telah kabur dengan membawa uang perusahaan pak. Saya sudah mencoba menelponnya berulang kali tapi tidak ada jawaban pak, ponselnya mati." jelasnya lagi dengan nada yang takut takut, ia tahu pasti Ardi akan marah besar sebentar lagi.
__ADS_1
"Benar benar b*ngs*t...!" teriak Ardi dengan kesal sambil membanting lampu tidur cukup keras hingga menimbulkan suara yang nyaring dan berisik, membuat Sila yang tengah tertidur lantas langsung bangkit karena terkejut mendengar suara gaduh barusan.
"Apa apaan kau ini?" tanya Sila dengan kesal.
"Perusahaan kita bangkrut ma!" ucap Ardi dengan nada datar membuat Sila yang baru bangun tidur lantas masih berpikir jika Ardi hanya mimpi buruk saja.
"Jangan bercanda pa, mungkin itu hanya bunga tidur jadi tidak perlu terlalu risau." ucap Sila dengan santainya.
"Kumpulkan semua surat surat berharga kita ma, setidaknya kita harus mulai berhitung." ucap Ardi kemudian dengan nada yang dingin membuat Sila terkejut bukan main kala mendengar kata kata Ardi barusan..
"Pa... mama sudah bilang jangan bercanda! mama tidak akan bergerak dan mengumpulkannya karena itu satu satunya harta kita. Jika perusahaan kita bangkrut, usaha dong cari bantuan kek atau dukungan, jangan hanya diam aja dan malah menguras harta benda kita." ucap Sila tidak terima dengan keputusan yang akan di ambil oleh Ardi.
"Ma yang jadi permasalahannya di sini adalah manager keuangan itu membawa lari uang perusahaan hingga semuanya raib dan tak tersisa, tidak hanya itu saja perusahaan kita itu termasuk kedalam perusahaan kecil dan masih berkembang. Jika langsung diterpa angin sebesar ini pasti tidak akan kuat menanggung beban yang ada, selain itu mana ada perusahaan besar yang mau mendukung perusahaan papa yang mau gulung tikar itu ma..." ucap Ardi tak kalah meninggi.
"Kalau mama tidak percaya terserah pada mama, yang jelas papa sudah berkata dengan jujur kali ini." ucap Ardi kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu kamar mandi secara kasar.
"Ini tidak bisa! aku harus mengamankan perhiasan ku, Ardi si suami tidak berguna itu tidak akan ku biarkan menyentuh perhiasan ku begitu saja." ucap Sila dengan bingung dan langsung bangkit ke arah brankas kecil miliknya.
*********
__ADS_1
Sementara itu di sebuah ruang kerja milik Kafeel, terlihat Rendy tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja kebesaran milik Kafeel. Sedangkan Kafeel yang tahu dan melihat kedatangan Rendy lantas mulai tersenyum karena ia tahu Rendy pasti membawa kabar baik untuknya.
"Katakan! aku sudah tidak sabar ingin mendengarnya." ucap Alder dengan senyum menyeringai seakan tak sabar mendengar berita yang akan di sampaikan oleh Rendy.
"Saham perusahaan Ardi terus mengalami penurunan bos sejak pagi tadi, aku yakin semua investor saat ini pasti sedang ketar ketir kala melihat penurunan saham yang semakin menurun dengan drastis dan terus menukik tajam. Bukan hanya itu saja, baik rumor maupun masalah tentang manager keuangan perusahaan tersebut semua sudah saya bereskan dengan rapi. Saat ini kita tinggal menunggu saja perusahaan itu benar benar bangkrut bos." ucap Rendy menceritakan garis besarnya dengan bangga kepada Kafeel.
"Beli semua aset miliknya yang di jual, kita harus memberitahukan padanya kalau dia telah menabuh genderang perang dengan orang yang salah." ucap Kafeel dengan tersenyum puas.
"Tentu bos, saya bisa pastikan malam nanti keduanya akan kehilangan rumah beserta asetnya." ucap Rendy dengan percaya diri.
Kafeel yang mendengar hal itu lantas langsung menatap bangga ke arah Rendy. "Bukankah kau terlalu sadis Ren, kau bahkan tidak memberi mereka tempat tinggal rupanya." ucap Kafeel dengan nada menggoda Rendy.
Namun Rendy yang mendengar ucapan Kafeel bukannya marah malah balas menggodanya, "Anda bisa saja bos, bukankah ini yang sedang anda tunggu tunggu?" balas Rendy sambil menggoda Kafeel.
"Kau benar, aku yakin si nenek lampir dan pria bangkotan itu pasti akan langsung ke rumah anaknya, tanpa keduanya sadari perlahan lahan mereka berdua akan menghisap habis darah anak mereka. Jika sudah begitu bukankah Nabila akan ikut hancur melihat Geffie yang ditempeli orang tuanya bagaikan lintah darat." ucap Kafeel kemudian, membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan apalagi jika sudah terjadi pasti akan sangat mengasikkan.
"Anda benar benar hebat bos." ucap Rendy sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Sekali tepuk dua tiga nyamuk mati dalam telapak tangan. Benar benar sangat menyenangkan." ucap Kafeel dengan tawa mulai menggema memenuhi hampir seluruh ruangan. Kafeel benar benar gembira saat ini, sungguh sangat gembira.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya ijin pamit bos." ucap Rendy kemudian, sedangkan Kafeel hanya menggerakkan jari tangannya dan mengisyaratkan kepada Rendy untuk meninggalkan ruangannya.
Bersambung