Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Bukankah masakan bunda lezat?


__ADS_3

Bau harum makanan mulai tercium memenuhi seluruh ruangan apartment milik Kinara. Seulas senyum terbit dari wajah Kinara kala melihat kedekatan Kafeel dan juga Delisha, seperti dugaannya kedatangan Kafeel membuat Delisha sangat bahagia. Entah mengapa melihat Delisha bahagia seperti itu, Kinara seperti merasa telah mengembalikan kebahagiaan Delisha yang dulu menghilang tepat ketika Geffie mulai berubah kala itu.


Kinara dan Nining lantas mulai meletakkan masakan mereka satu persatu di meja makan di susun dengan sedemikian rupa dan tentu saja cantik. Kinara melepas celemek yang melekat pada dirinya kemudian melangkah ke arah meja makan dan mulai berteriak memanggil Delisha dan juga Kafeel agar pergi ke meja makan.


"Delisha, Kaf ayo makan dulu masakan bunda sudah matang nih..." teriak Kinara sambil membuka piring Delisha dan mulai mengisinya.


Sedangkan Kafeel yang memang tengah asyik bermain dengan Delisha, gerakannya lantas terhenti kala mendengar teriakan Kinara barusan. Ya inilah keluarga impian yang selalu diinginkan oleh Kafeel ketika dirinya mulai menjalin bahtera rumah tangga bersama Nabila kala itu. Waktu itu Kafeel bahkan berusaha sangat keras untuk mewujudkannya, ia rela bangun pagi dan memasak demi bisa makan sarapan bersama dengan Nabila walau seharusnya Nabila lah yang melakukan hal itu. Hanya saja, ia selalu saja di buat kecewa kala Nabila hanya melewati meja makan dan mengatakan bahwa ia tengah buru buru. Bukankah Kafeel terasa sangat menyedihkan? seakan hanya dia seorang yang terlihat berusaha dan membangun rumah tangganya, sedangkan Nabila hanya acuh tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Kafeel.


"Andaikan aku lebih dulu bertemu dengan Kinara, apakah semuanya akan berubah?" tanya Kafeel dalam hati. "Ah sudahlah, bertemu dulu maupun sekarang aku akan tetap mengejarnya. Aku tidak akan pernah melepaskan batu intan begitu saja." imbuhnya kemudian sambil tersenyum.


"Om! kenapa melamun? bunda sudah memanggil dari tadi, ayo kita pergi sekarang om." ucap Delisha sambil menepuk pundak Kafeel yang lantas menyadarkannya dari lamunan.


"Eh iya... ayo kita segera ke sana, masakan bunda Delisha pasti sangat lezat, ya kan?" ucap Kafeel kemudian seraya bangkit dan menuntun Delisha menuju meja makan.


Keempatnya lantas memulai kegiatan makan mereka dengan khidmat tak ketinggalan juga Nining yang juga ikut meramaikan meja makan, sejak dulu Kinara memang tidak membeda bedakan seorang dan selalu mengijinkan Nining untuk makan semeja dengannya, hanya saja karena Geffie tak terlalu menyukainya, jadilah Nining memilih untuk makan sendiri di dapur jika keluarga itu tengah makan. Namun setelah Kinara memutuskan untuk pergi dari Geffie, tidak ada lagi kata Nining makan sendiri di belakang karena Kinara tidak menyukai hal itu.


"Tambah lagi lauknya om, masakan bunda enak kan?" ucap Delisha ketika melihat Kafeel makan dengan nikmatnya.


"Yap Delisha benar, jika om di suruh menilai om akan kasi 6 jempol untuk masakan bunda." ucap Kafeel.


"Kok enam om? jari tangan kita kan hanya ada dua." ucap Delisha nampak berpikir keras.


"Iya enam, dua jempol tangan om, dua jempol kaki om, dan dua lagi milik Delisha." ucap Kafeel yang lantas membuat semua orang yang ada di meja makan tertawa kala mendengarnya, apalagi ketika melihat ekspresi Delisha yang menggemaskan.


Obrolan demi obrolan terus terdengar menemani kegiatan makan mereka, Delisha begitu aktif berbicara. Padahal ketika dulu, Delisha selalu menjaga perkataannya karena memang Geffie tak menyukai mengobrol sambil makan kecuali ada hal hal penting yang memang harus di bicarakan saat itu juga. Mungkin hal inilah yang membuat Delisha kini bisa lebih terbuka apalagi mengingat Kafeel yang tidak terlalu banyak aturan dalam segala hal.

__ADS_1


Setelah selesai makan Kafeel memutuskan untuk pulang ke unit apartemennya, hari ini benar benar sangat menyenangkan bagi ketiganya.


"Om besok datang lagi ya om?" ucap Delisha ketika melihat Kafeel hendak pergi.


"Tentu saja, asalkan Delisha bisa memberikan nilai A+ pada salah satu mata pelajaran." ucap Kafeel kemudian.


"Om itu susah, bagaimana kalau A saja ya ya..." tawar Delisha.


"Tidak akan susah kalau Delisha mau bersungguh sungguh, semangat ya... om menantikannya." ucap Kafeel kemudian melenggang pergi dari sana.


"Bunda apa aku bisa mendapatkannya?" tanya Delisha kemudian setelah kepergian Kafeel dari sana.


Mendengar hal itu Kinara mengusap perlahan rambut anaknya. "Jika Delisha mau berusaha pasti itu akan sangat mudah walau sesuatu yang sulit sekalipun." ucap Kinara memberikan pengertian.


"Baiklah kalau begitu Delisha akan berusaha." ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


********


Malam harinya.


Nabila terbangun karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya terlebih lagi area k*wan**aannya. Nabila perlahan bangkit dan menatap sekitar mencari keberadaan Geffie namun tidak ada di mana pun.


Nabila menatap miliknya karena penasaran akan rasa sakit yang di timbulkan, ada noda darah yang sudah mengering di bagian pinggirnya. Mungkin ini terjadi karena Geffie yang terus memaksa Nabila dan bermain kasar tadi siang. Nabila berdecak kesal kala mengetahui ada bagian yang sobek di area miliknya.


"Sialan si Geffie! dia pikir milikku ini apaan? hingga sampai seperti ini." gerutu Nabila dengan kesal. "Lagi pula ke mana perginya dia? aku kini bahkan sudah mirip dengan j*l*ng yang setelah di pakai kemudian di buang dan ditinggal begitu saja. Benar benar menyebalkan." imbuhnya lagi.

__ADS_1


Nabila kemudian dengan gerakan perlahan mulai bangkit dan berjalan dengan terseyot seyot ke kamar mandi menahan rasa sakit yang teramat pada miliknya.


*********


Unit apartment Kafeel.


Kafeel terlihat termenung di sofa sambil menatap pemandangan malam yang menakjubkan dari kaca jendela. Pikirannya melayang jauh memutar kembali memori tadi siang di mana ia bermain dan makan bersama Delisha dan juga Kinara. Benar benar sangat mengasyikan, seulas senyum tak henti hentinya terbit dari wajah tampan milik Kafeel.


"Aku tidak akan membiarkan kebahagian itu menghilang dari kalian. Delisha dan Kinara saat ini mereka akan menjadi prioritas ku." janji Kafeel.


Kafeel kemudian lantas mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Rendy di sana.


"Halo bos" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Aku mau kau lakukan sesuatu besok!" ucap Kafeel dengan nada yang dingin.


"Apa ini tentang Ardi bos?" tanya Rendy.


"Ya, bukankah mudah menghancurkan perusahaan kecil miliknya itu? aku yakin kamu sudah ahli dalam hal ini." ucap Kafeel dengan senyum menyeringai.


"Bos bisa saja, tentu saya akan mengerjakannya sebaik mungkin bos." ucap Rendy dengan nada yang yakin membuat Kafeel lantas tertawa mendengarnya.


"Hahahaha bagus! semakin kamu membuatnya jatuh aku akan menambahkan bonus untuk mu." ucap Kafeel sambil tertawa membuat Rendy yang mendengarnya lantas semakin bersemangat dalam mengerjakannya.


"Tentu saja bos." ucap Rendy kemudian terdengar sambungan telpon diputus oleh Kafeel.

__ADS_1


"Punya asisten satu kenapa suka sekali di beri bonus? hem tapi gak papa hitung hitung sebagai penyemangat dia dalam bekerja."ucap Kafeel pada diri sendiri.


Bersambung


__ADS_2