
Di ruang tamu
Terlihat Rian dan juga Kafeel sedang duduk dengan perasaan yang campur aduk di hati keduanya. Baik Rian maupun Kafeel hanya diam dan tak lagi ribut, seakan keduanya sedang bergemelut dengan pikirannya masing masing.
Ratih menatap wajah keduanya dengan perasaan yang cemas, melihatnya sekilas saja Ratih sudah langsung tahu bahwa kedua putranya ini sedang memperebutkan wanita yang sama. Takdir macam apa ini? yang mempertemukan keduanya dengan cara seperti ini.
"Haruskah aku bahagia? atau malah khawatir ketika melihat keduanya seperti ini?" ucap Ratih dalam hati sambil terus menatap ke arah keduanya.
Kinara yang merasa tidak enak dengan Ratih lantas mulai berjalan mendekat ke arah Ratih yang masih menunggu penjelasan dari keduanya sedari tadi.
"Ibu istirahatlah, biar Ara yang menyelesaikan ini." ucap Kinara dengan lembut membuat Ratih lantas mendongak menatap ke arahnya.
"Duduklah Ra, ibu harus mengajari dua anak ini sesuatu agar kedepannya tidak lagi terjadi hal seperti ini." ucap Ratih dengan tegas membuat Kinara tidak bisa membantah dan pada akhirnya mengikuti perkataan Ratih yang menyuruhnya untuk duduk.
"Jadi sekarang jelaskan pada mama apa yang terjadi." ucap Ratih kemudian.
Baik Kafeel dan Rian yang mendengar hal itu lantas mulai menyiapkan jawabannya, keduanya kini bahkan seperti tengah di sidang oleh orang tuanya ketika tertangkap basah melakukan sebuah kenakalan.
"Aku hanya mampir ke rumah Kinara dan hendak memakan martabak bersama, saat Kinara ke dapur sedang memanaskan martabaknya dia lantas tiba tiba datang dan memancing keributan." ucap Rian sambil menatap tajam ke arah Kafeel.
"Bukan seperti itu ceritanya ma..." ucap Kafeel hendak menyela namun terhenti karena sadar akan panggilan yang ia berikan untuk Ratih barusan.
Baik Kinara maupun Rian yang mendengar panggilan itu keluar dari mulut Kafeel tentu saja terkejut, sedangkan Ratih yang mendengar Kafeel memanggilnya mama lantas tersenyum, Ratih bersyukur karena Kafeel masih mengenalinya walau bertahun tahun silam.
__ADS_1
"Ma? tidak mungkin ini sesuai apa yang ada di pikiran ku bukan?" ucap Kinara dalam hati bertanya tanya sambil menatap bingung ke arah Kafeel, sedangkan Kafeel lantas terdiam dengan sedikit menunduk.
"Jangan panggil mama ku dengan sebutan itu! kau sungguh tidak pantas menyebutnya!" ucap Rian dengan kata kata yang tegas membuat Kafeel lantas menatapnya dengan tajam.
Ratih yang mendengar hal itu lantas langsung menatap tajam ke arah Rian seakan memperingatkan putranya itu agar tidak mengatakan hal yang menyinggung perasaan Kafeel lagi.
"Rian jaga bicara mu, sopan lah sedikit pada kakak mu!" ucap Ratih memperingatkan.
"Kakak?" ucap Kafeel dan juga Kinara secara bersamaan seakan terkejut ketika mendengar ucapan Ratih barusan.
"Cih kakak? dia bukan kakak ku ma, sifat kami berdua bahkan sangat bertolak belakang..." ucap Rian menyangkalnya namun langsung mendapat tatapan tajam dari Ratih.
"Rian ku bilang sopan lah sedikit, apa kamu tidak mendengar perkataan mama?" ucap Ratih kembali mengingatkan.
"Bukankah mama perlu menjelaskan sesuatu kepada Kafeel?" ucap Kafeel kemudian dengan nada yang berharap.
Ratih yang sudah tidak ingin menutupinya kembali lantas mulai menceritakan segalanya kepada Kafeel, di mulai sejak cintanya dan juga Adhitama yang tidak mendapat restu, perlakuan Arsa kepadanya selama masa pernikahan, sidang perceraian dan juga kehamilan Rian yang tidak di ketahui oleh Adhitama dan juga Arsa. Ratih menceritakan semuanya secara runtut tanpa ada yang di tutup tutupi olehnya, membuat Kafeel, Rian dan juga Kinara yang mendengar hal itu lantas terdiam seketika. Ketiganya merasa bingung akan berpendapat apa setelah mengetahui keseluruhan ceritanya.
Kafeel menatap sekilas ke arah Rian begitu juga sebaliknya. Kafeel tidak menyangka takdir mempertemukan keduanya dengan cara yang seperti ini. Benar benar bukan sesuatu yang baik ketika keduanya mengetahui mereka bersaudara.
Sebenarnya Rian bukan tidak mengetahui bahwa Kafeel adalah saudara kandungnya. Di saat ia mengetahui tentang Adhitama tentu saja Rian harus bersiap dengan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi seperti saat ini.
Ketika keempatnya sedang dalam posisi keheningan dan menyelami pikiran mereka masing masing, sebuah suara langkah kaki lantas membuat keempatnya mendongak menatap ke arah ambang pintu.
__ADS_1
"Aku tahu kamu pasti punya alasan ketika pergi dari ku bu..." ucap sebuah suara yang berasal dari ambang pintu rumah Kinara.
"Papa.." ucap Kafeel dengan lirih ketika melihat Adhitama berada di sini.
"Ada apa lagi ini?" ucap dalam hati Kinara yang bingung dengan drama keluarga mereka yang terus berkelanjutan. "Sepertinya aku yang orang luar tidak pantas ada di sini mendengarkan cerita mereka, tapi jika aku tiba tiba bangkit dan masuk ke dalam kamar itu pasti akan menyita perhatian mereka dan tentu saja sangat canggung sekali, apa yang harus aku lakukan?" ucap Kinara lagi dalam hati bingung harus bereaksi bagaimana.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ratih kemudian.
"Aku datang untuk memperbaiki segalanya, aku tahu ada yang aneh ketika aku melihat nama Rian tadi sore disaat kami berdua tidak sengaja bertemu. Antara yakin dan tidak yakin tapi aku berharap itu kenyataannya." ucap Adhitama dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh keempatnya.
Rian yang mendengar hal itu lantas bangkit dan menggenggam tangan ibunya mengajaknya untuk bangkit dan pergi dari sana.
"Ayo kita pulang ma sudah larut malam." ucap Rian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Ratih.
Keduanya lantas bangkit dan berjalan keluar dari rumah kontrakan Kinara, tidak ada yang bisa menghentikan keduanya pergi dari sana termasuk Kafeel yang hanya diam sedari tadi.
Adhitama yang mengetahui kepergian keduanya lantas menarik tangan Ratih berniat menghentikan langkah keduanya.
"Aku mohon bu... jika mama masalahnya aku bisa membawa mu pergi jauh dari mama dan kita bisa kembali bersama." ucap Adhitama meyakinkan Ratih.
Rian yang melihat Adhitama menahan tangan ibunya lantas perlahan melepaskan tangan itu dari tangan Ratih.
"Sudah terlambat pak, anda pikir luka mama ku akan sembuh hanya dengan pergi menjauh dari ibu anda, tentu saja tidak bukan? jadi saya mohon untuk anda pak, biarkan kami menjalankan kehidupan kami masing masing seperti tahun tahun yang sebelumnya." ucap Rian dengan nada yang penuh hormat kepada Adhitama, namun bukan sebagai seorang anak kepada ayahnya melainkan seseorang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua darinya.
__ADS_1
"Rian aku ini papa mu, kamu tidak bisa memperlakukan papa seperti ini." ucap Adhitama dengan nada yang memelas membuat Rian lantas tersenyum sinis ketika mendengarnya.
Bersambung