Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Dipermainkan


__ADS_3

Di dalam mobilnya Rendy terlihat menyandarkan tubuhnya sejenak dari penatnya masalah bertubi tubi yang datang menimpa bosnya secara terus menerus. Ya mungkin inilah nasib seorang bawahan di mana bosnya yang terkena masalah tapi ia yang harus membereskannya.


"Mengapa rasanya sulit sekali mencari uang, gini amat perasaan." ucap Rendy menggerutu namun tidak bisa berbuat apa apa selain hanya mengerjakannya.


Disaat Rendy tengah beristirahat sejenak sebuah bunyi notifikasi ponselnya terdengar, membuatnya dengan spontan langsung membenarkan posisinya dan melihat ke arah layar ponsel miliknya.


Seulas senyum terlihat mulai menghiasi wajah Rendy setelah melihat isi dari pesan tersebut. Tanpa ingin membuang waktu lagi, Rendy kemudian lantas mendial nomor Kafeel di sana.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Bos saya sudah menemukan petunjuk, saat ini Rian tengah terlihat di kantornya, saya..." ucap Rendy namun terpotong karena tiba tiba Kafeel memutus panggilan teleponnya secara sepihak sebelum Rendy menyelesaikan ucapannya. "Halo bos... bos?" panggil Rendy namun sama sekali tak ada jawaban di sana membuat Rendy kesal dan lantas melempar ponselnya ke bangku sebelahnya.


"Apes apes punya bos kok emosinya naik turun, untung aku betah kerja sama dia..." ucap Rendy sambil mengelus dadanya mencoba menenangkan dirinya sendiri kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.


*****


Sementara itu Kafeel yang memang saat ini dalam posisi menyetir lantas langsung membanting setirnya putar haluan menuju kantor firma hukum tempat di mana Rian bekerja.


"Aku tidak akan membiarkan mu lolos kali ini" ucap Kafeel sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota menuju kantor firma hukum tempat Rian bekerja.


**


Firma hukum


Terlihat Kafeel keluar dari mobilnya dengan langkah yang terburu menuju ke arah ruangan kerja Rian. Kafeel yang memang tengah kesetanan lantas membuka pintu ruangan Rian dengan kasar hingga membuat Rian yang tengah sibuk dengan beberapa laporan yang menumpuk di mejanya sedikit tersentak ketika mendengar bunyi dobrakan pintu barusan.

__ADS_1


Melihat Kafeel yang datang dengan kesetanan Rian malah tersenyum sinis dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya dengan sangat santai.


"Ada apa bapak Kafeel yang terhormat? apa ada masalah hukum yang perlu saya bantu untuk menyelesaikannya?" tanya Rian sengaja dengan nada yang di buat buat karena jujur ia sangat bahagia ketika melihat seorang Kafeel yang angkuh ke sana ke mari mencari sesuatu dengan frustasi.


Mendengar hal itu Kafeel lantas menggebrak meja sambil menatap tajam ke arah Rian yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Katakan padaku sekarang! di mana kau sembunyikan Kinara?" ucap Kafeel kemudian berusaha untuk tetap berpikir waras walau sebenarnya Kafeel ingin sekali menghajar pria di hadapannya ini.


"Harusnya kalau kau mencari orang hilang itu di kantor polisi bukan disini." ucap Rian dengan santainya yang malah membuat Kafeel naik pitam mendengar hal itu.


"Katakan padaku, bukankah itu mudah? ini juga tidak ada hubungannya dengan mu. Biarkan aku bertemu dengan Kinara." ucap Kafeel penuh penekanan.


"Kenapa kau marah? aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padamu. Sayang sekali kau tidak memintanya secara baik baik." ucap Rian kemudian sambil tersenyum.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Kafeel kemudian dengan nada yang lebih lirih.


Mendapat pertanyaan tersebut Rian nampak tersenyum kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke depan beberapa langkah.


"Apa ya? mungkin seperti kau harus berlutut di hadapan ku, apa kau yakin bisa memenuhinya?" ucap Rian kemudian dengan senyum mengejek.


Kafeel menatap tajam ke arah Rian ketika mendengar permintaan tersebut dari mulut Rian barusan.


"Kau benar benar gila!" hardik Kafeel dengan nada yang penuh amarah karena merasa di permalukan oleh Rian.


"Terserah padamu, aku tidak akan memaksa." ucap Rian santai sambil melipat kedua tangannya dan menyandarkannya ke dada.

__ADS_1


Kafeel nampak terdiam sejenak dan mulai berpikir. Sampai kemudian Kafeel memutuskan untuk mundur beberapa langkah dan terdiam sebentar di sana seperti tengah menimang timang keputusan apa yang akan ia ambil. Hingga kemudian dengan gerakan perlahan Kafeel mulai bersimpuh dan berlutut menatap ke arah bawah, membuat Rian yang tadinya mengira Kafeel tidak akan menuruti ucapannya lantas sedikit di buat terkejut ketika melihat apa yang di lakukan Kafeel barusan.


"Aku mohon bantu aku, aku sudah tidak tahu lagi di mana harus mencari Kinara, aku benar benar bersalah karena tidak mendengarkan penjelasannya tempo hari." ucap Kafeel kemudian sambil sedikit menunduk seakan menyimpan dan mengunci luka terdalam yang mulai menggerogoti hatinya.


"Cih kau kira kau keren dengan begitu? sampai kapan pun walau kau mengiba sekalipun aku tidak akan pernah luluh kepada mu." ucap Rian dengan nada yang dingin membuat Kafeel lantas langsung mendongak menatap tajam ke arah Rian.


"Benar benar sialan pria ini, apa sebenarnya yang dia inginkan?" ucap Kafeel dalam hati dengan raut wajah yang merah padam.


Kafeel yang sudah sengaja menurunkan egonya dengan berlutut di hadapan Rian, lantas kembali marah dan kesal ketika ternyata Rian hanya mempermainkannya saja sedari tadi.


Kafeel yang sadar dirinya di permainkan lantas bangkit dan langsung mendekat ke arah Rian dengan melayangkan satu pukulan cukup keras ke arah sudut bibir Rian, hingga membuatnya lantas langsung menoleh ke kanan dengan posisi yang mundur beberapa langkah namun tidak sampai jatuh karena Rian masih bisa mengontrol tubuhnya dari serangan Kafeel barusan yang tiba tiba.


"Kau benar benar kurang ajar! aku bahkan sudah menuruti perkataan mu dan ini balasan mu pada ku?" ucap Kafeel dengan nada yang dingin sambil menatap tajam ke arah Kafeel.


"Aku bahkan tidak pernah meminta mu melakukannya, tadi aku hanya mengatakan seperti berlutut namun ternyata kau malah sungguh sungguh melakukannya, bukankah itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ku?" ucap Rian dengan santainya.


"Ternyata aku salah dengan datang ke sini, harusnya aku tidak percaya dan berharap banyak padamu, nyatanya kau bahkan malah mempermainkan diri ku seperti tadi!" ucap Kafeel dengan nada yang penuh penekanan, apa yang di lakukan oleh Rian benar benar sangat keterlaluan, di saat Kafeel benar benar berharap Rian akan memberitahunya mendadak sirna berganti dengan tatapan kebencian ketika menatap ke arah di mana Rian berada.


"Kenapa kau serius sekali? lagi pula aku hanya bercanda tadi." ucap Rian sambil sedikit tersenyum ketika melihat ekspresi dari Kafeel barusan.


Kafeel yang melihat wajah tengil Rian lantas langsung melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Rian dengan wajah yang tidak bisa lagi tergambarkan.


"Kamu akan ku buat merasakan bagaimana rasanya ibuku setiap malamnya selalu menangisi tentang keluarga mu itu. Cih bahkan air mata ibu ku lebih berharga dari pria itu." ucap Rian kemudian setelah kepergian Kafeel dari sana meninggalkan ruangannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2