Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Mungkin aku hanya gugup


__ADS_3

Setelah kepergian Ardi dari kantor, Damar lantas tertawa dengan cekakakan hingga memenuhi ruangan kantornya. Tanpa ingin membuang momen ini, Damar lantas langsung merogoh saku jasnya dan mendial nomor Kafeel di sana.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Gila kau bro benar benar luar biasa hahaha." ucap Damar sambil tertawa membuat Kafeel yang tidak tahu apa apa lantas hanya bingung mendengar tawa Damar di seberang sana.


"Jika kau menelpon ku hanya untuk mendengar tawa mu sebaiknya ku tutup saja." ucap Kafeel kemudian dengan ketus membuat Damar lantas langsung menghentikan tawanya ketika mendengar ucapan Kafeel barusan.


"Maaf bro ini terlalu menyenangkan hingga membuat ku tidak bisa berhenti tertawa." ucap Damar kemudian.


"Tentang apa ini sebenarnya?" tanya Kafeel dengan penasaran.


"Tidak ku sangka ternyata kau sadis juga, kau bahkan sampai membuat daftar hitam untuk mantan mertua Kinara agar tidak bisa di terima di perusahaan manapun, gila kau sih." ucap Damar seakan bangga akan perbuatan yang di lakukan oleh Kafeel kepada mantan mertua Kinara.


Mendengar hal tersebut Kafeel lantas tersenyum yang tentu saja tidak akan bisa di lihat oleh Damar. "Ini bahkan bukan pertama kalinya, kenapa kau heboh sekali?" ucap Kafeel dengan santainya.


"Ya ya ya aku akui kehebatan mu dalam menghancurkan bisnis orang lain, benar benar sesuatu yang patut untuk di banggakan." ucap Damar memuji.


"Apa kamu ingin mencobanya? jika kau mau aku bisa melakukannya dalam semalam." ucap Kafeel menggoda Damar.


Damar yang mendengar hal itu lantas langsung menelan salivanya dengan kasar, membayangkan bagaimana jika Kafeel benar benar menghancurkan perusahaannya dalam semalam, sudah dapat di pastikan bahwa Damar pasti akan langsung menjadi gembel bukan?


"Bercanda mu gak lucu bro... yang bener aja kita kan soulmate, aku yakin kamu tidak setega itu." ucap Damar kemudian.


"Em tidak juga, tergantung bagaimana kamu menempatkan posisi mu." ucap Kafeel yang lagi lagi membuat Damar tercengang.


"Halo apa Kaf... halo... aku sama sekali tidak mendengar mu... Kaf... Kaf..." ucap Damar dengan berpura pura seperti kehilangan sinyal kemudian dengan segera memutus sambungan telponnya.

__ADS_1


"Gila sih kain pel masak temennya yang tampan ini mau di embat juga, tidak bisa... gue belum siap dan gak mau menjadi gelandangan nantinya." ucap Damar pada diri sendiri setelah panggilan teleponnya di putus olehnya.


*******


Kediaman Geffie


Ardi masuk ke dalam rumah dengan wajah yang kesal, baginya apa yang di lakukan oleh Damar adalah sebuah penghinaan. Ardi mendudukkan dirinya di sofa kemudian menarik dasinya ke kanan dan ke kiri dengan kasar lalu melepasnya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Ada apa dengan wajah papa, bukankah tadi papa pergi dengan wajah yang sumringah sambil terus mengatakan mendapat pekerjaan?" ucap Geffie dari arah kamarnya melangkah mendekat ke arah Ardi berada.


"Kau... tumben jam segini ada di rumah." ucap Ardi mengalihkan pembicaraan ketika melihat Geffie ada di rumah.


"Ada beberapa file yang tertinggal dan aku datang untuk mengambilnya." ucapnya dengan nada datar.


"Oh" jawab Ardi dengan singkat.


Geffie yang tahu papanya tidak akan menjawab pertanyaannya barusan lantas langsung melenggang pergi dari sana, hanya saja baru beberapa kali melangkah Geffie lantas menghentikan langkahnya karena teringat akan sesuatu.


"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Ardi kemudian.


Mendapat pertanyaan itu Geffie lantas tersenyum. "Papa... papa... itu sudah menjadi rahasia umum yang di ketahui oleh seluruh perusahaan di negeri ini, walau aku hanyalah seorang pegawai tapi aku tidaklah bodoh sampai sampai tidak mengetahui hal itu." ucapnya kemudian yang lantas membuat raut wajah Ardi menjadi merah padam.


Setelah puas mengejek sang papa, Geffie lantas melanjutkan kembali langkahnya karena memang niat awalnya pulang hanyalah untuk mengambil file yang tertinggal dan bukan untuk bertemu dengan Ardi.


"Kafeel sialan! bagaimana bisa aku kalah hanya karena bocah ingusan seperti dia." ucap Ardi dengan kesal sambil menendang meja yang ada di depannya saking kesalnya.


********

__ADS_1


Keesokan harinya


Di sebuah ruang kamar yang sudah di hias dengan begitu cantiknya layaknya seperti kamar kamar pengantin pada umumnya yang terdapat bunga bunga cantik di atas tempat tidur terlihat Kinara baru selesai di make up.


Beberapa orang terlihat berhamburan keluar setelah menyelesaikan tugasnya. Kini hanya tersisa Kinara sendirian di sana, Kinara mematut dirinya di cermin.


"Apakah aku benar benar siap?" tanya Kinara pada diri sendiri sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Ada sedikit perasaan yang mengganjal di hatinya sejak tadi pagi. Kinara tidak tahu pasti apa itu, hanya saja Kinara seperti merasa akan terjadi sesuatu hal besar yang merugikan. "Mungkin aku hanya gugup." ucapnya kemudian menenangkan dirinya sendiri.


Tok tok tok


Sebuah suara pintu di ketuk dari luar membuat Kinara lantas bertanya tanya siapa itu. Tidak beberapa lama seorang pramusaji atau petugas room service nampak mendorong troli dan masuk ke dalam kamar dengan tersenyum membuat Kinara lantas bingung apa yang akan dilakukannya.


"Permisi bu, pak Kafeel tadi menyuruh saya untuk mengantarkan makanan ini pada anda dan berpesan agar anda memakannya sebelum acara di mulai." ucapnya


"Iya nanti saya makan, saya sedang tidak lapar sekarang." ucap Kinara.


Mendengar penolakan dari Kinara petugas itu nampak terdiam seperti berpikir sejenak.


"Maaf bu tapi setidaknya anda bisa minum teh hangat ini saja karena jika tidak saya akan kena marah oleh pak Kafeel nantinya." ucapnya lagi.


Mendengar hal itu Kinara lantas menghela nafasnya panjang, dalam pikirannya terselip rasa kasian pada petugas itu jika sampai ia dimarahi hanya karena masalah ini mengingat sifat Kafeel yang terkesan memaksa dan tidak ingin di bantah.


Kinara kemudian lantas bangkit dan meminum teh tersebut beberapa teguk lalu kembali ke kursinya.


"Makanannya kamu taruh saja di dekat ranjang, nanti saya makan." ucap Kinara kemudian yang di balas anggukan oleh petugas tersebut.


Kinara menatap dirinya kembali ke cermin dan mengambil nafas berulang kali di sana. Hanya saja tak berselang lama entah mengapa mendadak matanya terasa sangat berat, Kinara bahkan sampai menguap beberapa kali saking tidak bisa menahan kantuknya.

__ADS_1


"Ada apa ini? kenapa aku mengantuk sekali?" ucap Kinara dengan lirih sampai kemudian perlahan kepalanya jatuh di meja dan tak bergerak sama sekali.


Bersambung


__ADS_2