Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Kehilangan segalanya


__ADS_3

Di sebuah lapas yang terkenal dengan penjahat kelas kakapnya, Geffie di tuntun untuk melangkahkan kakinya menyusuri lorong lorong gelap penjara. Di sepanjang jalan banyak sekali orang orang yang berwajah sangar dan juga bertato, membuat Geffie yang baru saja masuk merasakan sebuah atmosfir yang aneh ketika melangkahkan kakinya semakin dalam.


"Ini adalah tempat mu tidur selama di sini, cobalah untuk berteman dan jangan mencari keributan." ucap seorang petugas polisi yang kemudian lantas melenggang pergi setelah memastikan Geffie berada di dalam.


Setelah kepergian petugas polisi tersebut, Geffie lantas langsung bersandar pada dinginnya tembok lapas. Di tatapnya dinding lapas dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.


"Satu kesalahan membuat aku kehilangan segalanya, satu perselingkuhan membuat aku menderita dan seketika menjadikan ku bukan lagi siapa siapa. Delisha... apa kamu masih mau menerima ayah yang seperti ini?" ucapnya dengan lirih sambil menatap kosong ke arah dinding lapas.


Dalam persidangan kasus Geffie kemarin, hakim memutuskan Geffie bersalah dan di hukum selama 5 tahun penjara. Awalnya Geffie hanya mengganggap hal itu hanya hukuman ringan karena ia berkaca pada para pejabat yang memakan uang rakyat dan di hukum di penjara yang layaknya seperti hotel bagi mereka. Namun nyatanya entah mengapa Geffie malah berakhir di lapas ini? bagi Geffie ini sangatlah aneh mengingat lapas ini berisi para penjahat kelas atas, sedangkan dia bahkan tak pernah sekalipun membunuh orang dan malah berakhir di sini.


Di sudut ruangan yang sama dengan Geffie, nampak seseorang tengah menggeliat bangun dari tidurnya. Perlahan pria itu nampak bangun dan menatap Geffie dengan seksama sambil menggaruk garuk tubuhnya. Melihat hal itu Geffie hanya diam tak bereaksi apapun.


"Penghuni baru, apa kesalahan mu?" tanyanya sambil menatap penasaran ke arah Geffie.


"Penggelapan dana" ucap Geffie dengan singkat.


Mendengar hal itu pria ini lantas tertawa terpingkal pingkal seakan sedang menertawakan jawaban Geffie barusan.


"Sepertinya kau telah menyinggung seseorang hingga berakhir di sini. Tidakkah kau melihat para koruptor yang menggelapkan uang rakyat? mereka bahkan masih bisa bersenang senang walau sudah seperti itu. Dan kau... malah berakhir di sini hahaha." ucapnya dengan nada yang mengejek membuat Geffie terdiam dan semakin kesal di buatnya.


"Sudahlah jangan hiraukan aku, aku tidak ingin di ganggu saat ini!" ucap Geffie dengan nada yang datar.


Pria tersebut yang mendengar ucapan Geffie barusan lantas terdiam dan menatap tak suka ke arah Geffie. "Kau jangan berlagak sombong jika ingin keluar dari sini secara utuh! kau tidak pernah tau seberapa buruknya lapas ini!" ucapnya kemudian dengan senyum menyeringai namun Geffie seakan acuh tak acuh dalam menanggapinya.


****


Unit apartment Kafeel


Rendy melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kafeel yang tengah duduk termenung di meja makan sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.

__ADS_1


"Bos" panggil Rendy dengan lirih, Kafeel yang mendengar hal itu lantas hanya melirik sekilas ke arah Rendy sambil menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya.


"Katakan ada apa lagi kali ini?" tanya Kafeel kemudian dengan nada yang datar.


"Pengadilan sudah memutuskan Geffie di hukum selama lima tahun penjara dan di pindahkan ke lapas taruna hari ini juga tuan." ucap Rendy memberikan laporan.


"Bagus" jawabnya dengan singkat sambil kembali menghisap rokoknya. "Lalu bagaimana dengan ular itu?" tanya Kafeel kemudian.


"Saya sudah memblock semua koneksi jobnya bos dan memasukkannya ke daftar hitam, saya yakin tidak akan ada yang mau mempekerjakannya kecuali dia menjadi simpanan atau sugar baby para pengusaha kotor." ucap Rendy lagi.


"Biarkan saja begitu, bukankah dia memang suka menjelajah? aku terlalu baik karena memberikannya hukuman seperti itu. Kita lihat apakah dia masih bisa berulah walau sudah terjatuh?." ucap Kafeel kemudian tersenyum sinis ketika mendapat laporan tentang Nabila.


Kali ini Kafeel sedikit lebih tenang dan kalem dalam menanggapi masalah. Hanya saja semenjak pernikahannya gagal dan juga kepergian Kinara, kini Kafeel menjadi perokok berat dan sering mabuk mabukan, seakan akan terlihat sebagai pelampiasan akan perasaannya yang tengah hancur karena keegoisannya sendiri.


Rendy yang melihat kebiasaan Kafeel baru baru ini hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apa apa. Ada perasaan bersalah yang menguar dalam dirinya ketika melihat bosnya seperti ini. Seakan kelalaian tugasnya yang kemarin membawa dampak yang besar dan begitu buruk bagi bosnya.


"Apa lagi?" tanyanya dengan singkat.


"Bos besar ada di Indonesia, pagi tadi dia mendarat namun langsung pergi menuju salah satu kota yang ada di Jawa timur." ucap Rendy dengan singkat.


Kafeel menghela nafasnya panjang mendengar laporan dari Rendy barusan. Seakan Kafeel tahu apa yang tengah ayahnya lakukan di sana saat ini.


"Biarkan saja, lagi pula aku ingin melihat apakah kali ini dia berhasil atau tidak?" ucap Kafeel dengan nada yang santai membuat Rendy sedikit bingung akan reaksi yang di berikan Kafeel barusan.


*****


Kembali kepada Kinara


Setelah bersenang senang di taman bunga, keempatnya kemudian memutuskan untuk mencari tempat sedikit melipir dan mulai berpiknik di sana.

__ADS_1


Terlihat Kinara mulai menyusun satu persatu makanan ringan dan beberapa buah potong yang ia bawa dari rumah untuk di makan sambil menikmati suasana tempat itu yang begitu indah.


Delisha sangat menikmati jalan jalannya kali ini, sepertinya gadis kecil itu terlihat bahagia.


"Mbak aku mau ke sana!" ajak Delisha sambil menunjuk sebuah ayunan yang terletak tidak jauh dari mereka.


Kinara yang melihat hal itu lantas tersenyum, ia kemudian memberikan sekotak buah potong kepada Nining untuk dibawanya.


"Pergilah Ning, makan ini bersama Delisha di sana." ucap Kinara dengan lembut.


"Baik bu" ucap Nining kemudian bangkit dan mengikuti arah tunjuk Delisha.


Setelah kepergian Delisha dan juga Nining dari sana, perasaan canggung mulai menyapa keduanya membuat mereka sama sama terdiam pura pura menikmati pemandangan.


Ra...


Yan...


Panggil keduanya secara bersamaan membuat Kinara maupun Rian langsung terdiam ketika mendengar hal itu.


"Kamu saja duluan." ucap Rian kemudian dengan lirih.


"Tak perlu, kamu saja..." ucap Kinara kemudian sambil menggeleng pelan.


Rian nampak tersenyum sekilas melihat tingkah Kinara barusan. "Aku... aku kemarin bertemu dengan Kafeel ketika berkunjung ke ibu kota." ucap Rian kemudian langsung menghentikan gerakan tangan Kinara yang sedang menata beberapa buah potong di piring kecil untuk di berikan kepada Rian.


"Kafeel?" ucapnya dalam hati dengan perasaan yang tidak menentu, entah mengapa jantungnya terasa sedikit berdenyut ketika nama itu kembali terdengar di telinganya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2