Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Mama...


__ADS_3

Kediaman Kinara


Setelah memastikan Delisha sudah tertidur di kamar, Kinara lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar Delisha.


"Pergilah istirahat dulu Ning masih ada yang harus aku kerjakan." ucap Kinara yang di balas anggukan kepala oleh Nining.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk dari luar membuat Kinara lantas mengerutkan keningnya dengan bingung ketika mendengarnya. Ditatapnya jam dinding yang tergantung di tembok kontrakannya.


"Jam 10? siapa yang bertamu malam malam begini?" tanya Kinara pada dirinya sendiri.


Tok tok tok


Mendengar pintu kembali di ketuk, Kinara kemudian lantas melangkahkan kakinya kembali menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang berkunjung ke rumahnya kali ini. Di bukanya perlahan pintu rumah dan terlihat Rian tengah berdiri di sana menatapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Rian? kamu baru pulang?" tanya Kinara ketika masih melihat Rian dengan pakaian yang rapi.


"Iya aku baru kembali dari ibu kota dan langsung ke sini, aku membawakan mu martabak menteng kesukaan mu. Tapi sayangnya martabak ini sudah dingin jadi mungkin tidak terlalu enak." ucap Rian dengan nada yang menyesal.


Melihat tatapan menyesal dari Rian membuat Kinara lantas tersenyum. Ada ya laki laki seperti Rian? sudah tahu jarak tempuh antara ibu kota dan juga kota Malang cukup jauh, bisa bisanya malah membeli martabak, yang tentu saja akan dingin ketika dirinya sampai di rumah.


"Masuklah biar aku panaskan martabaknya kita makan sama sama." ucap Kinara memberikan solusi karena ia tidak enak Rian sudah jauh jauh membawakannya martabak dari sana.


Rian yang mendengar saran Kinara lantas tersenyum bahagia kemudian mengangguk pelan. Setelah itu keduanya lantas masuk ke dalam, Rian mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu sedangkan Kinara menuju dapur untuk memanaskan martabaknya.


Sambil menunggu Kinara memanaskan martabak, Rian mulai memainkan ponselnya di ruang tamu. Cukup lama Rian memainkan ponselnya sampai kemudian samar samar ia mendengar suara langkah kaki mendekat dengan langkah yang tergesa, membuat Rian yang ada di ruang tamu mengira itu adalah Kinara yang datang dari dapur tapi nyatanya adalah bukan.

__ADS_1


"Untuk apa kamu di sini?" ucap sebuah suara yang langsung membuat Rian mendongak menatap ke arah sumber suara.


"Cih kenapa dia selalu saja mengganggu?" ucap Rian dalam hati.


Melihat siapa yang datang Rian lantas bangkit, kemudian melangkah perlahan mendekat ke arah pintu rumah Kinara dengan tersenyum sinis menatap ke arah Kafeel yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu.


"Bukankah harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu?" ucap Rian dengan sinis.


"Kau jangan bermain main dengan ku!" ucap Kafeel sambil mencengkram kerah baju Rian dengan erat, namun Rian bukannya takut ia malah tersenyum melihat Kafeel yang bertingkah seperti ini.


"Kau sama sekali tidak berubah ya?" ucap Rian dengan tersenyum tipis menatap ke arah Kafeel.


Kafeel yang melihat ekspresi wajah Rian yang seperti itu, merasa di tantang sehingga tanpa aba aba Kafeel lantas langsung melayangkan pukulan ke arah Rian hingga ia terhempas dan terjatuh menimpa meja ruang tamu hingga menimbulkan suara yang gaduh.


Kinara yang memang sedang berada di dapur lantas langsung terkejut mendengar suara ribut ribut di luar. Kinara yang khawatir terjadi sesuatu di luar, lantas mematikan kompornya kemudian berjalan dengan langkah terburu menuju ruang tamu.


Kafeel yang melihat kemunculan Kinara lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kinara dan menggenggam tangan Kinara hendak membawanya pergi dari sana. Kinara yang tiba tiba di tarik tentu saja langsung memberontak dan berusaha melepaskan genggaman tangan Kafeel dari tangannya.


"Lepaskan dia!" teriak Rian sambil memegangi tangan Kinara yang satunya.


"Kau jangan ikut campur dengan masalah kami! kau hanyalah pengacaranya, setelah sidang putusan cerai itu berakhir kau bukan lagi siapa siapa!" ucap Kafeel dengan kasar sambil menarik Kinara namun di tahan oleh Rian yang tidak membiarkan keduanya pergi dari sana.


"Kau mengatakan hal itu seolah olah kau penting bagi Kinara, sekarang ku tanya apa posisi mu sebenarnya hingga melarang ku untuk ikut campur?" ucap Rian tidak ingin kalah dari Kafeel sambil ikut menarik tangan Kinara.


Pada akhirnya terjadilah tarik menarik antara keduanya yang lantas membuat Kinara semakin pusing ketika mendengar keduanya beradu mulut sedari tadi.


"Hentikan kalian berdua! lepaskan aku sekarang, ini sakit!" ucap Kinara sambil terus mencoba melepaskan genggaman tangan keduanya.

__ADS_1


"Tidak akan!" ucap Kafeel dan juga Rian secara bersamaan membuat Kinara kesal bukan kepalang menghadapi tingkah laku keduanya yang sama sama keras.


"Ku bilang lepaskan!" teriak Kinara lagi.


Sementara itu dari arah pintu depan, terlihat Ratih tengah berlarian menuju ke arah kontrakan Kinara ketika mendengar suara gaduh yang berasal dari sana. Hanya saja ketika sampai di sana malah Ratih yang di buat terkejut karena melihat Kafeel dan juga Rian sedang berusaha memperebutkan Kinara.


"Rian... Kafeel... lepaskan tangan Kinara!" ucap Ratih kemudian dengan tegas membuat Kafeel dan juga Rian lantas mulai melepaskan cengkraman tangan mereka pada Kinara ketika mendengar suara itu.


"Mama..." ucap Rian tidak terima, sedangkan Kafeel yang mendengar suara tak asing di pendengarannya perlahan mulai menoleh ke arah sumber suara.


Langkah kaki Kafeel mulai mundur perlahan ketika melihat wanita paruh baya di ambang pintu itu. Kafeel tahu wanita itu, walau ingatannya tentang mamanya di masa lalu sangatlah samar, namun Kafeel tidak pernah melupakan wajah wanita itu karena sampai saat ini Kafeel masih menyimpan fotonya dengan rapi.


"Mama..." ucapnya lirih sambil menatap ke arah Ratih yang tengah menatap kesal ke arah Rian sedari tadi.


****


Sementara itu di kamar Delisha.


Delisha dan Nining yang tadinya tertidur lantas langsung terbangun karena mendengar suara gaduh di luar kamar mereka.


Mendengar suara tersebut Delisha nampak seperti ketakutan dengan posisi sambil menutupi kedua telinganya. Nining yang melihat hal itu lantas langsung bangkit dan memeluk Delisha berusaha menenangkannya.


"Aku takut mbak... aku takut..." ucap Delisha lirih sambil bersembunyi di balik pelukan Nining.


"Delisha tak perlu takut ada mbak di sini, Delisha tenang ya..." ucap Nining mencoba menenangkan Delisha sambil memeluknya erat dan menutupi telinga Delisha agar tidak bisa mendengar suara ribut ribut di luar kamar mereka. "Ada apa lagi ini? kami bertiga bahkan baru memulai hidup yang baru, tapi mengapa malah seperti ini?" ucap Nining dalam hati sambil terus memeluk Delisha hingga ia kembali tertidur di pelukannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2