
Keesokan paginya
Kinara dan juga Rian berniat untuk berangkat lebih awal agar tidak kesiangan ketika sampai di Jakarta. Namun harus berakhir gagal, ada sedikit gangguan karena Delisha tidak mau di tinggal oleh Kinara, jadilah waktu keberangkatan tertunda beberapa menit karena Kinara harus membujuk Delisha terlebih dahulu hingga mengijinkannya untuk berangkat.
"Apa kau yakin tidak ingin aku temani Ra?" tanya Rian menawarkan bantuan kepada Kinara.
"Tidak perlu Yan karena Irene sudah menunggu ku di lobi saat ini." tolak Kinara secara halus.
"Apa kau yakin?" tanya Rian lagi memastikan karena jujur saja perasaan Rian sedikit khawatir membiarkan Kinara pergi sendiri.
"Tenanglah Yan ini hanya sebuah perusahaan bukan gerbang neraka." ucap Kinara sambil tersenyum ke arah Rian berusaha untuk menenangkannya.
"Baiklah kalau begitu." ucap Rian pada akhirnya.
Setelah pembicaraan singkat itu Kinara lantas turun dari mobil Rian dan bersiap melangkahkan kakinya memasuki perusahaan tersebut.
"Kabari aku jika sudah selesai." teriak Rian kemudian sebelum Kinara benar benar melangkah jauh masuk kedalam.
Kinara yang mendengar teriakan Rian lantas berbalik sambil mengangkat tangannya membentuk isyarat ok lalu kembali melangkah memasuki perusahaan.
Setelah memastikan Kinara sudah masuk ke lobi Rian lantas melajukan mobilnya menuju kantornya. Ada sedikit perasaan tak rela ketika melihat kepergian Kinara, rasanya seperti ada perasaan mengganjal yang Rian sendiri tidak tahu apa itu.
"Semoga saja ini hanya firasat ku saja." ucap Rian pada diri sendiri.
**
Lobi
Kinara melangkahkan kakinya memasuki lobi sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Irene tapi tidak ada di manapun, membuat Kinara lantas kebingungan karena tak melihat keberadaan Irene di manapun.
"Halo" ucap Kinara ketika panggilannya terhubung setelah mendial nomor Irene di ponselnya.
__ADS_1
"Iya bu" jawab Irene.
"Kamu di mana? aku sudah sampai di lobi perusahaan W Food." ucap Kinara sambil masih mencari keberadaan Irene di sekitar sana.
"Saya tadi sudah sampai di sana bu, hanya saja saya dapat pemberitahuan bahwa pihak perusahaan meminta sampel beberapa kain yang baru dan sedang di gemari tahun ini, jadi saya di suruh kembali ke butik untuk mengambilnya." ucap Irene menjelaskan.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepada ku, jika tahu begitu tadi aku bisa mampir ke butik kan?" ucap Kinara.
"Tak perlu bu, saya sudah separuh perjalanan ibu tunggu saja di sana sebentar." ucap Irene lagi.
"Baiklah kalau begitu." ucap Kinara kemudian menutup panggilan telponnya.
Kinara menghela nafasnya panjang setelah menyelesaikan panggilan telponnya barusan. Sebuah panggilan dari arah belakangnya lantas membuat Kinara berbalik badan dan melihat ke arah sumber suara.
"Bu Kinara ya?" tanya seorang perempuan mendekat ke arahnya, sepertinya ia resepsionis perusahaan ini.
"Iya" ucap Kinara.
"Tapi asisten saya sedang mengambil sampel kain di butik mungkin sebentar lagi datang." ucap Kinara.
"Tidak perlu ibu bisa mengikuti saya dan menunggu asisten anda di ruangan pak Fathan." ucap perempuan tersebut lagi.
Pada akhirnya mau tidak mau Kinara lantas mengikuti langkah kaki perempuan tersebut yang membawa Kinara menuju ke arah ruangan Fathan yang terletak di lantai dua.
Kinara menghela nafasnya berkali kali entah mengapa rasanya ia sangat gugup sekali kali ini. Meski ia sudah sering menemui klien namun entah mengapa kali ini rasanya terasa sangat berbeda.
"Kenapa aku gugup sekali ya?" ucap Kinara sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki perempuan tersebut.
Kinara lantas terus di bawa menuju ke sebuah ruang kerja dengan ukuran tidak terlalu besar namun nyaman dan juga rapi, perempuan tersebut mempersilahkan Kinara untuk duduk dan menunggu di sana setelah itu ia melenggang pergi meninggalkan Kinara seorang diri di ruangan tersebut.
Sambil menunggu kedatangan Fathan, Kinara menatapi satu persatu ruangan tersebut hingga kemudian terdengar suara berat mengagetkannya.
__ADS_1
"Bu Kinara?" ucap Fathan.
"Iya pak benar" ucap Kinara sambil menjabat tangan Fathan dengan senyum seramah mungkin ia tunjukkan kepada laki laki tersebut.
"Akhirnya saya bertemu dengan anda juga, ternyata jika di lihat secara langsung anda lebih cantik ya? pantas saja banyak sekali yang menggilai anda." ucap Fathan dengan tatapan yang aneh mengarah pada Kinara.
Kinara yang mendengar hal tersebut lantas bingung harus bereaksi bagaimana karena nada bicara Fathan barusan terdengar aneh di telinga Kinara.
"Ah bapak bisa saja saya jadi tersanjung mendengarnya." ucap Kinara berusaha setenang mungkin walau ia merasa tidak nyaman dengan tatapan yang di berikan Fathan padanya, sedangkan Fathan hanya tersenyum menanggapi ucapan Kinara barusan.
Kinara yang mencoba untuk tetap profesional lantas mulai mengeluarkan beberapa desain dari tasnya sambil berusaha bersikap normal dan mengabaikan pandangan Fathan padanya.
"Saya dengar anda sedang mencari desain untuk pakaian kerja ya pak? kebetulan sekali saya memiliki beberapa contoh desain pakaian kerja yang elegan dan juga kasual baik bagi wanita maupun laki laki pak." ucap Kinara sambil mulai memberikan contoh desainnya dan menunjukkan kepada Fathan satu persatu.
Fathan mendengarkan dengan seksama ucapan Kinara, semakin di lihat entah mengapa jiwa kejantanan Fathan semakin tertantang untuk menaklukkan wanita itu. Fathan menatap sekilas ke arah desain tersebut kemudian menggerakkan tangannya menyentuh tangan Kinara sambil mengelusnya perlahan ketika Kinara tengah menunjukan detail detail desain pada bajunya.
Kinara yang mendapat perlakuan tersebut lantas cukup terkejut karena ia paham betul sentuhan ini, sentuhan ini juga pernah di lakukan oleh mertuanya dulu. Kinara yang tadinya tidak mengerti maksud dari sentuhan tersebut lantas langsung di buat mengerti tepat setelah insiden dirinya yang hampir di perkosa oleh mertuanya sendiri kala itu.
"Maaf pak sepertinya anda tidak memperhatikan ucapan saya barusan." ucap Kinara sambil menarik tangannya dari atas meja, membuat Fathan yang sadar akan hal itu lantas langsung menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya kemudian tersenyum ke arah Kinara.
"Saya mendengarnya dengan seksama barusan tentang semua penjelasan mu, apa kamu tidak melihatnya?" tanya Fathan kemudian yang lantas membuat Kinara kesal ketika mendengar ucapannya.
"Baiklah kalau begitu saya akan melanjutkan nya kembali." ucap Kinara dengan nada yang lembut.
Kinara kemudian lantas memulai kembali membahas tentang pakaian kantor beserta detailnya seperti pada gambar desain Kinara.
"Bukankah AC nya sangat dingin? aku akan mengecilkan AC nya sebentar agar kamu merasa lebih nyaman." ucap Fathan kemudian sambil mengecilkan AC ruangan tersebut.
Kinara yang mendengar hal itu tentu saja acuh karena bagi Kinara, dengan atau tanpa AC itu sama saja. Kinara terus melanjutkan penjelasannya sampai beberapa menit kemudian ia mulai terasa kegerahan. Posisi ruangan yang tanpa ventilasi membuat ruangan terasa pengap dan panas apabila tidak di barengi dengan AC. Kinara mencoba membiarkan perasaan gerah yang menyelimutinya walau peluh keringat mulai menetes di pelipis dan juga lehernya.
"Dia semakin cantik jika berkeringat seperti itu." ucap Fathan dalam hati sambil menatap Kinara dengan tatapan yang ingin.
__ADS_1
Bersambung