Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Pengaruhnya sangatlah besar


__ADS_3

Setelah dari ruangan customer servis tadi, Kinara melangkahkan kakinya entah kemana sambil menatap kosong ke arah depan. Kinara benar benar bingung harus bereaksi seperti apa saat ini. Mungkinkah senang, sedih, atau bahkan takut. Baginya Kafeel adalah seorang laki laki yang baik dan juga penyayang, namun nyatanya Kafeel lebih mengerikan dari apa yang Kinara bayangkan.


Kinara memasuki lift lalu memencet tombol paling atas di sana, setelah pintu tertutup Kinara menyandarkan tubuhnya sebentar menatap ke langit langit lift. Satu hal yang baru saja ia sadari ketika semua tabir tentang Kafeel mulai terbuka. Disaat Kinara mulai mengira ia bisa baik baik saja setelah lepas dari Geffie, nyatanya semua keadaan normal yang ia rasakan hanyalah kamuflase belakang, semua ternyata sudah diatur sedemikian rupa oleh Kafeel tanpa sepengetahuan Kinara, atau mungkin lebih tepatnya Kinara saja yang bodoh dan tidak menyadari segalanya.


"Kenapa jadi begini? aku hanya ingin hidup tenang namun mengapa... mengapa rasanya sulit sekali mencapai kata tenang itu?" ucap Kinara dengan nada yang sendu.


Ting


Pintu lift mulai terbuka namun Kinara masih diam dan tak beranjak dari tempatnya hingga sebuah suara membuyarkan segala pikirannya sedari tadi.


"Apa yang sedang kamu lakukan Ra?" tanya Kafeel kemudian sambil melangkah masuk ke dalam lift.


Mendengar suara berat milik Kafeel, membuat Kinara lantas mendongak menatap ke arah Kafeel. Rupanya semesta memang memiliki takdir aneh tentangnya, bahkan ketika Kinara hanya memikirkan Kafeel saja orangnya benar benar datang tanpa diminta.


"Hello Ra... kenapa kamu malah melamun?" tanya Kafeel lagi karena Kinara hanya diam melamun menatap ke arahnya.


Kinara tersadar kala suara Kafeel membuyarkan lamunannya. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu." ucap Kinara kemudian dengan tatapan yang serius membuat Kafeel bertanya tanya dengan penasaran.


******


Kediaman Geffie


Nining melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, sudah hampir dua bulan ia tidak menginjakkan kakinya ke rumah ini lagi. Entah mengapa rasanya rumah ini yang dulunya tempat paling bahagia bagi keluarga itu, kini berubah menjadi sunyi sepi tanpa canda tawa menghiasinya lagi.


"Mbakkkkkk" teriak Delisha dari dalam kamarnya berlarian memeluk Nining.

__ADS_1


"Oh hai Delisha, bagaimana? apakah kemarin jalan jalannya menyenangkan?" tanya Nining ketika mendapat pelukan secara mendadak dari Delisha.


"Menyenangkan, hanya saja Delisha pingin pulang sekarang!" rengek Delisha membuat Nining lantas mengerutkan keningnya dengan bingung karena Delisha mengatakan menyenangkan namun kenapa malah meminta pulang, bukankah itu aneh?


"Nanti ya Delisha, mbak Nining pasti capek sebaiknya istirahat dan main main dulu di kamar. Nanti sore biar ayah antar kalian berdua pulang." ucap Geffie dari arah taman samping rumah.


Mendengar ucapan Geffie, Nining lantas mengelus rambut anak asuhnya itu. "Kita main saja yuk, soalnya bunda kalau jam segini masih sibuk, nanti sore kita kasih kejutan ke bunda pasti bunda suka." ucap Nining mencoba membujuk Delisha.


"Yang bener mbak?" tanya Delisha tidak percaya.


"Iya, nanti pulangnya kita mampir ke toko bunga gimana? kita beli bunga khusus untuk bunda." ucap Nining lagi meyakinkan gadis kecil itu.


"Iya mbak Delisha mau..." ucap Delisha dengan penuh semangat.


Keduanya lantas mulai berjalan ke arah taman halaman belakang dengan antusias, Delisha ingin segera pulang dan bertemu dengan Kinara itulah mengapa ia sangat antusias kala Nining mengatakan hal itu tadi. Geffie menatap kepergian keduanya hingga menghilang dari pandangannya.


*****


Rooftop


Kinara dan Kafeel terlihat saling pandang dengan tatapan serius di rooftop gedung apartment. Kinara bingung harus memulai pertanyaan dari mana saking banyaknya pertanyaan demi pertanyaan yang ingin ia katakan kepada Kafeel, sedangkan Kafeel malah menatap ke arah Kinara dengan bingung karena sedari tadi yang di lakukan Kinara hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Hanya tatapan sendu dan penuh kecewa terlihat jelas di manik matanya yang membuat Kafeel bertanya tanya sejak tadi tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan Ra?" tanya Kafeel memecah keheningan diantara keduanya.


Terdengar helaan nafas di sana, "Ada banyak hal dan aku bingung harus dari mana mengawalinya." ucap Kinara dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Kafeel.

__ADS_1


"Ada apa Ra? apa ada yang mengganggu mu?" tanya Kafeel kemudian.


"Jawab aku dengan jujur Kaf, apa kamu adalah pemilik gedung apartment ini?" tanya Kinara pada akhirnya.


Mendengar ucapan Kinara, Kafeel sedikit terkejut. Namun setelah melihat manik mata Kinara yang terlihat jelas gurat kekecewaan di sana kini Kafeel mulai mengerti arah pembicaraan ini.


"Ya" jawab Kafeel pasrah.


"Apa kamu juga yang membuat diskon 50 persen untuk unit penthouse yang aku tempati?" tanya Kinara lagi dengan perasaan yang was was dan takut mendengar kebenarannya.


Kafeel menghela nafasnya panjang lalu mengangguk dengan pasrah dan pelan seakan mengiyakan pertanyaan Kinara barusan. Kinara terdiam mulutnya mulai bergetar seakan tak siap menerima kenyataannya.


"Apa... apa kamu yang merekomendasikan ku pada Damar?" tanya Kinara lagi yang entah mengapa kali ini ingin sekali rasanya Kinara mendengar kata tidak dari mulut Kafeel walau ia mungkin dapat menebak apa yang akan dikatakan Kafeel sebentar lagi.


"Ya" jawabnya begitu singkat tapi mampu membuat air mata Kinara lolos begitu saja ketika mendengarnya. Kinara mengusap air matanya dengan kasar dan menghembuskan nafasnya dengan kasar di sana.


"Baik, satu hal lagi yang ingin aku tahu dari mu... apa kamu dalang di balik bangkrutnya perusahaan mantan mertua ku Kaf?" tanya Kinara lagi dengan nada yang setengah terisak.


"Memang aku, tapi semua itu ku lakukan hanya..." ucap Kafeel ingin menjelaskan namun terpotong oleh Kinara.


"Hanya apa? jangan bilang kamu akan mengatakan hanya untuk ku, basi Kaf!" ucap Kinara kemudian membuat Kafeel langsung terdiam seribu bahasa. "Mengapa Kaf? apa kamu pikir kamu Tuhan yang bisa mengatur semuanya sesuka mu? aku bahkan tadinya mengira bahwa setelah bercerai dari Geffie aku bisa berdiri di kaki ku sendiri dan memulai segalanya. Tapi nyatanya semua hanya buatan, tak ada yang benar benar ku lakukan untuk diriku sendiri." ucap Kinara dengan nada yang terisak, sepertinya Kinara sangat kecewa dengan apa yang telah di lakukan Kafeel untuknya.


"Aku... aku tidak melakukan semua hal itu untuk membuat mu semakin terpuruk. Aku melakukannya karena ingin menyokong mu Ra, aku tahu kamu wanita yang mandiri dan pekerja keras itulah mengapa aku memberikan sedikit bantuan padamu, hanya sedikit." ucap Kafeel mencoba membela diri.


"Bagi mu memang sedikit tapi bagiku? itu sangat besar Kaf, besar sekali pengaruhnya dalam hidup ku!" ucap Kinara dengan nada penuh penekanan sedangkan Kafeel yang mendengar hal itu lagi lagi terdiam tak bisa lagi membela dirinya kembali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2