Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Gelisah


__ADS_3

"Maaf bunda, Delisha tadi hanya makan sedikit kok, sedikit sekali kalau tidak percaya tanya saja pada om Rian." ucap Delisha sambil berlari menuju ke arah belakang tubuh Rian untuk bersembunyi di sana, membuat Kinara lantas langsung menatap tajam ke arah Delisha begitu mengetahui hal itu.


"Sudahlah Ra biarkan saja" ucap Rian kemudian mencoba membujuk Kinara agar tidak memarahi Delisha.


"Bagaimana aku tidak marah, lihatlah noda es krim di baju seragamnya! harusnya kalian pulang dulu baru membeli es krim." ucap Kinara dengan kesal sambil menunjuk ke arah baju seragam yang di kenakan Delisha.


"Iya iya aku yang salah aku minta maaf, jangan marahi Delisha ya?" ucap Rian kemudian yang lantas membuat Kinara langsung menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar ucapan Rian barusan.


"Ya sudahlah, lebih baik kamu bawa Delisha masuk Ning dan langsung ganti baju." ucap Kinara pada akhirnya yang di balas Nining dengan anggukan kepala.


Sesuai permintaan Kinara barusan, Nining lantas membawa Delisha masuk ke dalam untuk berganti pakaian lalu mencuci seragam sekolah Delisha karena besok masih harus di pakai kembali. Sedangkan Kinara lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah rumah kontrakan Ratih, membuat Rian lantas menatap dengan penasaran karena tumben Kinara ke rumahnya.


"Mau kemana Ra?" tanya Rian yang penasaran sambil mengikuti langkah kaki Kinara menuju rumahnya.


"Mau ketemu bu Ratih, ada di dalam kan?" tanya Kinara kemudian.


"Yap masuk saja" ucap Rian lagi kemudian mendudukkan dirinya di kursi teras rumahnya dan membiarkan Kinara masuk ke dalam.


Kinara melangkahkan kakinya masuk ke dalam mencari keberadaan Ratih yang ternyata sedang menyiapkan makan siang di dapur. Kinara yang melihat hal itu lantas langsung melangkah mendekat ke arah Ratih dan membantunya, membuat Ratih lantas langsung menoleh ke arah Kinara yang tiba tiba berada di sampingnya.


"Eh Kinara ibu pikir siapa tadi." ucap Ratih sambil menatap sekilas ke arah Kinara.


Kinara hanya tersenyum mendengar hal itu sambil terus melanjutkan memotong kacang panjang di depannya. "Bu Kinara bisa minta tolong?" ucap Kinara kemudian membuat Ratih lantas langsung menatap ke arah Kinara.


"Iya katakanlah nak ada apa?" tanya Ratih kemudian.


"Besok Ara akan pergi ke Jakarta sebentar untuk mengecek butik, Ara titip Delisha ya bu..." ucap Kinara sambil masih fokus memotong motong sayuran.


"Tentu saja ibu malah senang jika dititipi putri gembul seperti Delisha." ucap Ratih dengan raut wajah yang bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya bu" ucap Kinara kemudian.


"Kamu naik apa pergi ke jakarta besok?" tanya Ratih dengan nada yang penasaran.


"Mungkin Ara akan naik travel besok bu" ucapnya lagi.


"Buat apa kamu naik travel? bukankah ada Rian? biar ibu nanti yang akan bilang kepada Rian untuk mengantar mu ke sana." ucap Ratih lagi memberikan solusi untuk Kinara sekaligus mempermudah Kinara.


Mendengar hal itu Kinara lantas terdiam sejenak nampak berpikir, berangkat dengan Rian memang akan mempermudah kepergiannya. Hanya saja jika itu di ketahui oleh Kafeel pasti keduanya akan ribut lagi seperti kemarin kemarin, dan pada akhirnya Kinara lagi yang akan di buat repot oleh keduanya.


"Tidak perlu bu Ara bisa pergi sendiri, lagi pula Ara tidak mau merepotkan." ucap Kinara menolak secara halus saran dari Ratih barusan.


Ratih yang mendapat penolakan dari Kinara lantas langsung menghentikan gerakan tangannya kemudian menatap ke arah Kinara.


"Kamu sama sekali tidak merepotkan ibu, jangan menolak ya karena ibu akan sangat khawatir kalau kamu pergi sendirian besok." ucap Ratih dengan nada yang lembut kembali membujuk Kinara.


"Tapi bu..." ucap Kinara yang hendak kembali menolak namun terpotong karena Ratih yang tiba tiba memanggil Rian untuk datang ke arah mereka.


"Waduh" ucap Kinara dalam hati ketika mendengar panggilan Ratih barusan.


Beberapa menit kemudian dari arah luar terlihat Rian melangkah mendekat ke arah dapur ketika mendengar panggilan dari Ratih barusan, membuat Kinara lantas langsung menggigit bibir bawahnya pelan karena bingung harus menolak Ratih dengan cara yang bagaimana lagi.


"Ada apa ma?" tanya Rian kemudian sambil mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


"Besok antar lah Kinara ke Jakarta, apa kamu bisa?" tanya Ratih yang langsung membuat senyum tipis di wajah Rian terbit, namun kemudian langsung berusaha bersikap kembali normal walau dalam hatinya tentu saja sangat bahagia karena itu artinya dia bisa berduaan dengan Kinara besok.


"Tentu saja bisa ma tak perlu bertanya lagi, Rian selalu siap kapan pun." jawab Rian dengan cepat tanpa berpikir terlebih dahulu membuat Kinara lantas langsung menoleh ke arah Rian.


"Tidak perlu Yan... biar nanti aku..." ucap Kinara hendak menolak dan lagi lagi terpotong karena Rian tiba tiba memutus ucapan Kinara barusan.

__ADS_1


"Tak perlu sungkan Ra karena besok aku juga akan pergi ke Jakarta ada klien yang harus ku temui di sana, bukankah kita searah? jadi tak perlu sungkan begitu." ucap Rian kemudian yang lantas membuat Kinara terdiam tak bisa berkata kata lagi.


Pada akhirnya Kinara hanya bisa menghela nafasnya panjang karena mau tidak mau Kinara harus menerima keputusan keduanya tanpa bisa kembali menolak.


"Semoga saja Kafeel tidak mengetahuinya, kalau sampai tahu bisa terjadi huru hara pastinya." ucap Kinara dalam hati.


****


Sementara itu di hotel tempat di mana Kafeel menginap.


Terlihat Kafeel tengah mendudukkan dirinya di sofa sambil mengetuk ketukan jarinya di sofa berulang kali, entah mengapa Kafeel rasanya sangat gelisah sekali.


"Ada apa bos memanggil saya?" tanya Rendy kemudian yang berjalan mendekat ke arah di mana Kafeel berada.


"Apa terlihat pergerakan dari Devan?" tanya Kafeel dengan nada yang penasaran.


Sedangkan Rendy yang mendengar hal itu lantas bingung karena tidak seperti biasanya Kafeel menanyakan tentang hal itu. Biasanya Kafeel hanya mendiamkannya begitu saja dan baru bertindak ketika Devan sudah mulai mengusiknya, namun mengapa kali ini berbeda?


"Saya belum melihat adanya pergerakan dari Devan bos, memangnya kenapa?" tanya Rendy dengan penasaran sambil menatap wajah gelisah bosnya itu.


"Entahlah Ren rasanya aku begitu gelisah tanpa tahu apa penyebabnya." ucap Kafeel dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Rendy.


"Apa bos mau saya melakukan sesuatu untuk menenangkan rasa gelisah anda bos?" tawar Rendy kemudian yang tidak tega melihat wajah Kafeel.


"Tidak perlu, nanti kalau aku butuh sesuatu aku akan memanggil mu." ucap Kafeel kemudian.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu bos." ucap Rendy kemudian yang di balas Kafeel dengan anggukan kepala.


"Semoga saja tidak akan terjadi apapun." ucap Kafeel kemudian setelah kepergian Rendy dari sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2