
Setelah aksinya yang mencium Kafeel dengan tiba tiba, Kinara lantas terus melangkahkan kakinya masuk ke lobi lalu berbelok ke arah tangga darurat. Kinara benar benar malu dengan kelakuannya barusan, Kinara bahkan tidak mengerti dapat bisikan dari mana, yang lantas tiba tiba membuat Kinara dengan berani mencium pipi Kafeel tanpa permisi.
Kinara lantas membuka pintu ke arah tangga darurat dengan cepat kemudian langsung menutupnya.
"Ah bodoh bodoh bodoh kau Kinara! benar benar memalukan... mau di taruh di mana muka ku ini?" ucap Kinara merutuki tindakannya tadi sambil menempelkan keningnya ke pintu menuju tangga darurat. "Kinara Kinara Kinara! malunya aku..." imbuhnya lagi.
Kinara menempelkan keningnya ke pintu lalu mengangkatnya sedikit kemudian menempelkannya kembali secara berulang ulang tanpa jeda. Benar benar seperti anak anak yang di hukum orang tuanya untuk merenungi kesalahannya.
Sampai kemudian...
Bug
Pada akhirnya kepalanya terjedot juga karena ada seseorang yang membuka pintu darurat cukup keras tanpa mengetahui bahwa posisi Kinara ada di belakang pintu.
"Aw sakit!" teriak Kinara dengan spontan sambil mengelus jidatnya perlahan.
"Oh maaf mbak saya benar benar tidak tahu kalau ada orang di belakang pintu." ucap seorang OB apartment tersebut.
"Ya mas gak papa memang saya yang salah karena berdiri di belakang pintu." ucap Kinara sambil masih memegangi keningnya yang terasa sakit, Kinara sama sekali tidak marah dengan OB tersebut karena memang Kinara lah yang salah di sini.
Sedangkan Kafeel yang memang hendak menaiki lift setelah puas mengatai Geffie di depan, lantas langkahnya terhenti ketika mendengar suara Kinara barusan. Kafeel kemudian lantas mundur sedikit dan mengintip ke arah pintu darurat di mana ada seorang OB terlihat dalam posisi tengah menunduk seperti sedang meminta maaf kepada seseorang.
"Ada apa mas?" tanya Kafeel kemudian.
"Eh pak..." ucap OB tersebut hendak memberi hormat kepada Kafeel karena terkejut sekaligus takut ketika pemilik apartment tiba tiba memergokinya melakukan kesalahan. Hanya saja, Kafeel memberikan kode kepada OB tersebut untuk menutup mulutnya dan tak mengatakan apa apa tentangnya. "Ini pak saya tidak tahu kalau nona ini berada di belakang pintu, jadi saya mendorongnya keras karena saya kira tidak ada orang." jelas OB tersebut dengan perasaan yang takut.
"Kenapa harus ada Kafeel sih? kan malunya jadi dobel kalau begini." ucap Kinara dengan sedikit menunduk sambil masih memegangi keningnya.
"Kamu tidak papa Ra?" ucap Kafeel sambil sedikit menahan tawa karena ia tahu Kinara sedang tersipu malu sekarang. Sedangkan Kinara yang mendengar hal itu hanya menggeleng namun dengan posisi tetap menunduk.
"Ya sudah kau sebaiknya kembali bekerja. Sepertinya pak Imam tadi memanggil mu, sebaiknya nanti kamu ke ruangannya sebelum pulang kerja." ucap Kafeel yang lantas membuat wajah OB tersebut berubah pucat.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin di pecat kan?" batin OB tersebut dalam hati menerka nerka ucapan Kafeel barusan.
Setelah kepergian OB tersebut Kafeel lantas mendekat ke arah Kinara berada dengan sedikit menahan tawanya.
"Hentikan jangan tertawa!" ucap Kinara dengan kesal karena melihat Kafeel menatapnya sambil menahan tawanya.
"Aku bahkan tidak melakukan apapun tapi kamu malah marah padaku, dasar aneh!" goda Kafeel yang lantas mendapat tatapan tajam dari Kinara.
"Kamu pasti sekarang sedang menertawakan kebodohan ku bukan? katakan saja aku tidak akan marah." ucap Kinara kemudian namun dengan nada yang ketus.
"Kau yakin? kalau begitu baiklah dengan senang hati." ucap Kafeel dengan nada yang menggoda Kinara.
"Kafeel Hafizhan Adhitama jangan coba coba mengungkitnya itu sangat memalukan." ancam Kinara yang tahu Kafeel akan mengatakan apa sebentar lagi.
"Ayolah Ra... mencium ku tidaklah sememalukan itu. Jika kamu ingin mencium ku lagi untuk membalas Geffie aku akan secara sukarela melakukannya, jangan lupa untuk menghubungiku ya hahahaha." ucap Kafeel sambil terkekeh geli. Bukan tanpa alasan Kafeel membuatnya sebagai candaan, hanya saja Kafeel tahu jika ciuman pipi tadi pasti akan membuat hubungannya dengan Kinara menjadi sangat canggung. Jika Kafeel membuatnya hanya sebagai bagian dari bantuan untuk Kinara, pasti Kinara akan lebih santai dan bersikap biasa saja padanya.
"Kafeel... itu bahkan hanya mencium pipi. Kenapa kamu serius sekali?" ucap Kinara kemudian.
"Ka...f.. apa yang kamu lakukan?" tanya Kinara kala dirinya sudah tersudut.
"Apa kamu ingin merasakan yang sesungguhnya? aku bisa menunjukkannya padamu." ucap Kafeel dengan raut wajah yang serius hingga membuat Kinara langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Waduh!" ucap Kinara dalam hati.
Kafeel perlahan mulai mendekatkan kepalanya ke arah Kinara sedangkan Kinara yang bingung harus berbuat apa di saat saat seperti ini, Kinara lantas mulai memejamkan matanya. Sementara Kafeel yang melihat ekspresi dari Kinara barusan lantas tersenyum lalu mendekat ke arah telinga Kinara.
"Apa kamu sekarang sedang tersipu Ra?" bisik Kafeel tepat di telinga Kinara membuat Kinara yang semula memejamkan matanya lantas langsung terbuka sepenuhnya.
"Kafeel!" teriak Kinara sambil mendorong tubuh Kafeel agak sedikit keras hingga mundur beberapa langkah cukup jauh dengannya kemudian setelah itu melenggang pergi dari sana.
Kafeel yang melihat kepergian Kinara lantas hanya tersenyum hingga Kinara menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Dia benar benar menggemaskan." ucap Kafeel dengan senyum mengembang di wajah tampannya.
****
Sementara itu, sebelum pulang kerja OB tadi langsung menemui pak Imam kepala bagian HRD sesuai instruksi dari Kafeel pemilik dari apartment golden place ini.
Dengan langkah yang penuh dengan ketakutan hendak di pecat OB tersebut mengetuk pintu ruangan perlahan.
"Masuk" ucap sebuah suara dari dalam.
Mendengar hal itu OB tersebut lantas langsung masuk ke dalam ruang dan melangkah mendekat menuju ke arah meja.
"Pak Kafeel!" ucap OB tersebut yang terkejut kala ternyata yang ada di kursi itu adalah Kafeel bukan pak Imam.
"Duduklah!" ucap Kafeel dengan nada datar.
"Pak saya mohon jangan pecat saya pak, saya masih butuh pekerjaan ini." ucap OB tersebut sambil memelas.
Kafeel yang mendengar ucapan OB tersebut lantas bingung karena ia memanggil OB tersebut ke sini bukanlah untuk di pecat.
"Saya benar benar salah karena tidak tahu ada mbak mbak tadi di belakang pintu, saya kurang hati hati pak. Saya mohon jangan pecat saya." ucapnya lagi karena Kafeel hanya diam saja sejak tadi.
"Siapa bilang saya akan memecat mu?" tanya Kafeel yang lantas membuat OB tersebut bingung.
"Lalu kenapa bapak menyuruh saya ke sini?" tanyanya dengan bingung.
"Saya ingin memberikan tanggung jawab yang lebih besar padamu, kebetulan bagian kepala OB berhenti bekerja karena hamil dan semua orang mengajukan mu untuk menggantikannya. Aku sudah melihat kinerja mu dan juga sopan santun yang harus selalu di tunjukkan kepada tamu kita, saya menyukainya." ucap Kafeel menjelaskan.
"Jadi saya tidak jadi di pecat pak?" tanyanya lagi yang di balas gelengan kepala oleh Kafeel. "Alhamdullilah...." teriaknya dengan bahagia yang lantas membuat Kafeel tersenyum.
Bersambung
__ADS_1