Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Memperbaiki segalanya


__ADS_3

"Papa... Oma... kalian di sini?" tanya Kafeel kemudian ketika melihat Adhitama dan juga Arsa tengah berada di dalam.


Baik Arsa, Adhitama dan juga Kafeel yang tidak sengaja bertemu di kediaman Ratih lantas hanya bisa saling pandang satu sama lain karena terkejut akan kebetulan yang terjadi di antara keempatnya tanpa mereka duga sebelumnya.


"Kafeel kamu di sini juga..." ucap Arsa yang juga terkejut ketika melihat Kafeel tiba tiba muncul dan memanggil Ratih dengan sebutan mama. "Jadi kalian berdua sering bertemu di belakang ku dan tanpa seijin ku?" ucap Arsa sambil menatap tajam ke arah Adhitama dan juga Kafeel itu.


"Bukan begitu!" pekik Adhitama dan juga Kafeel secara bersamaan, membuat keduanya lantas saling pandang satu sama lainnya.


"Dasar ayah dan anak kelakuan kalian tetap saja sama!" cibir Arsa sedangkan Ratih hanya bisa diam saja tanpa berani berkata apa apa.


Kafeel yang mendengar ucapan neneknya tersebut lantas langsung melangkah mendekat ke arah sang nenek. Kafeel tahu saat ini sepertinya Arsa tengah kesal dengannya dan juga Adhitama karena diam diam menemui Ratih di belakangnya.


"Oma jangan marah... aku sama papa gak ada maksud untuk membohongi oma, kami hanya masih mencari waktu yang pas untuk memberitahu oma." ucap Kafeel beralasan agar Arsa tidak lagi marah padanya.


"Lalu di mana cucuku yang satunya?" tanya Arsa tiba tiba yang lantas membuat Kafeel terkejut mendengarnya.


"Oma tahu tentang Rian?" tanya Kafeel kemudian dengan nada yang terkejut ketika mendengar Arsa bertanya tentang Rian.


"Tidak juga, oma baru tahu barusan ini. Bukankah ibu mu itu pintar menyembunyikan cucu Oma selama ini?" sindir Arsa yang langsung membuat raut wajah Ratih berubah ketika mendengarnya barusan.


"Ma..." panggil Adhitama sengaja dengan nada yang memanjang.


"Baiklah baiklah mama tidak akan membahasnya lagi." ucap Arsa kemudian ketika mendengar panggilan dari Adhitama barusan.

__ADS_1


"Rian sedang dalam perjalanan pulang, aku sudah menyuruhnya mengambil jalur udara agar lebih cepat sampai ke sini, mungkin nanti siang Rian akan sampai di sini." ucap Ratih membuka suara.


Arsa yang mendengar ucapan Ratih barusan lantas bangkit dari tempatnya, membuat Kafeel dan juga Adhitama lantas saling pandang satu sama lain ketika melihat Arsa bangkit. "Di mana dapurnya? jika cucu ku akan datang nanti siang, bukankah aku harus memasakkannya sesuatu yang enak?" ucap Arsa kemudian dengan senyum yang mengembang.


Sedangkan Ratih yang mendengar hal itu lantas langsung ikut bangkit hendak menunjukkan kepada Arsa letaknya.


"Bukankah kita harus ke supermarket dulu bu, eh nyonya..." ucap Ratih sambil gelagapan karena bingung harus memanggil Arsa apa.


Arsa yang di panggil begitu lantas langsung menoleh ke arah Ratih dan berdecak kesal. "Panggil aku mama, apa kau sudah amnesia karena beberapa tahun tidak bertemu?" ucap Arsa dengan kesal.


"Mama..." panggil Adhitama lagi.


"Baiklah baiklah" ucap Arsa ketika mendengar Adhitama kembali memanggilnya. "Kalau begitu ayo kita pergi ke supermarket sekarang dan belanja untuk keperluan." ajak Arsa kemudian sambil menarik tangan Ratih agar mengikuti langkah kakinya yang berjalan keluar dari sana.


Sedangkan Kafeel dan juga Adhitama yang melihat kelakuan Arsa hanya bisa saling pandang satu sama lainnya.


"Entahlah papa juga tidak tahu ada apa, tiba tiba kemarin Oma mu mengajak papa untuk menemui Ratih, awalnya papa mengira Oma akan datang melabrak mama mu namun nyatanya keadaan di sini mendadak berbalik membuat papa juga bingung akan kelakuan Oma mu itu." ucap Adhitama menjelaskan segalanya.


"Kenapa papa harus bingung, bukankah ini artinya lampu hijau?" ucap Kafeel dengan mata yang berbinar.


"Benar juga kamu, kenapa papa baru menyadarinya?" ucap Adhitama kemudian sambil tersenyum cerah, sedangkan Kafeel yang melihat ekspresi papanya yang seperti orang bodoh itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya secara pelan.


****

__ADS_1


Supermarket


Setelah Arsa mengajak Ratih pergi berbelanja, keduanya lantas memasuki area supermarket dan mulai berkeliling. Ratih mendorong trolinya secara perlahan sedangkan Arsa sibuk memilih beberapa bahan makanan yang menarik perhatiannya. Ya mungkin ini adalah tradisi berbelanja ala orang kaya, di mana mereka hanya membeli barang yang menarik bagi mereka tanpa memikirkan harga dan juga uang yang mereka bawa.


Ratih menghela nafasnya berulang kali ketika melihat cara belanja Arsa, tidak hanya itu berbelanja berdua dengan Arsa membuat dirinya sangat canggung. Ini adalah pertama kalinya Ratih berbelanja berdua dengan Arsa, meskipun dulu keduanya pernah berstatus mertua dan menantu namun keduanya jarang sekali belanja berdua. Jangankan untuk belanja bertegur sapa saja jarang.


Manset keluarga narapidana tercatat dengan jelas di kepala Arsa sehingga ia enggan sekali untuk berbicara maupun berbelanja bersama layaknya mertua dan menantu pada umumnya.


"Ada apa? apa kamu merasa ada yang aneh?" tanya Arsa kemudian yang terus mendengar helaan nafas yang berasal dari Ratih.


"Bu... bukan begitu ma.." ucap Ratih dengan nada yang sedikit sulit ketika harus memanggil Arsa dengan sebutan mama.


"Aku tahu kamu pasti bertanya tanya tentang perubahan sikap ku bukan? aku juga bingung harus bagaimana menjelaskannya, hanya saja setelah melihat perjuangan Kafeel yang begitu gigih melakukan apapun demi Kinara, membuat ku lantas teringat dengan Adhitama dulu. Sepertinya aku terlalu egois hingga sampai memisahkan kalian berdua hanya karena ibumu yang mantan napi itu." ucap Arsa dengan menghela nafas panjang sambil terus berjalan.


"Kau jangan menghujat ku karena aku seorang ibu, coba kau jadi aku, bagaimana perasaan mu ketika anak mu menikah dengan anak seorang narapidana dengan kasus pembunuhan keji terhadap suaminya? bagaimana aku tidak berpikir yang bukan bukan? aku hanya tidak ingin putraku berakhir tragis sama seperti mertuanya." imbuhnya lagi.


"Anda benar ma... anda tidak salah sama sekali dalam hal ini karena pandangan masyarakat kepada Ratih sama dengan pandangan mama. Ratih tidak pernah marah atau sakit hati karena memang itu adalah takdir Ratih. Hanya saja bukankah mama dulu terlalu kejam jika menyamakan Ratih dengan ibu Ratih tanpa bukti yang jelas?" ucapnya kemudian dengan nada yang lirih.


"Ya aku akui aku memang salah dan egois dulu, maka dari itu aku sekarang berada di sini untuk memperbaiki segalanya. Kembalilah dengan Adhitama mama merestui hubungan kalian berdua." ucap Arsa dengan tiba tiba.


Deg


Mendengar ucapan Arsa barusan membuat langkah kaki Ratih langsung terhenti seketika. Ia benar benar senang sekaligus terkejut bercampur menjadi satu ketika kata kata itu keluar dari mulut Arsa.

__ADS_1


"Apakah aku sedang bermimpi?" batinnya dalam hati.


Bersambung


__ADS_2