
Keesokan harinya
Pagi ini Kinara bangun dengan kantung mata yang menghitam layaknya mata panda, semalaman Kinara tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan Kafeel ketika makan malam kemarin di unit apartemennya.
Kinara bangkit dari ranjangnya dan melangkah ke arah kamar mandi. Kinara menceburkan dirinya ke dalam bathub yang sudah di beri sabun dan juga beberapa tetes aromaterapi sekalian untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau saat ini.
"Kenapa harus sekarang sih? aku bahkan baru memulai menuju ketenangan, namun Kafeel malah mengusiknya, benar benar membuat ku resah." ucap Kinara dengan kesal.
Flashback on
Setelah kepergian Rendy dan juga Nining dari meja makan suasana mendadak menjadi hening. Ada perasaan aneh yang tiba tiba menghinggapi Kinara, baginya Kafeel yang mendadak mengajak makan bersama saja sudah aneh, malah di tambah dengan suasana canggung diantara keduanya membuat Kinara lantas jadi serba salah.
"Em Ra sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu." ucap Kafeel dengan nada yang lirih, sepertinya laki laki itu tengah gugup sekarang. Kinara menatap serius ke arah Kafeel seakan menunggu Kafeel meneruskan ucapannya. "Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, hanya saja aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bukankah masa iddah mu sudah selesai? aku rasa ini saat yang tepat untuk mengatakannya padamu." ucap Kafeel dengan nada yang lembut sambil menatap ke arah Kinara yang tengah menatapnya dengan serius.
"Sepertinya dugaan ku benar." ucap Kinara dalam hati ketika mengetahui firasatnya benar tentang Kafeel.
"Menikahlah dengan ku, aku tahu aku bukan yang pertama tapi ijinkan aku untuk menjadi yang terakhir akan bagian dalam hidup mu. Aku juga tahu ini terasa aneh karena aku tiba tiba mengatakannya sekarang, hanya saja aku tidak bisa menunggu lagi Ra, aku yakin kamu orang yang selama ini ku cari." ucap kafeel kemudian.
"Kaf aku..." ucap Kinara ingin menjawab namun langsung dipotong oleh Kafeel.
__ADS_1
"Ku mohon Ra, pikirkan saja dulu perlahan aku tidak akan meminta jawabannya sekarang. Hanya saja aku minta kepadamu pikirkanlah baik baik, Delisha masih butuh sosok seorang ayah, jangan terlalu larut pada sebuah luka Ra... sembuhkanlah perlahan, jangan samakan semua laki laki seperti Geffie." ucap Kafeel lagi mencoba meyakinkan Kinara kembali, Kafeel tahu Kinara tengah ragu saat ini.
Flashback off
Terdengar helaan nafas berkali kali dari Kinara, ia benar benar bimbang kali ini. Perceraiannya bahkan baru satu bulan yang lalu, tapi kemarin Kinara malah sudah mendapat sebuah lamaran yang tak pernah ia duga duga sebelumnya. Disaat seperti ini haruskah Kinara menerima lamaran dari Kafeel? Delisha memang masih butuh sosok seorang ayah namun hatinya... Kinara masih belum benar benar menata hatinya. Perceraiannya waktu itu bersama Geffie memutuskan kepercayaan Kinara tentang sebuah pernikahan.
Disaat dirinya sudah melimpahkan segala perasaannya hanya pada sebuah ikatan pernikahan dan juga suaminya, Kinara malah dipatahkan dengan satu kata perselingkuhan yang meluluhlantahkan segalanya.
"Apa yang harus ku lakukan? aku benar benar belum siap menikah lagi namun Kafeel adalah orang baik, aku tidak bisa melihatnya terluka hanya karena orang seperti ku. Arg aku harus apa?" ucap Kinara dengan frustasi.
*****
Mobil milik Nabila berhenti tepat di parkiran lobi Apartment Golden Place, ditatapnya apartment itu cukup lama baru kemudian melangkah masuk ke dalamnya.
"Kenapa aku tidak menyadarinya? ini kan salah satu gedung apartment milik Kafeel pastinya ia tinggal di sini, bodoh sekali kau Nabila." batin Nabila dalam hati sambil melangkahkan kakinya memasuki lift menuju lantai paling atas gedung apartment ini.
Ting
Suara pintu lift terbuka membuat Nabila lantas langsung melangkahkan kakinya keluar dari lift. Entah ini sebuah takdir buruk atau apa? tepat setelah Nabila keluar dari lift ia malah melihat Kinara keluar dari unit apartment yang letaknya bersebelahan dengan unit apartment Kafeel.
__ADS_1
"Wah wah wah ternyata kalian berdua benar benar selingkuh ya? bahkan Kafeel saja memberikan mu fasilitas apartment untuk ditinggali, bukankah mantan suami ku itu terlalu royal?" ucap Nabila dari kejauhan sambil melangkah mendekat ke arah Kinara berada.
"Jangan sembarangan kalau berbicara, aku bahkan tidak pernah menerima apapun dari mantan suami mu itu." ucap Kinara tidak terima ketika mendengar ucapan Nabila barusan.
Nabila memutar bola matanya jengah kala mendengar kata kata klasik dari mulut Kinara. "Sebagai seorang teman yang baik, mau ku beritahu satu rahasia?" ucap Nabila sambil sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi dari Kinara. "Jika Kafeel sudah menyukai sesuatu ia harus mendapatkannya walau dengan cara apapun. Coba kau pikirkan, apa sesuatu di sekitarmu berjalan sangat lancar? sampai mungkin kau berpikir bahwa Yang Di Atas meridhoi jalan mu. Hanya saja kau salah! salah besar, semua itu adalah ulah Kafeel, tak percaya? coba saja tanyakan padanya. Jika dia tidak mengakuinya cari tahu, jangan hanya diam dan berlagak seakan tidak menerima apapun dari Kafeel padahal kau mengambil segalanya!" ucap Nabila dengan nada yang menyindir.
Raut wajah Kinara langsung berubah kala mendengar ucapan Nabila barusan. Ingatan Kinara mulai menelisik jauh kebelakang, apa yang diucapkan Nabila barusan adalah sebuah kebenaran. Kinara bahkan sempat bertanya tanya belakang ini, karena semua hal yang berputar di sekitarnya entah mengapa terasa sangat ringan dan terkesan di buat buat. Dimulai dengan pekerjaan, karir yang mulai melonjak, proses perebutan hak asuh anak bahkan sampai tempat tinggal pun semua terasa berjalan dengan sangat lancar.
"Kenapa diam? baru terpikir bukan? Bukannya kau seorang yang berpendidikan, masak ia kau tidak tahu kalau gedung paling atas apartment atau hotel di huni oleh pemilik gedung tersebut. So? masih belum sadar juga?" sindir Nabila ketika melihat wajah bingung Kinara.
"Tidak mungkin... maksud mu Kafeel pemilik gedung apartment ini?" ucap Kinara kemudian dengan nada yang terkejut.
"Ups jadi kau tidak tahu ya? maaf Ra aku tidak bermaksud, pasti Kafeel merahasiakannya dari mu ya? tapi aku malah tidak sengaja mengatakannya padamu." ucap Nabila kemudian dengan nada yang seakan akan dibuat buat.
Kinara benar benar tidak bisa berkata kata lagi, tanpa menanggapi ucapan Nabila barusan Kinara lantas langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana. Sebelum prasangka terhadap Kafeel semakin melebar ia ingin memastikannya terlebih dahulu semuanya.
Nabila yang menatap kepergian Kinara dengan tergesa, lantas tersenyum penuh kemenangan. Ternyata semudah itu memprovokasi Kinara, Nabila tak perlu menggunakan otot tinggal memutar otak dan menjalankan mulutnya satu lalat langsung melipir dengan sendirinya.
"Tepat sasaran" ucap Nabila dengan singkat.
__ADS_1
Bersambung