Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Percayakan padaku


__ADS_3

"Aku tidak perduli walau kau memilih laki laki itu, kamu hanya milik ku! jika aku tidak bisa mendapatkan mu maka dia juga tidak akan bisa, camkan itu Ra!" ucap Geffie dengan menatap tajam ke arah Kinara.


Kinara berusaha memberontak dan melepaskan diri dari cengkraman Geffie. Ternyata firasatnya tentang Geffie benar, semua ucapan Geffie hanyalah tipuan belakang.


"Lepaskan aku! di sini banyak terpasang kamera pengawas mas, jangan macam macam!" ancam Kinara sambil terus meronta berusaha untuk melepaskan diri.


"Oh ya? tidak ada yang bisa menghalangi ku meski itu kamera pengawas sekalipun." ucap Geffie dengan tersenyum licik.


"Ku bilang lepaskan aku mas!" bentak Kinara sambil menendang bagian bawah Geffie tepat pada titik kelemahannya.


Geffie mundur beberapa meter sambil memegangi aset berharga miliknya, tendangan yang di berikan Kinara cukup membuat miliknya terasa ngilu.


"Kamu benar benar keterlaluan Ra!" ucap Geffie dengan nada penuh penekanan.


"Di sini siapa yang keterlaluan? aku atau kamu? jangan mentang mentang aku diam kamu bisa menindas ku seenaknya ya mas. Bukankah kamu yang berselingkuh, tapi mengapa rasanya malah aku yang seakan akan bersalah di sini? coba berpikir sedikit mas, jangan egois!" ucap Kinara dengan nada yang meninggi membuat Geffie lantas terdiam seribu bahasa. "Sebaiknya kamu pulang! jangan memancing emosi ku." ucap Kinara kemudian melenggang pergi meninggalkan Geffie.


Ketika Kinara hendak membuka pintu unit apartemennya, suara tawa Geffie lantas menghentikan langkah kaki Kinara yang hendak membuka pintu.


"Semakin kamu berontak semakin aku menyukainya Ra, terkadang hidup itu perlu tantangan. Entah mengapa aku malah jatuh cinta padamu setelah dirimu menjadi janda, bukankah itu menarik?" ucap Geffie kemudian di sela sela tawanya.


"Jaga ucapan mu mas! jika kamu jatuh cinta pada ku maka aku malah sebaliknya, dengan melihat mu seperti ini aku malah ilfil dan muak. Aku bahkan sangat sangat bersyukur bisa lepas dari laki laki seperti dirimu yang sifatnya seperti bunglon dan plin plan." ucap Kinara dengan tegas kemudian masuk ke dalam apartment dan menutup pintunya dengan keras.


Geffie yang melihat kelakuan Kinara barusan lantas mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Tidak akan ku biarkan kamu dan dia bahagia Ra, lihat saja apa yang akan aku lakukan!" ucap Geffie dengan penuh penekanan kemudian melenggang pergi dari sana.

__ADS_1


***


Setelah menutup pintu, Kinara memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas berulang kali di sana. Setelah hatinya dirasa cukup tenang Kinara perlahan membuka matanya, Kinara sedikit tersentak tepat ketika ia membuka mata Kafeel sudah berada di hadapannya dengan bersendekap dada menatap ke arahnya.


Terlihat jelas kilatan kemarahan pada manik mata milik Kafeel, membuat Kinara lantas menelan salivanya dengan kasar kala menatap manik mata itu.


"Biarkan aku yang memberinya pelajaran Ki, laki laki seperti dia tidak pantas dikasihani!" ucap Kafeel dengan nada yang dingin sambil terus menatap ke arah Kinara.


Mendengar ucapan Kafeel barusan membuat Kinara yakin bahwa Kafeel mendengar pembicaraannya sedari tadi. Kinara mulai melangkah mendekat ke arah Kafeel dan mengelus perlahan pundak laki laki itu.


"Biarkan aku yang menyelesaikannya kali ini Kaf, percayakan pada ku untuk mengatasi masalah ku sendiri hem." ucap Kinara dengan lembut namun Kafeel masih terdiam seakan akan tak menyetujui sama sekali usulan Kinara barusan. "Bagaimana kalau begini saja, aku akan bilang padamu kalau memang aku sudah tidak bisa mengatasinya lagi, please..." bujuk Kinara dengan wajah memelas.


Kafeel yang melihat Kinara membujuknya, lantas luluh dan mulai menurunkan egonya.


"Baiklah, tapi kamu janji harus bilang." ucap Kafeel yang masih ragu Kinara akan mengatakannya.


"Iya tuan tentu saja." ucap Kinara dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Dasar kamu ya..." ucap Kafeel dengan gemas sambil mengacak acak rambut Kinara, membuat Kinara lantas cemberut akan ulah Kafeel karena membuat rambutnya berantakan.


"Om... bunda... kapan kita makanya? Delisha udah laper nih!" ucap Delisha kala melihat Kinara dan Kafeel malah asyik bermain main sedari tadi.


Baik Kafeel maupun Kinara lantas langsung tertawa begitu mendengar rengekan Delisha yang sudah berteriak kelaparan. Kafeel dan juga Kinara kemudian mengajak Delisha pergi ke meja makan dan memulai makan mereka dengan nikmat sambil di selingi senda gurau oleh ketiganya dan juga Nining yang ikut meramaikan meja makan.


*****

__ADS_1


Kediaman Geffie


Geffie pulang dengan raut wajah yang di tekuk, ia benar benar kesal karena lagi lagi harus mendapat penolakan dari Kinara padahal ia sudah meminta maaf dengan tulus tadi.


Geffie mulai membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Hanya saja tepat ketika ia masuk ke dalam, bukannya kedamaian yang Geffie dapat, ia malah menerima lemparan bantal sofa tepat mengenai mukanya.


"Kamu hanya bisa main judi saja, cari kerja usaha bukan menghamburkan uang!" teriak Sila tanpa menyadari kehadiran Geffie di sana.


"Aku kan sudah berusaha, bukannya dukung malah ngomel aja setiap waktu, gedek tau dengernya." ucap Ardi sambil menghindari lemparan bantal sofa dari Sila.


Geffie menendang bantal sofa yang tadi mengenai wajahnya dengan keras seakan melampiaskan kekesalan hatinya. Perlahan Geffie mulai mengatur ritme nafasnya yang cepat karena amarahnya sudah sampai di ubun ubun. Di saat dirinya pulang ke rumah untuk mencari ketenangan yang ia dapat malah keributan orang tuanya yang tidak berkesudahan dan tak pernah ada ujungnya.


"Hentikan!" ucap Geffie dengan nada yang datar, hanya saja entah Sila dan Ardi tidak mendengarnya atau bagaimana? keduanya malah terus bertengkar dan adu mulut, membuat kepala Geffie rasanya seperti hendak pecah ketika berada di sana. "Ku bilang hentikan ya hentikan!" teriak Geffie kemudian yang lantas membuat Ardi dan Sila terdiam seketika dan menoleh ke arah di mana Geffie berada.


"Geffie kamu sudah pulang nak? apa kamu lapar?" tanya Sila mengalihkan pembicaraan, hanya dengan melihat wajah Geffie saja ia sudah tahu bahwa Geffie saat ini sedang marah melihat keduanya.


"Jika kalian ingin tetap tinggal di sini harusnya kalian diam dan tidak menimbulkan kegaduhan!" ucap Geffie dengan nada yang dingin dan datar.


"Kita diam kok Gef, hanya saja mama suka kesal karena papa mu malah menghabiskan uang di meja judi bukan cari kerja." ucap Sila membela diri.


Geffie yang mendengar curhatan ibunya bukannya simpati malah tersenyum menyeringai.


"Wah wah wah bukankah sulit mencari sebuah pekerjaan papa? bagaimana rasanya? apa sekarang papa sudah tahu bagaimana jadi seorang sampah seperti anak mu ini?" sindir Geffie sambil menatap ke arah Ardi dengan tatapan yang mengejek.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2