
"Rian aku ini papa mu, kamu tidak bisa memperlakukan papa seperti ini." ucap Adhitama dengan nada yang memelas membuat Rian lantas tersenyum sinis ketika mendengarnya.
Mendengar ucapan Adhitama barusan sama sekali tidak menghentikan langkah kaki Rian yang menggenggam tangan Ratih terus melangkah menuju ke arah rumah mereka. Ratih menatap sekilas ke arah Adhitama yang menatap kepergian keduanya dengan wajah sendu, ada sedikit perasaan bersalah ketika melihat wajah sendu Adhitama, hanya saja tidak ada yang bisa Ratih lakukan kecuali menuruti kemauan putra bungsunya itu.
"Yan mama mohon kali ini saja..." ucap Ratih dengan nada memohon berharap Rian akan memberinya ruang dan waktu untuk berbicara dengan Adhitama.
"Sekarang sudah larut sebaiknya mama tidur dan istirahat." ucap Rian tanpa ingin di bantah sama sekali dengan langkah yang terus masuk ke dalam rumahnya dan langsung menutupnya tanpa memperdulikan Adhitama sama sekali.
"Yan mama mohon" ucapnya lagi dengan nada yang memelas.
Mendengar mamanya mengiba Rian lantas menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Ratih dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
"Biarkan dia malam ini ma, Rian hanya ingin melihat kesungguhan hatinya untuk meminta maaf. Rian tahu mama masih menyimpan rasa untuknya dan Rian akan coba mengalah untuk hal itu." ucap Rian dengan singkat dan tanpa ekspresi.
Sedangkan Ratih yang mendengar penuturan anaknya lantas langsung terdiam tidak bisa berkata kata, Ratih tidak menyangka bahwa Rian akan mengatakan hal itu barusan.
"Apa kamu sungguh sungguh mengatakan hal itu Yan?" tanya Ratih sekali lagi memastikan apa yang di dengarnya tidaklah salah.
"Iya, Rian akan mencoba menerimanya perlahan walau rasanya sangatlah berat bagi ku, tapi aku akan tetap mencobanya." ucap Rian dengan nada lirih.
"Terima kasih banyak nak" ucap Ratih sambil tersenyum ke arah Rian.
__ADS_1
*****
Sementara itu di kediaman Kinara.
Setelah kepergian Rian, Ratih dan juga Adhitama dari rumahnya kini hanya tersisa Kafeel dan Kinara di sana, penuh keheningan dan juga kecanggungan di sana.
Kinara yang bingung harus berkata apa, lantas mulai bangkit dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Ini sudah larut, sebaiknya kamu pulang sekarang aku mau tidur." ucap Kinara sambil memegang gagang pintu rumahnya seakan mengisyaratkan kepada Kafeel bahwa Kinara hendak menutup pintu rumahnya sekarang.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan berdua dengan mu Ra..." ucap Kafeel dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Kinara.
"Ini sudah malam Kaf, apa kamu tidak melihat jam yang terpajang di sana menunjukkan pukul berapa?" ucap Kinara sambil menunjuk ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 12.30 malam. "Bagaimana tuan Kafeel? apakah pada pukul segini masih pantas untuk bertamu di rumah seseorang?" ucap Kinara dengan tegas.
Kinara yang tak menginginkan tawar menawar lantas langsung melangkahkan kakinya ke arah Kafeel dan langsung menarik tangannya menuju ke luar dari rumahnya.
"Ra ra ku mohon sebentar saja..." ucap Kafeel mencoba membujuk Kinara siapa tahu ia berubah pikiran.
Kinara tak menggubris ucapan Kafeel sama sekali dan terus menariknya, hingga setelah berhasil membawa Kafeel keluar dari rumahnya, tanpa berbelas kasihan Kinara lantas langsung menutup pintu rumahnya begitu saja tanpa bertanya atau menawari Kafeel terlebih dahulu.
Kafeel mengusap rambutnya dengan kasar, ia benar benar bingung harus bagaimana lagi membujuk Kinara agar mau memaafkannya. Kafeel yang bingung harus bersikap bagaimana lantas menoleh ke arah sebelah, entah ini memang tradisi turun temurun atau sifat ayah yang menurun pada anaknya. Kafeel lantas melihat Adhitama juga menatap frustasi ke arah pintu rumah yang saat ini tengah tertutup dengan rapat.
__ADS_1
"Bahkan papa yang sudah berpengalaman saja tetap tidak bisa membujuk mama, bukankah kami berdua banyak sekali kemiripannya?" ucap Kafeel sambil tersenyum sekilas seakan menertawai dirinya sendiri yang berakhir dengan seperti ini.
Kafeel mendudukkan dirinya di lantai rumah Kinara dan bersandar pada jendela yang berjajar tepat di sebelah pintu rumah Kinara. Ditatapnya langit malam yang sedang mendung malam itu lalu tersenyum.
"Ternyata begini ya rasanya tidur di luar? aku sungguh tidak membayangkan bagaimana nantinya jika aku dan Kinara bertengkar lalu Kinara menyuruhku tidur di luar seperti ini, bukankah itu sangatlah lucu? benar benar rumah tangga yang aku impikan. Aku tidak pernah memimpikan rumah tangga yang sempurna karena aku yakin setiap rumah tangga punya konfliknya masing masing." ucap Kafeel pada diri sendiri sambil tersenyum membayangkan ucapannya barusan. "Bukankah sebuah rumah tangga tanpa pertengkaran kecil tidaklah lengkap? aku bahkan menantikan hal itu jika aku dan Kinara benar benar berjodoh nantinya." ucapnya lagi sambil terus menatapi langit malam ini yang mungkin akan menemani sepanjang malam ketika ia di sini.
******
Keesokan paginya
Sesuai permintaan Rian kemarin malam yang menyuruhnya membiarkan Adhitama untuk melihat kesungguhannya. Pagi ini setelah menyelesaikan ritual paginya dan memasak beberapa makanan untuk sarapan. Ratih mulai melangkahkan kakinya hendak membuka pintu rumah sekalian mengecek apakah Adhitama masih ada di luar atau tidak.
"Kenapa aku merasa gugup sekali ya? entah mengapa rasanya aku berharap bahwa Adhitama masih menungguku di luar rumah hingga pagi ini, apakah aku terlalu kejam jika mengharapkan hal tersebut?" ucap Ratih pada dirinya sendiri sambil mengatur nafasnya perlahan yang tengah gugup saat ini.
Ratih menggenggam gagang pintu dengan erat lalu menghitung pelan di dalam hati, tepat ketika hitungan ketiga Ratih lantas mulai membuka pintunya dan langsung menatap sekeliling mencari keberadaan Adhitama di sana.
"Adhitama!" pekik Ratih dalam hati sambil mulai mengatur nafasnya.
Ratih merasa bahagia ketika ternyata Adhitama nasih diluar dan menunggunya semalaman, benar kata Rian semalam jika Adhitama benar benar serius meminta maaf, maka ia akan tetap menantinya di luar walau semalaman sekalipun. Adhitama terlihat tertidur di kursi kayu yang terletak di luar rumah. Ratih yakin tidur seperti itu sangatlah tidak enak mengingat Adhitama bukanlah seseorang yang berasal dari kalangan bawah dengan kata lain terlahir dengan sendok emas di tangannya, pasti tidaklah mudah ketika bertemu dengan dirinya yang hanya orang biasa.
"Memang dasar ayah dan anak sama sama gigih dalam membuktikan usaha mereka. Aku tidak menyangka bahwa sifat Adhitama akan sangat menurun pada Kafeel." ucap Ratih kemudian ketika ia melihat Kafeel sedang tertidur di teras depan rumah Kinara hingga pagi menjelang.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas berulang kali dari Ratih ketika melihat tingkah laku keduanya yang sangat mirip itu bahkan mungkin sangatlah persis, seulas senyum terlihat terukir di wajah Ratih ketika membayangkan Kafeel dan Adhitama di satukan menjadi satu, pastilah setiap harinya akan sangat heboh.
Bersambung