Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Hanya milik ku


__ADS_3

Pagi harinya


Karena hari ini adalah weekend, seperti surat keputusan tentang hak asuh anak yang telah di sepakati baik dari pihak Geffie maupun Kinara. Geffie boleh bertemu dengan Delisha ketika weekend atau libur sekolah saja, jika Geffie menginginkan bertemu dengan Delisha di luar ketentuan itu, maka harus dengan ijin dari Kinara selaku pemegang hak asuh anak penuh.


Kinara dan Delisha melangkahkan kakinya menuju taman dekat apartemennya karena memang keduanya janjian bertemu dengan Geffie di taman. Delisha menggenggam erat tangan Kinara seakan enggan untuk meninggalkan Kinara.


"Delisha takut bunda." ucap Delisha secara tiba tiba membuat langkah kaki Kinara lantas terhenti ketika mendengar ucapan putrinya itu.


Mendengar ucapan Delisha barusan, Kinara lantas sedikit berjongkok mencoba menyamai tinggi badan gadis kecil itu. Diusapnya perlahan rambut Delisha dengan sayang seakan memberikan ketenangan untuk putrinya itu.


"Delisha tidak perlu takut, ayah Geffie tetaplah ayah Delisha. Apakah Delisha lupa? dulu Delisha dan ayah selalu saja menghabiskan waktu weekend bersama sampai sampai bunda yang sedang menunggu kepulangan Delisha dan ayah cemas karena kalian berdua tidak kunjung pulang juga." ucap Kinara lembut sambil mencubit gemas hidung Delisha.


"Tapi ayah yang sekarang bukanlah ayah yang dulu. Sekarang ayah suka sekali marah dan membanting barang barang membuat Delisha takut." ucapnya lagi.


"Delisha dengarkan bunda, walau ayah kini telah berubah tapi ayah tetaplah ayah Delisha. Semarah marahnya seorang ayah ia tidak akan memukul putrinya sendiri kecuali untuk mendidiknya agar lebih baik lagi." ucap Kinara lagi, ia tahu Delisha tengah bimbang saat ini antara pergi ikut bersama Geffie atau tidak.


"Delisha tidak perlu khawatir, di dalam tas ini bunda sudah menaruh ponsel dan juga alat pelacak. Jika Delisha takut atau sedang gelisah Delisha boleh langsung menghubungi bunda." ucap Kinara lagi meyakinkan putrinya.


Setelah mendapatkan cukup banyak wejangan dari Kinara, pada akhirnya Delisha mau pergi bersama dengan Geffie. Tidak ada lagi raut wajah yang cemberut di sana, sebisa mungkin Delisha mencoba untuk tersenyum agar Kinara tidak khawatir.


"Jangan pulang terlalu larut besok mas, kasihan Delisha." ucap Kinara dengan nada yang seperti khawatir, rasanya Kinara seperti enggan melepaskan Delisha bersama Geffie begitu mengetahui sifat asli Geffie yang sesungguhnya, hanya saja bukankah akan tampak sangat egois jika Kinara tidak mengijinkan seorang ayah bertemu dengan anak kandungnya sendiri?

__ADS_1


"Tak perlu khawatir seperti itu, aku ini ayahnya tapi entah mengapa tatapan itu seakan akan seperti menuduhku akan melakukan sesuatu kepada anak ku sendiri." sindir Geffie ketika melihat tatapan tidak rela yang ditunjukkan oleh Kinara.


"Sudahlah mas, kau bahkan lebih tahu segalanya jadi tidak perlu terus berselisih seperti ini, aku benar benar lelah." ucap Kinara dengan nada yang lirih.


"Baiklah kalau begitu aku akan membawa Delisha, akan ku telpon nanti jika kami sudah selesai." ucap Geffie kemudian tidak ingin memperumit masalah atau Kinara akan mengurungkan niatnya untuk mengijinkan Delisha ikut bersamanya.


Setelah sedikit salam perpisahan, Delisha dan juga Geffie melangkah pergi meninggalkan Kinara seorang diri di sana. Ditatapnya punggung ayah dan anak itu hingga menghilang dari pandangannya. Selama dua hari esok pasti Kinara akan merindukan Delisha. Hari ini Nining memang sengaja tidak ikut Delisha karena memang ini adalah permintaan tambahan yang di minta oleh Geffie ketika di pengadilan. Sebagai seorang pengasuh, Nining hanya boleh ikut bersama Delisha pada hari minggunya sedangkan hari sabtu Delisha khusus menghabiskan waktu hanya bersama Geffie saja.


Kinara mendudukkan dirinya di salah satu bangku taman. Terdengar helaan nafas berulang kali dari Kinara, menandakan dirinya saat ini tengah gusar padahal Delisha baru saja pergi beberapa menit yang lalu.


"Harusnya tadi aku tidak mengijinkan Delisha pergi, apa aku susul Delisha saja ya?" ucap Kinara pada diri sendiri dengan frustasi. "Arg Kinara, bahkan Delisha baru saja pergi beberapa menit yang lalu tapi kamu malah sudah sefrustasi ini, bagaimana kalau dalam waktu berbulan bulan?" ucapnya lagi sambil mengacak acak rambutnya kasar dengan posisi menunduk menatap ke bawah.


Di saat Kinara tengah dilanda kegundahan akan langkah yang telah ia ambil sendiri, sebuah suara lantas mengejutkan dirinya.


Kinara mendongak perlahan menatap suara siapa yang baru saja memanggilnya itu. "Rian?" ucap Kinara kala melihat sosok Rian tengah berdiri di hadapannya.


"Kamu sedang apa di sini? olahraga pagi?" tanya Rian sambil menatap penampilan Kinara dari atas hingga bawah yang tentu saja penampilan Kinara bukanlah penampilan seseorang yang akan berolahraga pagi tentunya.


"Aku baru saja mengantar Delisha." ucap Kinara dengan raut wajah yang sedih di setiap ucapannya.


"Oh iya hari ini weekend ya? saatnya Delisha bersama ayahnya." ucap Rian kemudian.

__ADS_1


"Ya kau benar dan aku malah berakhir dengan menyesal telah menyetujui hal itu." ucap Kinara dengan lirih.


"Jangan berpikir yang tidak perlu, usia Delisha juga masih membutuhkan sosok seorang ayah. Bukankah kamu terlalu egois jika menginginkan Delisha sepenuhnya? padahal peran kedua orang tua sangatlah penting dalam tumbuh kembang anak." ucap Rian mencoba berpendapat karena sepertinya Kinara saat ini butuh seseorang yang bisa memberikan pendapat sekaligus menenangkan hatinya yang tengah gundah.


Mendengar ucapan Rian barusan membuat Kinara lantas menghela nafasnya panjang. "Aku membenci perkataan mu walau itu adalah sebuah kebenaran. Aku akui aku memang egois, hanya saja rasanya... terlalu susah untuk di jelaskan dengan kata kata." imbuhnya lagi.


Rian kemudian lantas menepuk bahu Kinara pelan seakan memberikan dorongan mental untuk Kinara. "Aku yakin kamu bisa memisahkan perasaan keduanya Ra, antara egois dan juga kebutuhan kamu pasti lebih tahu mana yang terbaik untuk Delisha." ucap Rian kemudian.


Disaat Rian dan Kinara sedang berbincang dan saling memberikan solusi suara Kafeel yang tiba tiba mengejutkan keduanya, membuat tangan Rian yang semula menepuk pundak Kinara perlahan lantas turun.


"Ra kamu di sini!" ucap Kafeel secara tiba tiba membuat Kinara dan juga Rian langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Iya, ada apa Kaf?" tanya Kinara kemudian.


"Nining tadi mencari mu sepertinya sesuatu yang penting." ucap Kafeel.


Mendengar hal itu Kinara lantas bangkit kemudian bersiap pergi dari sana.


"Aku pulang dulu terima kasih atas sarannya." ucap Kinara sambil melenggang pergi dari sana.


Rian menatap kepergian Kinara dengan tatapan yang tidak bisa terbaca, namun bagi Kafeel ia sungguh mengerti arti dari tatapan Rian pada Kinara meski Rian tak mengatakan apapun.

__ADS_1


"Hentikan apapun yang ingin kau mulai itu karena Kinara hanya milik ku." ucap Kafeel yang lantas membuat Rian menoleh ke arahnya.


Bersambung


__ADS_2