Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Mendengarnya saja sudah tidak sudi


__ADS_3

Di dalam mobil, Rendy nampak berpikir keras menerka sekaligus menghubungkan jalur yang di tempuh Rian pertama dan terakhir kalinya namun anehnya tetap saja tidak ketemu.


"Ah sial, kemana sebenarnya Rian pergi? kenapa sama sekali tidak ada petunjuk? benar benar sialan!" ucap Rendy dengan kesal sambil sesekali memukul stir mobilnya saking kesalnya.


Rendy kemudian lantas merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan mendial nomer seseorang di sana.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Aku sudah mengirimi mu beberapa foto, cepat cari dia di manapun keberadaannya dan laporkan kepada ku segera." ucap Rendy dengan nada penuh penekanan di setiap perkataannya.


"Siap bos akan saya kerjakan segera." ucapnya lagi.


"Bagus, lakukan dengan cepat karena aku tidak bisa menunggu lagi." ucap Rendy kemudian.


"Tentu saja bos anda tidak perlu khawatir." ucapnya, baru setelah mendengar hal tersebut Rendy lantas mematikan panggilan ponselnya.


Setelah telpon singkat itu, Rendy kemudian lantas melajukan mobilnya meninggalkan apartment Kafeel karena masih banyak pekerjaan yang harus ia urus termasuk menghancurkan duo kampret Geffie dan Nabila hingga ke akar akarnya.


*****


Sementara itu di depan rumah kontrakan Kinara, terlihat Delisha sedang bermain bersama Nining dan juga Ratih di halaman. Seulas senyum nampak terukir indah di wajah cantik Kinara ketika melihat Delisha yang tampak bahagia saat ini. Kinara tidak menyangka bahwa Delisha akan langsung menyukai tempat yang asing untuknya maupun untuk Kinara. Mungkin karena sikap baik hati dan penyayang yang di tunjukkan oleh Ratih membuat Delisha nyaman berada di sisinya.


"Syukurlah jika Delisha menyukai tempat ini." ucap Kinara lirih sambil masih menatap ke arah Delisha.


Rian yang melihat Kinara tengah asyik menatapi Delisha yang sedang bermain, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kinara berada membuat Kinara lantas menoleh ke arah Rian yang baru saja datang dan duduk di sebelahnya.


"Bagaimana Ra? apa kamu suka tempatnya?" tanya Rian sambil menatap ke arah Kinara yang tengah tersenyum menatap ke arah Delisha.

__ADS_1


"Kalau aku sih tidak masalah selagi Delisha menyukainya aku juga suka." ucap Kinara yang lantas di balas Rian dengan anggukan. "Btw terima kasih banyak yan berkat kamu aku bisa memulai hidup baru, tidak hanya itu aku juga di pertemukan dengan bu Ratih yang bisa mengobati rasa kangenku pada ibu ku." ucap Kinara tulus dari hatinya membuat Rian tersenyum ketika mendengarnya.


"Jadi kamu berterima kasih padaku atau pada ibuku nih?" ucap Rian menggoda.


"Jangan aneh aneh deh, bukankah keduanya sama saja." ucap Kinara kemudian memperingati.


"Oke oke maaf" ucap Rian sambil tersenyum. "Oh ya habis ini aku akan kembali ke ibu kota ada beberapa hal yang harus aku urus, apa ada yang kamu inginkan di sana biar sekalian mampir." ucap Rian kemudian.


Mendengar pertanyaan Rian barusan membuat Kinara lantas terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Em... apa ya?" ucap Kinara nampak berpikir dengan keras. "Bisakah kamu mampir ke butik dan mengecek sebentar ke sana?" tanya Kinara kemudian.


"Tentu saja bisa." ucap Rian sambil tersenyum manis kearah Kinara.


"Terima kasih yan" ucap Kinara kemudian sambil tersenyum manis ke arah Rian yang juga di balas senyuman juga oleh Rian.


******


Apartment Golden Place


Nabila melangkahkan kakinya naik menuju ke lantai atas di mana unit apartment Kafeel berada. Hari ini Nabila harus benar benar memberi peringatan kepada Kafeel karena terus terusan ikut campur dengan kehidupannya.


Ketika Nabila baru saja keluar dari lift tanpa ia harus bersusah payah dari pintu apartment terlihat Kafeel baru saja keluar dari unit apartemennya.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, ada beberapa hal yang harus ku bicarakan dengan mu." ucap Nabila yang lantas membuat langkah kaki Kafeel terhenti dan menatap kearahnya.


"Aku mohon sebaiknya kamu jangan mengganggu jalan ku dan juga berbuat gaduh di lantai ini!" ucap Kafeel kemudian memperingati Nabila seakan tahu apa yang hendak di bahas oleh Nabila.

__ADS_1


"Apa sebenarnya mau mu Kaf? kenapa kamu selalu saja mempersulit hidup ku? apa tak cukup kau menceraikan ku?" ucap Nabila kemudian dengan lantang membuat Kafeel lantas langsung menoleh ke arahnya ketika mendengar ucapan Nabila barusan.


"Kau jangan mengada ngada Bi, kau dulu yang memulai mengibarkan bendera perang dengan ku! kau kira aku tidak tahu semua kelakuan mu selama ini?" balas Kafeel kemudian.


Mendengar hal itu Nabila lantas terdiam, dugaannya selama ini tentang Kafeel adalah benar di mana Kafeel sudah mengetahui segala perbuatannya.


"Aku... aku tidak melakukan apapun! atau jangan jangan kau masih mencintai ku ya? hingga melakukan semua ini agar aku kembali!" ucap Nabila kemudian berdalih mencari alasan menghindari Kafeel yang terus menyudutkannya.


Kafeel yang mendengar hal itu lantas tercengang menatap tak percaya ke arah Nabila, bisa bisanya wanita di hadapannya ini begitu pede dan angkuhnya mengatakan hal itu dari mulut kecilnya.


Kafeel yang geram akan ucapan Nabila lantas menarik tangannya kemudian mendorongnya hingga ke sudut tembok, lalu mencengkram dagunya dengan kuat sambil menatap tajam ke arah Nabila.


"Kau wanita ular jangan pernah bermimpi dengan tinggi! kau kira kau bisa lolos begitu saja setelah semua yang kau lakukan padaku dan juga pada Kinara? jangan berharap." ucap Kafeel dengan nada yang penuh penekanan. "Kau bilang masih mencintai mu? cih mendengarnya saja aku sudah tidak sudi. Aku bahkan bertanya tanya mengapa dulu aku bisa mencintai wanita ular seperti dirimu." imbuh Kafeel kemudian sambil menatap jijik ke arah Nabila.


Nabila yang diperlakukan seperti itu lantas mulai memberontak karena merasakan sakit di dagunya akibat cengkraman tangan Kafeel yang terlalu kuat.


"Lepaskan... aku Kaf... lepaskan!" ucap Nabila sambil meronta ronta.


Kafeel hanya tersenyum sinis mendengar hal itu kemudian tidak berapa lama melepaskan Nabila begitu saja dan melenggang pergi dari sana meninggalkan Nabila sendiri.


"Aku tidak akan membiarkan mu bahagia Kaf karena kebahagian mu hanya aku bukan orang lain!" ucap Nabila setengah berteriak yang lantas menghentikan langkah kaki Kafeel.


Mendengar teriakan Nabila barusan Kafeel lantas berbalik badan dan bertepuk tangan kecil sambil tersenyum, membuat Nabila lantas kebingungan ketika melihat reaksi Kafeel barusan.


"Bagus... bagus sekali akting mu...luar biasa." ucap Kafeel sambil kembali mendekat ke arah Nabila kemudian sedikit menunduk untuk membisikkan sesuatu kepada Nabila. "Kau jangan bermimpi... karena sebelum kau melakukan hal itu aku yang akan menghancurkan mu terlebih dahulu, bukankah kau sudah mulai merasakan permulaannya?" bisik Kafeel tepat di telinga Nabila yang lantas membuat Nabila terdiam seribu bahasa, tanpa di katakan oleh Kafeel pun Nabila sudah mengetahuinya bahwa semua kemalangannya adalah ulah dari Kafeel.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2