
Di sebuah rumah kontrakan tepatnya di daerah Jakarta Utara, terlihat sebuah televisi sedang menyala menampilkan siaran berita yang sedang happening pagi ini. Dalam berita tersebut berisi tentang penangkapan Kinara seorang desainer muda dan berbakat yang melakukan pembunuhan kepada seorang manager di salah satu perusahaan besar di ibu kota.
Seorang wanita tengah menatap kosong ke arah televisi di hadapannya. Ia benar benar tidak tahu haruskah ia senang, bahagia atau malah sedih di saat saat seperti ini. Ia tadinya sangat bersyukur setelah mengetahui Fathan meninggal dengan tragis waktu itu, hanya saja setelah mengetahui berita penangkapan Kinara, ada perasaan bersalah yang tiba tiba membumbung di hatinya ketika melihat Kinara harus mendekam di penjara dalam keadaan yang tidak bersalah.
"Haruskah aku yang menyerahkan diri ke kantor polisi? kasihan bu Kinara..." ucapnya dengan nada yang sendu menatap ke arah layar televisi miliknya.
****
Sementara itu setelah Kinara di gelandang ke kantor polisi, Kinara di bawa ke sebuah ruangan interogasi yang gelap dan hanya terdapat satu lampu gantung di ruangan tersebut. Kinara di arahkan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana, menunggu petugas yang akan menginterogasinya lima menit lagi.
Sambil menunggu petugas tersebut Kinara menatap sekeliling ruangan itu dengan seksama, ada perasaan takut dan gugup ketika melihat ruangan ini yang lebih mirip dengan ruangan penyiksaan seperti yang ada di serial serial televisi yang pernah Kinara tonton.
Tak tak tak tak
Suara ketukan heels yang beradu dengan lantai mulai terdengar di telinga Kinara, seiring terdengarnya bunyi barusan seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa berkas dan juga rotan di tangannya, membuat Kinara lantas menelan salivanya dengan kasar ketika melihat hal tersebut.
"Akankah aku berakhir di sini?" batin Kinara dalam hati ketika melihat wanita itu melangkah mendekat ke arah Kinara dan mengambil duduk di depannya.
Kinara yang melihat wanita itu duduk di hadapannya lantas langsung menunduk tidak berani menatap manik mata wanita itu yang tajam.
Brak
__ADS_1
Suara beberapa lembar buku dan juga rotan yang di taruh dengan kasar lantas mengejutkan Kinara yang tengah menunduk sedari tadi.
"Delisha berikan mama kekuatan nak... mama benar benar takut..." ucapnya dalam hati sambil tak henti hentinya berdoa.
"Kinara Nafasya Jeslyn setelah aku melihat riwayat mu tidak ada masalah semuanya baik dan bersih." ucap wanita tersebut dengan nametag Lila di dadanya.
Mendengar ucapan wanita itu Kinara hanya diam berusaha sebisa mungkin untuk tidak memperkeruh keadaan dan mempersulit Kafeel. Ucapan Kafeel yang mengatakan kepada Kinara untuk lebih banyak diam terngiang di kepalanya, membuat Kinara sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak menolak ataupun memberontak dalam proses interogasi ini.
"Kenapa kau terus menunduk? angkat kepala mu! jangan berlagak seperti korban di sini aku sudah sering menjumpai penjahat kelas kakap seperti dirimu." ucap Lila dengan ketus sambil memukulkan rotan yang ia bawa pada meja di hadapannya.
"Aku bisa... aku kuat... aku mampu..." ucap Kinara dalam hati terus mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Sedangkan Kinara yang mendapat perlakuan tersebut hanya bisa mengangkat kepalanya mengikuti tarikan tangan Lila sambil meringis tanpa bisa memberontak ataupun melawan Lila.
"Tinggal mendongak seperti itu saja susah sekali, biar aku tatap matamu dan mencari kebenaran." ucap Lila sambil melepaskan genggaman tangannya dari rambut Kinara. "Aku suka manik mata itu, tampak diam namun menghanyutkan." ucap Lila dengan tersenyum sinis menatap ke arah Kinara yang juga tengah menatapnya saat ini.
Lila menatap ke arah Kinara cukup lama lalu tersenyum, tatapannya benar benar tidak bisa Kinara baca sama sekali. Sedangkan Kinara yang tetap memilih diam sedari tadi, membuat Lila lantas bangkit dari tempat duduknya dan melangkah perlahan memutari Kinara.
"Katakan pada ku dengan sejujurnya, apa yang kamu lakukan di perusahaan W Food siang itu?" tanya Lila setengah berteriak membuat Kinara lagi lagi lantas terkejut. "Kenapa kau hanya diam? jawab pertanyaan ku sekarang!" ulangnya lagi sambil menggebrakkan rotan ke meja hingga membuat bunyi yang cukup nyaring terdengar memenuhi ruangan tersebut.
"Saya... saya hanya datang karena urusan pekerjaan tidak ada hal yang lain." ucap Kinara kemudian dengan nada yang lirih.
__ADS_1
Keringat dingin mulai membasahi dahinya, Kinara benar benar takut ia akan salah bicara di sini. Ia tidak mau menyulitkan Kafeel sekaligus memberatkan hukumannya karena Kinara tahu di saat saat seperti ini pasti akan banyak sekali pertanyaan jebakan yang akan di berikan kepadanya. Apabila Kinara salah satu saja menjawab, pasti akan muncul spekulasi spekulasi lain yang memicu kecurigaan pihak kepolisian semakin besar terhadapnya.
"Oh ya? lalu bagaimana bisa urusan pekerjaan berubah menjadi pembunuhan, apa pekerjaan yang kau maksud adalah membunuh seseorang?" ucap Lila kemudian membalikkan ucapan Kinara barusan yang lantas membuat Kinara terdiam seketika. Bagaimana bisa wanita di hadapannya ini membalikkan ucapannya begitu saja?
Kinara lantas terdiam seribu bahasa, ia benar benar tidak ingin lagi menjawab pertanyaan Lila atau nantinya akan kembali berakhir dengan di balikkan seperti barusan.
Lila yang melihat Kinara diam lantas menjadi kesal karena sedari tadi yang dilakukan Kinara hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Lila lantas mencengkram dagu Kinara dengan erat dan mengarahkannya menghadap ke arahnya.
"Jangan pernah bermain main dengan ku! katakan saja kau membunuhnya dengan begitu hukuman mu tidak akan terlalu berat!" ucap Lila dengan penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah Kinara.
Ketika keduanya sedang terlibat pertikaian lewat tatapan mata masing masing, sebuah suara pintu terbuka dengan tiba tiba membuat Lila lantas melepas cengkeramannya begitu saja dan langsung menatap ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Permisi bu, kuasa hukum saudara Kinara sedang menunggu di depan dan ingin bertemu dengan saudara Kinara sekarang." ucap seorang petugas polisi yang baru saja masuk ke dalam.
"Baiklah" ucap Lila dengan singkat, setelah memberikan laporan tersebut polisi itu lantas keluar dari sana meninggalkan ruangan tersebut.
Lila menatap Kinara dengan tatapan yang sinis hingga membuat Kinara bingung akan maksud dari tatapan Lila barusan. "Cih, orang kaya selalu sama saja. Kau ingin lolos menggunakan kuasa hukum mu rupanya, benar benar menggelikan!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Kinara dengan tatapan yang jijik kemudian melenggang pergi meninggalkan Kinara seorang diri di sana.
"Akankah aku sanggup menjalani segala cobaan mu Tuhan?" ucap Kinara dalam hati sambil terus menatap ke arah pintu yang sudah tertutup dengan rapat itu.
Bersambung
__ADS_1