Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Apa yang sedang kalian lakukan?


__ADS_3

Keesokan harinya di bandara internasional.


Seorang wanita kisaran umur 70 tahunan terlihat berjalan dengan angkuhnya keluar dari bandara sambil menatap ke kanan dan ke kiri seperti tengah mencari seseorang. Wanita itu kemudian tampak tengah menghubungi seseorang di sana kemudian menutup telponnya begitu saja.


Tak berapa lama sebuah mobil keluaran terbaru dengan warna hitam metalik nampak berhenti di depannya, setelah itu wanita tersebut lantas langsung masuk ke dalam dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di sana.


**


"Bagaimana kabar cucu ku?" tanya wanita tersebut ketika sudah berada di dalam mobil, yang ternyata adalah Arsa ibu dari Adhitama sekaligus nenek dari Kafeel dan juga Rian.


"Tentu saja dalam keadaan yang baik, hanya saja ia kini tengah berada di luar kota untuk menyelesaikan urusannya." ucap Adhitama beralasan.


"Sayang sekali aku tidak bisa langsung melihat cucuku itu padahal aku sangat merindukannya." ucap Arsa dengan nada sendu pada setiap ucapannya.


"Sabarlah ma, Kafeel tidak akan lama di sana mungkin beberapa hari lagi ia akan kembali ke Jakarta." ucap Adhitama menenangkan ibunya.


"Lalu apakah kamu sudah bertemu dengan wanita itu?" ucap Arsa ambigu membuat Adhitama kebingungan siapa sebenarnya yang di maksud oleh Arsa.


"Maksud mama siapa?" tanya Adhitama kemudian karena takut ia akan salah menjawab pertanyaan ibunya itu.


Mendengar Adhitama malah melempar pertanyaan kembali padanya membuat Arsa lantas berdecak dengan kesal ketika mendengarnya. "Siapa lagi kalau bukan wanita yang meninggalkan cucuku di hari pernikahan mereka." ucap Arsa dengan kesal.


"Ah maksud mama Kinara? ya aku sudah bertemu dengannya, dia tidak terlalu buruk seperti yang kita pikirkan selama ini. Waktu itu hanya ada kesalahpahaman kecil saja pada keduanya namun berbuntut melepas karena kurangnya komunikasi dari keduanya." ucap Adhitama mencoba untuk tidak menjelekkan Kinara karena ia tahu mamanya pasti akan langsung terpancing jika mengetahui alasan sebenarnya gagalnya pernikahan Kafeel waktu itu, meski Kinara sama sekali tidak bersalah dalam hal ini karena ia juga di jebak saat itu.


"Kau jangan terlalu lembek jadi orang tua tegas lah sedikit. Kau pikir mama bodoh? jika hanya kesalahpahaman kecil tidak mungkin pernikahan keduanya bisa batal. Kau selalu saja menutupi semuanya dari mama." ucap Arsa dengan kesal karena dari dulu sampai sekarang Adhitama selalu saja menutupi segalanya darinya, membuat Arsa harus turun tangan sendiri dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


"Kenapa mama selalu saja tidak percaya pada ku? jika mama tidak mempercayai ucapan ku harusnya mama tidak usah bertanya, bukankah itu akan membuang waktu mama?" ucap Adhitama dengan nada yang merajuk pada Arsa membuat Arsa lantas menghela nafas panjang ketika mendengar tanggapan Adhitama barusan


"Dasar anak nakal" ucap Arsa dengan lirih sambil menyudahi percakapannya karena ia tahu Adhitama sedang kesal saat ini setelah mendengar ucapannya tadi.


***


Kediaman Kinara


Karena hari ini adalah weekend, Kinara berniat untuk melakukan sedikit olahraga dengan berlari lari kecil memutari taman kompleks. Kinara melangkahkan kakinya menuju kamar Delisha berniat untuk mengajak Delisha lari pagi juga, namun ketika ia sampai di sana terlihat Delisha tengah tertidur dengan lelapnya membuat Kinara tidak tega untuk membangunkan Delisha dan mengajaknya untuk lari pagi.


"Ning jika Delisha bangun katakan aku pergi ke taman sebentar untuk lari pagi. Aku tidak tega jika harus membangunkan tidurnya saat ini." ucap Kinara ketika melihat Nining keluar dari arah dapur.


"Ia bu, ibu tenang saja tak perlu risau." jawab Nining dengan tersenyum.


**


"Baiklah walau Kinara menolak ku seribu kali, aku akan tetap berusaha berkali kali lipat untuk meluluhkan kembali hatinya." ucap Kafeel dengan nada yang yakin dan penuh percaya diri.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya sebuah suara yang lantas membuat Kafeel langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kenapa selalu saja kau lagi dan kau lagi." ucap Kafeel dengan kesal sambil menatap ke arah Rian yang tengah berjalan mendekat ke arah rumah Kinara lengkap dengan pakaian olahraganya juga.


"Harusnya aku yang mengatakan hal itu padamu, bukan malah sebaliknya." ucap Rian dengan nada yang singkat sambil tetap melanjutkan langkahnya menuju rumah Kinara.


Kafeel yang melihat Rian sudah hampir dekat dan mulai menginjakkan kaki di teras rumah Kinara, membuat Kafeel lantas mempercepat langkah kakinya menuju ke arah rumah Kinara. Kafeel berusaha menyusul langkah Rian di sana dan langsung sedikit mendorongnya agar bergeser dari sana. Rian yang tidak terima akan hal itu malah balas mendorong Kafeel. Pada akhirnya terjadilah aksi saling dorong dari keduanya tepat di ambang pintu rumah kontrakan milik Kinara.

__ADS_1


"Aku dulu!" ucap Kafeel sambil mendorong sedikit tubuh Rian.


"Tidak bisa aku dulu!" ucap Rian tidak mau kalah dan membalas dorongan Kafeel.


Sedangkan Kinara yang memang sedang hendak melangkah keluar, lantas langsung mempercepat langkahnya ketika mendengar suara ribut ribut di luar rumahnya. Kinara lantas menghela nafasnya panjang ketika ia keluar dan melihat Rian dan juga Kafeel tengah melakukan aksi dorong dorongan layaknya anak kecil.


"Astaga... apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan sekarang?" ucap Kinara setengah berteriak yang lantas langsung menghentikan aksi keduanya.


Kafeel dan juga Rian yang mendengar suara Kinara lantas langsung terdiam dan membenarkan posisi mereka masing masing kemudian tersenyum manis ke arah Kinara. Kinara yang melihat hal itu lantas langsung bersendekap dada sambil menatap ke arah keduanya yang tengah tersenyum seperti orang idiot.


"Apa kalian tidak punya kerjaan hingga pagi pagi harus ribut di depan rumah orang?" ucap Kinara sambil menatap ke arah Kafeel dan juga Rian secara bergantian.


"Dia yang memulainya terlebih dahulu Ra." ucap Rian kemudian sambil menatap ke arah Kafeel.


"Aku tidak melakukan apapun, kau yang mendorong ku tadi." ucap Kafeel tak mau kalah.


"Kau tadi yang mendorong ku duluan, kenapa jadi aku?" ucap Rian tidak terima dengan perkataan Kafeel barusan yang malah menyalahkan dirinya.


"Aku tidak pernah mendorong mu yang tadi itu aku tidak sengaja menabrak mu, kau saja yang sewot." ucap Kafeel kembali membela diri.


Sedangkan Kinara yang mendengar keduanya beradu mulut lantas langsung memijat pelipisnya perlahan yang terasa berdenyut, ketika melihat pertengkaran dua bersaudara ini di depan rumah kontrakannya.


"Hentikan!" teriak Kinara yang lantas langsung membuat keduanya diam tidak bersuara lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2