Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Pengacara selalu saja banyak bicara


__ADS_3

Rian menatap kepergian Kinara dengan tatapan yang tidak bisa terbaca, namun bagi Kafeel ia sungguh mengerti arti dari tatapan Rian pada Kinara meski Rian tak mengatakan apapun.


"Hentikan apapun yang ingin kau mulai itu karena Kinara hanya milik ku." ucap Kafeel yang lantas membuat Rian menoleh ke arahnya.


"Kinara bahkan baru saja bercerai, bukankah terlalu dini untuk mengklaim bahwa Kinara itu milik mu?" ucap Rian dengan santainya.


"Aku tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membuat Kinara menjadi milik ku, hanya saja kini aku sedang memberikan Kinara waktu untuk mengobati luka lamanya, bukan untuk membiarkan mu masuk dan merebut hatinya begitu saja!" ucap Kafeel dengan tegas.


"Anda sepertinya pandai sekali bermain kata kata. Aku akui anda adalah rajanya, hanya saja kepada siapa hati Kinara nanti berlabuh, itu tidak akan bergantung pada indahnya untaian kata yang anda rangkai melainkan hati yang pantas untuk memilikinya." ucap Rian dengan santainya sambil menepuk pelan bahu Kafeel kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Kafeel sendiri yang menatap kepergian Rian dengan tatapan menghunus tajam.


"Kenapa pengacara selalu saja banyak bicara? dasar mengesalkan!" gerutu Kafeel setelah kepergian Rian dari sana.


**


Sementara itu Kafeel yang tadi mengatakan bahwa Nining tengah mencarinya, Kinara lantas langsung bergegas dan juga masuk ke dalam apartment.


"Ning... Nining..." panggil Kinara kala memasuki apartemennya.


"Iya bu..." ucap Nining dari arah dapur berlarian menghampiri Kinara, kala suara Kinara cukup membuatnya terkejut ketika ia sedang sibuk mencuci piring.


"Ada apa mencari ku Ning?" tanya Kinara kemudian.


"Saya? kapan ya bu?" tanya Nining dengan bingung.


"Tadi Kafeel mengatakan kepada ku kalau kamu sedang mencari ku." ucap Kinara lagi.


"Emang iya ya bu? kenapa saya lupa ya..." ucap Nining sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya sudah lupakan saja tidak perlu dipikirkan." ucap Kinara kemudian.

__ADS_1


*********


Sementara itu Geffie menghabiskan waktunya berdua dengan Delisha berkeliling Jakarta, melihat lihat kebun binatang sekalian mampir ke Dufan. Delisha nampak bahagia dan menikmati waktu berduanya bersama Geffie.


"Apa Delisha senang?" tanya Geffie ketika berada di dalam mobil setelah puas berkeliling bersama.


"Iya yah Delisha senang sekali, lain kali kita ajak bunda juga ya yah?" ucap Delisha sambil tersenyum, sedangkan Geffie yang mendengar permintaan Delisha barusan bingung harus menjawabnya bagaimana karena permintaan Delisha pasti akan sangat sulit untuk di wujudkan.


"Nanti kita atur waktunya ya... " ucap Geffie sambil tersenyum kemudian kembali fokus menatap jalanan sekitar.


Geffie lantas melajukan mobilnya menuju ke arah rumahnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota pada sore hari, sambil menikmati sunset di antara gedung gedung tinggi yang menjulang di sepanjang jalan menuju ke rumah.


**


Beberapa menit kemudian mobil Geffie berhenti tepat di halaman depan rumahnya. Geffie dan Delisha lantas perlahan turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Wah ada Delisha rupanya hari ini." ucap sebuah suara yang lantas membuat Geffie dan juga Delisha menatap ke arah sumber suara.


"Kamu terlalu berlebihan Gef, mama bahkan tidak pernah memulai perselisihan hanya saja kamu yang selalu salah paham akan ucapan mama." ucap Sila dengan nada yang datar.


"Ayo kita ke kamar Delisha." ucap Geffie kemudian seakan mengacuhkan ucapan Sila barusan.


"Anak anak jangan dibiasakan tidur sore hari itu tidak baik. Lebih baik kau ajari dia hal hal yang menyenangkan sehingga ia bisa lupa akan ibunya." ucap Sila lagi memberikan saran.


"Oh ya? misalnya seperti apa? seperti mengurusi hidup orang lain? apakah itu sangat menyenangkan bagi mama? jika mama tidak tahu apapun sebaiknya mama diam dan tidak usah ikut campur urusan ku." ucap Geffie kemudian sambil menuntun Delisha menuju ke arah kamarnya.


Sementara Sila yang mendengar ucapan Geffie barusan hanya terdiam sambil menatap ke arah keduanya hingga menghilang dari pandangannya.


"Anak anak jaman sekarang sulit sekali untuk di kasi tahu." ucap Sila kemudian setelah kepergian Geffie dan juga Delisha dari sana.

__ADS_1


Selang beberapa menit, Ardi nampak masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang suram, membuat Sila yang melihat wajah itu lantas langsung bertanya tanya apa yang tengah terjadi pada suaminya itu. Sila melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardi berada untuk menanyakan padanya secara langsung.


"Ada apa dengan wajah mu itu?" tanya Sila dengan raut wajah yang penasaran.


"Tidak ada aku hanya lelah." jawabnya berdalih.


Mendengar jawaban dari Ardi, Sila seperti merasa kurang puas kemudian mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. Entah dapat dari mana? sebuah alasan yang mungkin masuk akal tiba tiba terlintas di benaknya, hanya saja Sila tidak begitu yakin jika ini adalah penyebab wajah suaminya terlihat murung.


"Kau kalah judi ya?" tebak Sila tiba tiba yang lantas membuat Ardi terlihat diam mati kutu. Sila yang melihat Ardi diam, meski tanpa Ardi mengatakannya pun Sila tahu bahwa tebakannya barusan adalah benar. "Uang mana yang kau pakai untuk berjudi? jawab!" imbuh Sila kemudian.


"Uang tabungan kita... aku kira aku bisa melipatgandakannya jika kita menang tapi ternyata semuanya raib karena aku kalah dalam meja judi." ucap Ardi dengan nada yang lirih menjelaskan semua pertanyaan Sila barusan.


"Kau benar benar suami tidak berguna! bukannya merintis usaha kembali malah membuat tabungan habis di meja judi..." ucap Sila setengah berteriak sambil mulai melempari Ardi dengan bantal sofa berkali kali.


Sedangkan Ardi yang mendapat serangan tersebut, lantas langsung bangkit dan menghindar dari amukan Sila sebisa mungkin.


"Niat papa kan baik ma, mama harusnya dukung bukan seperti ini." ucap Ardi tak ingin kalah sambil terus mencoba menghindari amukan Sila.


"Mendukung gundul mu! otak mu di taruh di mana ha? apa karena sudah tua jadi otak mu itu turun mesin? kemari kau! aku akan memberi mu pelajaran." ucap Sila dengan kesetanan.


**


Di kamar Delisha.


Geffie dan Delisha yang mendengar suara gaduh di luar lantas langsung terdiam. Posisi kamar Delisha yang berada tepat di dekat ruang tengah membuatnya bisa mendengar dengan jelas segala ucapan demi ucapan Sila dan juga Ardi.


Delisha mulai menutup kedua telinganya, bayangan demi bayangan pertengkaran Kinara dengan Geffie kala itu mulai terlintas kembali di ingatan Delisha. Gadis kecil itu sedikit menjauh dari Geffie dan pergi duduk berjongkok di lantai dekat ranjang miliknya.


"Ternyata Delisha benar benar bisa mendengarnya dari sini." ucap Geffie sambil diam mematung melihat lurus ke arah Delisha.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2