Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Kecolongan lagi


__ADS_3

Setelah dari perusahaan W Food Kafeel membawa Kinara menuju apartment miliknya. Kafeel memberi Kinara pakaian pemberiannya yang dulu ia tinggalkan di unit apartemennya begitu saja. Kinara melangkahkan kakinya menuju ke kamar Kafeel untuk berganti pakaian tanpa kata ataupun sanggahan sama sekali.


Sedangkan Kafeel lantas mendudukkan dirinya di sofa sambil memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut memikirkan masalah ini.


"Kenapa harus Kinara targetnya sih?" ucap Kafeel dengan kesal pada dirinya sendiri. "Devan sudah benar benar keterlaluan kali ini!" imbuhnya kemudian.


Dari arah depan Rendy nampak berjalan dengan langkah terburu buru mendekat ke arah di mana Kafeel berada dengan wajah yang serius.


"Maaf bos saya terlambat" ucap Rendy kemudian.


Mendengar ucapan Rendy barusan Kafeel lantas terdiam dan tetap memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Bukankah aku sudah menanyakan mu berkali kali tentang hal ini? kenapa kau selalu saja terlambat Ren?" ucap Kafeel kemudian dengan nada yang kesal namun masih berusaha ia tahan karena mengingat Kinara sedang berada di dalam.


"Saya benar benar tidak tahu kalau Kinara jadi target Devan hingga separah ini bos." ucap Rendy lagi yang malah membuat amarah Kafeel memuncak.


"Kau..." teriaknya namun tertahan dan tidak jadi Kafeel lanjutkan. "Katakan bagaimana situasinya saat ini?" tanya Kafeel kemudian berusaha sebisa mungkin meredam emosinya.


"Fathan meninggal di tempat bos dan di duga Kinara lah yang melakukannya. Devan sudah membawa kasus ini ke kepolisian saya yakin besok atau lusa akan ada polisi yang mencari keberadaan Kinara." ucap Rendy menjelaskan semua yang ia dengar dan ketahui dari kaki tangannya.


"Tidak mungkin Kinara melakukan hal itu kalau tidak ada penyebabnya! apa kau sudah memeriksa kamera pengawas di ruangan Fathan?" tanya Kafeel kemudian.


"Kamera tersebut sedang dalam kendala ketika pertikaian itu terjadi, namun saya sudah memerintahkan ahli IT dan juga hacker untuk mengecek apakah kamera pengawas di ruangan itu benar benar trouble atau memang sengaja agar memberatkan Kinara." ucap Rendy menjelaskan.


"Selidiki segalanya secepatnya aku yakin pihak kepolisian akan segera turun tangan karena masalah ini termasuk ke dalam masalah berat." ucap Kafeel memberikan perintah kepada Rendy.

__ADS_1


"Baik bos, saya permisi..." ucap Rendy kemudian melenggang pergi meninggalkan Kafeel seorang diri di sana.


Kafeel terdiam menyandarkan tubuhnya pada sofa ruang tamu sambil memandang langit langit apartemennya. Pikirannya melayang jauh memutar kembali bagaimana keadaan Kinara pagi tadi dan tangisnya yang begitu terisak, seakan mengatakan bahwa ia sedang putus asa namun tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Kafeel benar benar menyesal Kinara yang malah jadi korban akan persaingan bisnisnya. Pukulan Devan kali ini benar benar tepat mengenai Kafeel, membuatnya terdiam tidak bisa berkutik dan bingung harus melakukan apa untuk menyelamatkan Kinara.


"Memang seharusnya aku tidak mendekati Kinara waktu itu, sepertinya bertemu dengan ku adalah sebuah musibah yang tidak akan bisa membuat Kinara bahagia. Mampukah aku membahagiakannya? haruskah aku mundur agar Kinara bahagia? Arg benar benar menyebalkan." ucap Kafeel lirih pada diri sendiri sambil terus menatapi ke arah langit langit apartemennya.


Cukup lama Kafeel termenung sampai kemudian ia yang baru sadar Kinara tidak kunjung keluar juga, lantas langsung bangkit dan menatap sekeliling mencari keberadaan Kinara.


"Apa Kinara belum selesai ganti pakaiannya?" ucapnya dalam hati bertanya tanya.


Kafeel yang tidak kunjung melihat Kinara lantas langsung bangkit dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya. Ketika sampai di sana pintu kamarnya masih tertutup dengan rapat yang artinya Kinara belum keluar dari sana.


Tok tok tok tok


Ketuk Kafeel perlahan pada pintu kamarnya sambil sedikit mendekatkan telinganya ke pintu mencoba untuk mendengar suara Kinara yang kini tengah berada di dalam kamarnya. Hanya saja setelah berulang kali pintu di ketuk oleh Kafeel, tidak ada suara apapun di sana begitu tenang dan hening, membuat perasaan khawatir bercampur takut lantas memenuhi dadanya begitu saja.


***


Sementara itu Rian yang tidak kunjung mendapat telpon dari Kinara, lantas berinisiatif untuk menunggunya di lobi perusahaan W Food. Hanya saja ketika Rian sampai di sana perusahaan W Food nampak ramai seperti telah terjadi sesuatu, Rian yang memang sedari awal sudah berpikiran buruk lantas langsung keluar dari mobilnya dan mendekat ke arah kerumunan karyawan.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" ucap Rian dalam hati bertanya tanya.


Ketika sampai di depan kerumunan beberapa karyawan Rian melihat sebuah mobil ambulans terparkir di halaman depan lobi, tidak beberapa lama dari arah dalam perusahaan terlihat dua orang petugas tengah mendorong brankar yang berisi kantong mayat di atasnya, membuat Rian lantas terkejut ketika melihat fakta tersebut walau ia tidak tahu dengan pasti siapa yang meninggal.


"Gila ya? antara seneng dan kasihan sih melihat pak Fathan meninggal." ucap salah seorang karyawati tak jauh dari keberadaan Rian.

__ADS_1


"Iya betul banget, apalagi korban pelecehan dia gak hanya satu dua orang." timpal yang lainnya tak kalah heboh.


"Apa kalian tahu? kabarnya yang membunuh pak Fathan adalah korban yang di lecehkan olehnya." ucap yang lainnya.


"Benarkah? wah kalau begitu sih judulnya kematian ku di tangan wanita yang aku lecehkan." ucapnya sambil tertawa seakan senang dengan nasib tragis yang menimpa Fathan.


Mendengar hal tersebut membuat Rian lantas mundur perlahan dan pergi menjauh dari kerumunan tersebut menuju kembali ke arah mobilnya yang sedang terparkir di sana.


Rian duduk di kursinya dengan gelisah memikirkan perkataan demi perkataan dari beberapa karyawan wanita itu. Sebagai seorang pengacara menyambung satu persatu clue hingga menjadi sebuah gambaran fakta sudah menjadi makanan sehari harinya.


Rian nampak terdiam sejenak sambil mengetuk ketukan kuku kuku jarinya pada dashboard, sambil merangkai segala sesuatu sampai pada akhirnya sebuah dugaan muncul di pikirannya.


"Tidak mungkin seperti apa yang di pikiran ku bukan?" ucap Rian yang seakan terkejut dengan pemikirannya sendiri.


Rian yang tidak ingin terus menduga lantas mulai mengambil ponselnya dan mencoba mendial nomor Kinara di sana.


Satu panggilan...


Dua panggilan...


Tiga panggilan...


Sama sekali tidak ada jawaban apapun dari Kinara membuat Rian lantas frustasi di buatnya, hingga ia melempar ponselnya begitu saja karena kesal.


"Apa aku terlambat lagi kali ini? ah sial.... kenapa aku tidak pernah bisa selalu ada ketika Kinara membutuhkan ku?"ucapnya dengan nada yang kesal sambil memukul stir mobilnya berulang kali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2