Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Kau pikir kau siapa?


__ADS_3

Di saat Kafeel tengah dikeroyok oleh beberapa anak buah laki laki tersebut. Rian yang tengah berada di dalam mobil bersama dengan Irene lantas bingung dan bimbang antara meninggalkan Kafeel atau membantu dirinya. Jika mengikuti instruksi Kafeel harusnya Rian sudah menancap gas dan berlalu pergi dari sana, hanya saja Rian tidak setega itu untuk meninggalkan Kafeel di sini seorang diri.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dengan frustasi yang melihat Kafeel tengah di keroyok di depan matanya. "Jika aku pergi... bagaimana kalau dia mati di keroyok?" imbuhnya lagi.


Dok dok dok


"Buka pintunya!" teriak seseorang dari arah luar mobil sambil terus berusaha menggedor pintu mobil milik Kafeel secara keras. "Turun sekarang juga!" imbuhnya lagi.


Rian yang bingung antara pergi atau tidak malah melihat beberapa orang membawa batu dan juga alat keras lainnya menuju ke arah mobil. Rian yang melihat hal itu tentu saja paham betul akan apa yang akan di lakukan beberapa orang tersebut. Hingga kemudian Rian memilih untuk pergi dari sana meninggalkan Kafeel sendiri, walau terasa berat namun Rian harus tetap melakukannya bukan?


"Ah entahlah bodo amat... maafkan aku Kaf!" ucap Rian dengan nada yang frustasi sambil menancap gasnya dengan kencang meninggalkan tempat tersebut.


Beberapa orang yang mengerubungi mobil Kafeel lantas langsung berlari mencoba mengejarnya ketika melihat mobil tersebut berlalu, namun karena Rian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil milik Kafeel sudah berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Melihat mobil yang membawa Irene sudah pergi lantas membuat beberapa anak buah pria tersebut langsung masuk ke dalam mobil van dan mengejar mobil yang di lajukan oleh Rian barusan.


"Mau kemana kalian? ayo kita bertanding di sini!" teriak Kafeel yang melihat semua orang nampak berhamburan pergi masuk ke dalam mobil van kemudian pergi dari sana, setelah kepergian mereka kini di sana hanya tersisa Kafeel dan juga pemimpin dari rombongan itu.


Baik Kafeel dan juga laki laki itu lantas saling tatap satu sama lainnya. Keduanya seakan tak ingin melepas tatapan mata masing masing, sampai kemudian laki laki itu nampak tertawa dan melangkah mendekat ke arah Kafeel.


"Kau laki laki kecil tapi kuat juga tenaga mu ya? anak buah ku bahkan sampai kewalahan ketika menghadapi mu." ucap laki laki itu seakan memberikan apresiasi kepada Kafeel, namun Kafeel yang mendengar hal itu malah tersenyum.


"Black kobra! apa kalian sekarang masih melakukan pekerjaan ilegal di bawah tanah? apa jadinya kalau markas rahasia kalian tiba tiba terungkap? apa kalian masih bisa tersenyum seperti ini?" ucap Kafeel dengan senyum mengejek menatap ke arah laki laki itu sambil membersihkan pundak laki laki itu.

__ADS_1


Mendengar ucapan Kafeel barusan membuat raut wajah laki laki itu lantas berubah pucat, ia benar benar tidak tahu siapa yang tengah ada di hadapannya, membuat mulut laki laki itu lantas tidak bisa lagi berkata kata untuk meremehkan Kafeel. Sedangkan Kafeel yang melihat ekspresi wajah laki laki itu lantas kembali tersenyum kemudian mendekat ke arah telinga sebelah kanannya untuk membisikkan sesuatu padanya.


"Kau kira kau siapa bisa mengusik ku Baron? tikus kecil seperti mu bukankah terlalu serakah jika menginginkan hal yang lebih?" ucap Kafeel dengan nada berbisik kemudian melangkah pergi dari sana meninggalkan Baron yang masih termenung di tempatnya menatap kepergian Kafeel hingga menghilang dari pandangannya.


"Siapa sebenarnya laki laki itu? kenapa dia bisa mengetahui tentang sindikat Black Kobra?" ucap Baron pada diri sendiri bertanya tanya. "Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" ucapnya lagi pada dirinya sendiri.


**


Sementara itu Rian yang berusaha kabur dari kejaran mobil van itu, lantas melajukan mobilnya dnegan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota. Rian sudah tidak lagi memikirkan keselamatannya dan hanya fokus agar dirinya cepat sampai di kantor polisi apapun yang terjadi.


Irene nampak menggenggam kursi penumpang dengan sangat erat, baginya Rian benar benar gila ketika berkendara menghindari kejaran mereka, perutnya bahkan kini terasa seperti di aduk dan mual ketika berada di dalam.


"Pak Rian benar benar gila!" batinnya dalam hati sambil terus berpegangan dengan erat dan menahan goncangan yang terjadi di mobil secara berkali kali.


Rian terlihat beberapa kali melirik ke arah kaca spionnya untuk mengecek apakah mobil van itu masih mengejarnya atau tidak.


"Ini bahkan sudah sangat cepat, melesat katanya? melesat yang bagaimana lagi? apa lebih cepat dari ini?" ucapnya dalam hati sambil menatap ke arah Rian dengan tatapan yang melongo tak percaya.


Seperti ucapannya Rian benar benar menancap gas mobilnya dengan kencang, suasana jalan raya yang tidak terlalu padat begitu menguntungkan Rian untuk melajukan mobilnya dengan cepat.


"Awas pak!" teriak Irene tiba tiba ketika melihat sebuah mobil van mendadak keluar dari pertigaan dan menghadang laju mobil Rian.


Rian yang cukup terkejut dengan kemunculan mobil tersebut yang tiba tiba, lantas menginjak rem dengan mendadak dan membanting stir ke sebelah kiri yang langsung membuat mobil yang dikendarainya menabrak sebuah pohon rindang.

__ADS_1


Kepulan asap sedikit terlihat keluar dari mobil milik Kafeel yang menabrak pohon.


"Kau tak apa?" tanya Rian sambil memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Tidak apa pak" ucap Irene dengan lirih sambil menggerakkan tangannya yang sedikit sakit karena terbentur pintu mobil.


Beruntung sekali keputusan Rian untuk menginjak rem sangatlah tepat, sehingga ketika mobil menabrak batang pohon dalam kecepatan yang rendah dan tidak terlalu menimbulkan benturan yang parah.


Di saat Rian dan juga Irene masih terkejut akan kejadian barusan, seorang laki laki mendadak membuka pintu bagian belakang mobil dengan kasar kemudian menyeret Irene keluar dari sana.


"Lepaskan aku! lepaskan!" teriak Irene yang di seret dengan paksa oleh seorang laki laki.


Rian yang mengetahui Irene hendak di bawa oleh beberapa orang, lantas langsung keluar dari mobil dan berusaha mengejar laki laki tersebut.


"Berhenti kalian!"teriak Rian sambil berusaha mengejar mereka.


Beberapa orang nampak langsung menghadang Rian dan menyerangnya, ketika melihat Rian berlari mengejar pria yang menyeret Irene.


Pada akhirnya perkelahian tidak bisa lagi di hindarkan, hanya saja perkelahian kali ini tidaklah seberuntung Kafeel. Rian yang notabennya hanya pengacara biasa dan tidak pernah berlatih bela diri, jadilah ia bulan bulanan pukulan oleh beberapa orang tersebut karena lawan yang tak seimbang.


Ckit


Suara decitan rem yang cukup keras menghentikan gerakan mereka yang sedang berkelahi di jalanan.

__ADS_1


"Jauhkan tangan kotor kalian dari mereka berdua!" ucap sebuah suara dengan lantang yang langsung membuat beberapa pria berkemeja hitam tersebut saling pandang satu sama lain.


Bersambung


__ADS_2