Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Aku sudah memaafkan mu


__ADS_3

Keesokan harinya di Mansion milik Nabila.


Ting tong ting tong


Suara bel yang di bunyikan secara berulang terdengar menggema di mansion Nabila, membuat Nabila dan juga Geffie lantas saling pandang menerka nerka siapa yang bertamu kali ini di mansionnya.


"Siapa?" tanya Nabila sambil menatap ke arah Geffie yang tengah meminum secangkir kopi di gelasnya.


"Mana aku tahu, buka sana lihat siapa yang datang." ucap Geffie kemudian sambil menyeruput kopi miliknya.


Nabila kemudian lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu depan untuk melihat siapa yang datang, hanya saja tepat setelah pintu di buka dengan lebar olehnya dua orang pria berseragam polisi lantas terlihat tengah berdiri di hadapannya memberi hormat, membuat Nabila lantas menatap bingung sekaligus penasaran dengan kedatangan dua orang polisi di kediamannya.


"Ada apa ya pak?" tanya Nabila dengan raut wajah yang penasaran ketika melihat dua orang polisi tersebut.


"Kami mendapat informasi bahwa pak Geffie sedang berada di sini, mohon kerja samanya untuk meyerahkan pak Geffie kepada kami." ucap polisi tersebut dengan nada yang langsung menuduh tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Nabila tentang keberadaan Geffie saat ini.


"Bisa saya lihat surat ijin penangkapannya pak?" tanya Nabila kemudian.


"Tentu saja" ucap petugas tersebut sambil mengeluarkan selembar kertas dan memberikannya kepada Nabila.


Nabila termenung ketika membaca surat penangkapan itu, awalnya Nabila kira polisi polisi ini hanyalah salah tangkap atau bahkan polisi gadungan yang menyamar karena sesuatu hal, namun nyatanya semua dugaannya salah.


"Geffie ada di dalam pak silahkan masuk." ucap Nabila kemudian mempersilahkan dua orag polisi tersebut masuk ke dalam. "Dasar pria bodoh, harusnya jika dia menggelapkan dana perusahaan, bermainlah dengan cantik bukannya malah seperti ini." ucap Nabila dalam hati ketika melihat langkah kaki dua orang polisi tadi yang masuk ke dalam mansion miliknya.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lagi kedua polisi tersebut langsung membawa Geffie bersama mereka dengan paksa atas laporan penggelapan dana perusahaan dan juga penipuan. Geffie yang tak ingin di bawa ke kantor polisi, lantas terus memberontak meminta untuk di lepaskan namun sayang tenaganya kalah besar dengan dua orang polisi yang kini tengah menariknya untuk mengikuti langkah kaki mereka, hingga pada akhirnya Geffie hanya bisa pasrah mengikuti langkah kedua polisi tersebut dan masuk ke dalam mobil polisi.


"Benar benar sial si Sam itu!" ucapnya dalam hati sambil terpaksa masuk ke dalam mobil dengan wajah yang sangat kesal.


Nabila menatap kepergian mobil polisi tersebut dengan berbagai pertanyaan di benaknya. Apakah ini benar benar kesalahan Geffie atau memang ada dalang di balik semua tuduhan ini? Bukan tanpa alasan Nabila berpikir demikian, hanya saja ia kenal satu orang yang mungkin bisa melakukan hal ini baik pada Geffie maupun dirinya jika memang dia sedang merasa tersinggung.


"Lalu aku harus apa di saat seperti ini?" tanya Nabila pada diri sendiri sambil terus menatap kepergian mobil polisi tersebut hingga menghilang dari pandangannya.


****


Di sebuah klub ternama di ibu kota terlihat Kafeel sudah duduk di sana dan menikmati minuman beralkohol yang di suguhkan oleh bartender. Sedangkan Damar yang tadi mendapat telpon dari Kafeel lantas langsung melesat datang ke klub untuk menemui Kafeel karena memang ada beberapa hal yang harus ia bahas bersama dengan Kafeel saat ini.


Damar berjalan mendekat ke arah Kafeel dan mengambil duduk di sebelahnya sambil memesan satu gelas koktail kepada bartender.


"Aku tidak menyuruh mu datang untuk mengomeli ku jadi diam dan duduk manis saja di sana karena aku hanya membutuhkan teman bukan burung beo." ucap Kafeel dengan nada sinis yang lantas di balas senyuman tipis di bibir Damar.


"Sialan kau menyamakan ku dengan burung beo." ucap Damar dengan kesal namun hanya di balas Kafeel dengan senyum yang sinis.


"Btw Kaf, ada satu hal yang harus aku bicarakan dengan mu." ucap Damar kemudian dengan nada yang serius membuat Kafeel lantas langsung menatap ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Kafeel kemudian.


"Tidak ada aku hanya sedang kesal padamu, harusnya jika kau batal nikah setidaknya janganlah terlalu jahat pada ku." ucap Damar dengan nada memelas sementara Kafeel yang mendengar hal itu sama sekali tidak mengerti maksud ucapan dari Damar barusan.

__ADS_1


"Kau membicarakan hal apa sebenarnya ini?" tanya Kafeel kemudian.


"Gara gara kau yang gagal nikah Kinara lantas memutuskan secara sepihak kontrak kerja sama kami di saat produk yang kami kerjakan laku keras di pasaran, namun Kinara malah mengakhirinya. Bukankah kau sangat tidak adil sekarang?" ucap Damar kemudian.


Mendengar hal itu Kafeel lantas terdiam dan mencerna ucapan demi ucapan Damar barusan. Kafeel memijat pelipisnya perlahan yang mulai berdenyut, entah karena pengaruh alkohol yang ia minum atau memang karena pikirannya yang penuh belakangan ini.


"Bagaimana mungkin Kinara mengakhiri kerja samanya? apa yang sebenarnya dia sedang lakukan?" ucap Kafeel bertanya tanya dalam hati.


***


Malam harinya


Sesuai janji yang Rian buat bersama Kinara waktu itu, Rian datang menjemput Kinara malam hari. Terlihat Rian mulai membantu Kinara mendorong koper milik Kinara dan juga Delisha di ikuti Kinara dan juga Nining yang sedang menggendong Delisha di belakangnya. Kinara sengaja memilih waktu malam hari untuk kepergiannya agar ia tidak bertemu atau berpapasan dengan Kafeel.


Beberapa kali terlihat Kinara nampak menoleh kebelakang seperti tengah menanti sesuatu namun ia tidak pernah datang. Kinara menghela nafasnya panjang ketika hendak memasuki mobil milik Rian. Ditatapnya gedung apartment tersebut cukup lama kemudian masuk ke dalam mobil lagi lagi dengan menghela nafasnya panjang.


"Selamat tinggal Kaf... semoga kamu bahagia dan tidak menyesali keputusan yang telah kamu ambil. Aku sudah memaafkan mu..." ucap Kinara dalam hati sambil mencoba untuk tetap tersenyum di tengah perasaan getir yang menyelimuti dirinya.


Kali ini Kinara benar benar pergi membawa luka hatinya. Bukan karena Kinara tidak bisa menyelesaikan semua masalahnya dan lari, hanya saja Kinara sudah mencapai titik batas akan kesabarannya. Ternyata benar kata pepatah yang mengatakan bahwa jangan pernah menaruh hati dan berharap lebih kepada manusia karena ketika kamu jatuh rasa sakitnya akan membunuh mu secara perlahan.


"Biar saja semua kenangan indah dan juga menyakitkan... aku tinggal di kota ini, aku berharap di kota selanjutnya aku akan menemukan kebahagian tanpa harus kembali terluka dengan luka yang sama walau dengan orang yang berbeda." ucapnya lagi dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2