
Sore harinya Kafeel yang mengetahui Delisha akan pulang lantas menyiapkan kejutan untuk Delisha. Dengan perasaan yang bahagian Kafeel memenuhi meja makan dengan berbagai olahan makanan kesukaan Delisha. Kinara menatap ke arah Kafeel dengan senyum yang mengembang.
"Bukankah ini terlalu berlebihan Kaf?" tanya Kinara kala melihat semua hidangan yang tersaji di meja makan.
"Tentu saja tidak, kalian akan jadi prioritas ku. Untuk hal sekecil ini tentu saja bukan sesuatu yang berarti." ucap Kafeel dengan santainya.
"Kenapa aku selalu merasa Kafeel bukanlah orang biasa? apakah langkah yang ku ambil kali ini benar?" ucap Kinara dalam hati.
Kafeel yang melihat Kinara melamun lantas berjalan mendekat ke arahnya lalu mengelus pelan rambut Kinara, membuat Kinara yang tengah melamun langsung tersadar kala menyadari sebuah tangan kokoh mengacak acak rambutnya.
"Ada apa hem?" tanya Kafeel kemudian.
"Tidak ada, hanya sedang memikirkan Delisha saja." ucap Kinara berdalih.
"Tak perlu terlalu di pikirkan, sebentar lagi Delisha pasti pulang tunggulah sebentar lagi." ucap Kafeel mencoba menenangkan.
"Iya kau benar tidak ada yang perlu di khawatirkan." ucap Kinara kemudian sambil tersenyum ke arah Kafeel.
Ting tong ting tong
"Dengarkan? pasti itu Delisha dan juga Nining." ucap Kafeel ketika mendengar suara bel di pencet seseorang dari luar.
"Aku akan membuka pintunya, kamu tunggulah di sini." ucap Kinara yang lantas di balas anggukan oleh Kafeel.
Kinara mulai melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Dengan gerakan cepat Kinara lantas membuka pintu, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Delisha. Hanya saja, tepat setelah pintu terbuka dengan lebar Kinara juga melihat Geffie berdiri di ambang pintu menatap ke arahnya.
"Bunda..." teriak Delisha yang lantas langsung berlarian memeluk Kinara, sedangkan Kinara hanya diam terpaku menatap lurus ke arah Geffie.
"Ra..." panggil Geffie namun terpotong karena Geffie mendengar suara seorang laki laki di dalam apartment Kinara.
__ADS_1
"Apa itu sungguh Delisha Ra, aku sudah tidak sabar lagi..." ucap Kafeel yang juga menggantung kala melihat Geffie berada di depan pintu.
Baik Geffie dan juga Kafeel saling tatap satu sama lain, sepertinya kedua orang itu tengah sama sama terkejut pada saat ini. Kafeel melangkah mendekat ke arah Kinara lalu merangkul pundak Kinara dengan erat seakan mengatakan kepada Geffie bahwa Kinara kini miliknya.
"Ada apa sebenarnya dengan Kafeel?" ucap Kinara bertanya tanya dalam hatinya kala merasa tangan Kafeel tiba tiba memeluknya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu Ra." ucap Geffie kemudian sambil menatap tajam ke arah Kafeel padahal jelas jelas yang di ajak bicara sekarang adalah Kinara.
Nining yang posisinya sedang berada di tengah tengah lantas menjadi serba salah dan bingung harus melakukan apa di saat saat seperti ini.
"Delisha main dulu sama om Kafeel ya, bunda mau bicara sama ayah bentar." ucap Kinara yang di balas anggukan oleh Delisha.
Delisha kemudian lantas melenggang pergi dari sana dengan menarik tangan Kafeel menjauh dari keduanya. Ada perasaan tak rela sekaligus penasaran ketika Geffie mengatakan akan berbicara berdua dengan Kinara.
"Apa yang akan mereka bicarakan?" batin Kafeel bertanya tanya.
Kinara lantas melangkah keluar dan menutup pintu apartemennya.
"Apa yang di lakukan Kafeel di dalam Ra?" tanya Geffie tiba tiba yang lantas membuat Kinara langsung menoleh ke arah Geffie dengan tatapan bingung.
"Aku rasa itu tidak ada urusannya dengan mu, jika kamu hanya ingin berbicara tentang hal itu sebaiknya kita akhiri saja karena aku sedang malas berselisih dengan mu mas." ucap Kinara dengan ketus dan hendak melangkah masuk kembali ke dalam.
Geffie yang melihat Kinara hendak masuk lantas mencegahnya dengan menarik tangan Kinara pelan.
"Tunggu Ra, bukan itu yang ingin aku bicarakan." ucap Geffie sambil menarik tangan Kinara dan menghentikan langkahnya.
"Lalu apa lagi?" tanya Kinara.
"Aku ingin meminta maaf padamu atas segalanya, aku baru menyadarinya ketika bersama Delisha kemarin. Aku merasa benar benar telah gagal dalam menjadi sosok seorang ayah maupun seorang suami bagi mu, maafkan aku Ra." ucap Geffie dengan nada yang lirih dan juga sendu di setiap kalimatnya.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas yang berasal dari Kinara ketika mendengar permintaan maaf dari Geffie. "Jauh sebelum kamu meminta maaf aku bahkan sudah memaafkan kesalahan mu walau memang lukanya sulit untuk sembuh, tapi aku benar benar telah memaafkan mu." ucap Kinara pada akhirnya kali ini dengan nada yang lebih lembut dan tak seketus pertama.
Mendengar tutur kata lembut Kinara barusan mengingatkan Geffie ketika masih bersama dengan Kinara dulu.
"Kembalilah bersama ku Ra, kita mulai lagi semuanya dari awal, aku akan memperbaiki segalanya tentang Delisha, kita, dan juga hubungan yang telah rusak karena kesalahan yang ku perbuat." ucap Geffie yang lantas membuat Kinara termenung.
Kinara benar benar tak menyangka akan mendengar kata kata itu keluar dari mulut Geffie, apa Geffie yang dulu sudah benar benar kembali? atau ini hanya sebuah kamuflase dan tipuan saja?
"Maafkan aku mas, sepertinya apa yang telah pecah tidak akan bisa tersusun kembali walau telah di beri perekat sekalipun. Aku memang bisa kembali bersama mu hanya saja perasaanku tidak akan sama seperti yang dulu." ucap Kinara berusaha setenang mungkin.
"Aku bisa menerimanya Ra karena memang itu adalah kesalahan ku, asalkan kamu mau kembali padaku, aku akan melakukan apapun untuk mu." ucap Geffie meyakinkan Kinara sambil memegang kedua tangan Kinara.
Kinara melepas pegangan Geffie secara halus membuat raut wajah Geffie mendadak berubah.
"Aku minta maaf mas aku tidak bisa, sebaiknya kamu pulang." ucap Kinara lagi.
Geffie terdiam entah mengapa mendapat penolakan dari Kinara membuat darahnya kembali mendidih.
"Apa ini karena dia Ra?" tanya Geffie tiba tiba dengan nada yang serak seakan menahan amarahnya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Kafeel mas, antara aku dan kamu benar benar telah selesai." ucap Kinara menegaskan agar Geffie tidak lagi salah paham.
Mendengar hal itu Geffie lantas menarik tangan Kinara dengan paksa kemudian menyudutkannya di dinding tembok, membuat Kinara yang tidak siap lantas kebingungan mendapat serangan mendadak dari Geffie barusan.
"Aku tidak perduli walau kau memilih laki laki itu, kamu hanya milik ku! jika aku tidak bisa mendapatkan mu maka dia juga tidak akan bisa, camkan itu Ra!" ucap Geffie dengan menatap tajam ke arah Kinara.
Kinara berusaha memberontak dan melepaskan diri dari cengkraman Geffie. Ternyata firasatnya tentang Geffie benar, semua ucapan Geffie hanyalah tipuan belakang.
"Lepaskan aku!"
__ADS_1
Bersambung