
Kontrakan Irene
Irene yang kini tengah di landa kesedihan serta penyesalan akan perbuatannya, mendadak mendengar suara ketukan pintu dari luar membuatnya terkejut sekaligus takut akan kehadiran seseorang di luar yang terus mengetuk pintunya itu.
Irene yang dalam posisi di ruang tengah lantas lupa mematikan lampu ruangan tersebut, membuatnya langsung bersembunyi di bawah kolong meja tepat ketika mendengar suara ketukan pintu yang berulang itu.
"Aku tidak sengaja... aku benar benar tidak bermaksud..." ucapnya dengan lirih sambil sebisa mungkin terus bersembunyi dan tak terlihat.
Irene terdiam beberapa saat, hingga kemudian ia mendengar suara ketukan tersebut samar samar mulai hilang dan tak terdengar lagi. Mendengar hal itu Irine sedikit mengangkat kepalanya dan mengintip sedikit dari ruang tengah.
"Semoga saja mereka benar benar sudah pergi, aku benar benar takut." ucapnya pada diri sendiri.
Irene yang mengira orang orang yang mengetuk pintunya sudah pergi, tak berapa lama lantas kembali mendengar suara ketukan pintu namun kali ini bukan orang orang itu melainkan seperti suara seseorang yang ia kenal.
"Bu Ida, tumben datang jam segini? perasaan aku sudah bayar rumah kontrakan deh." ucapnya kemudian setelah mendengar suara pemilik rumah kontrakan yang saat ini ia tempati.
Dengan langkah bergegas Irene lantas membuka pintu dan keluar dari sana.
"Ada apa ya bu? bukankan aku sudah membayar uang kontrakan bulan ini?" tanya Irene secara langsung sambil menatap bingung ke arah Ida.
"Sudah, hanya saja..." ucap Ida terpotong karena kemunculan Rian dan juga Kafeel secara tiba tiba.
"Aku yang menyuruhnya." ucap Kafeel dari baling tiang penyanggah rumah kontrakan milik Irene.
"Terima kasih banyak bu." ucap Rian kemudian sambil tersenyum ramah yang di balas Ida dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Pak Rian!" pekiknya dalam hati yang melihat kedatangan Rian dengan seorang laki laki yang dia sendiri tidak tahu siapa itu.
Setelah berhasil memanggil Irene keluar Ida lantas melenggang pergi dari sana. Sedangkan Irene yang melihat keduanya mendekat lantas mundur beberapa langkah berniat untuk masuk ke dalam rumah dan berusaha langsung menutup pintu agar keduanya tidak bisa masuk menyusulnya.
"Tunggu!" pekik Kafeel sambil menahan pintu rumah kontrakan tersebut yang hampir tertutup itu.
"Ren kita harus bicara sekarang, ini penting." ucap Rian dengan nada yang memohon.
"Ini sudah malam pak, sebaiknya bapak bapak ini pulang saja." ucap Irene sambil berusaha menarik pintu rumah kontrakannya.
"Tidak bisa, Kinara di sana sedang menderita tapi kamu malah menyuruh kami pulang. Apa kau sama sekali tidak punya hati nurani?" ucap Kafeel yang langsung menusuk tepat ke hati Irene.
Irene yang mendengar hal itu lantas langsung terdiam dan melepas gagang pintu rumah itu dengan perlahan. Perasaan bersalah kembali menguar di hatinya, Irene benar benar tidak bisa membiarkan Kinara seperti itu tapi ia juga takut dan tidak bisa melakukan apa apa untuk membantu Kinara.
Irene terdiam, tanpa di katakan oleh Rian pun Irene juga tahu hal itu, hanya saja ia benar benar tidak ada pilihan lain selain melakukan hal itu.
"Jika Kinara di penjara Delisha akan kesepian, mental seorang anak akan terganggu karena ibunya yang menjadi mantan narapidana. Aku tahu itu berlebihan namun aku yakin lingkungannya pasti akan menolak Kinara dan itu akan membuat psikis Delisha terganggu akan hal itu. Apa kamu mau itu terjadi? di saat Kinara membantu mu untuk bangkit, namun kamu malah mengorbankan Kinara?" ucap Kafeel dengan nada yang lirih membuat raut wajah Irene berubah seketika.
Irene menatap ke arah Kafeel dalam dalam dengan manik mata yang berkaca kaca.
"Aku tahu aku salah, tapi setidaknya bu Kinara masih memiliki orang orang yang berdiri di pihaknya walau apapun yang terjadi dengannya. Tapi aku? tak ada satu orang pun yang perduli padaku bukan?" ucap Irene dengan menahan isak tangisnya.
"Setiap perbuatan harus ada tanggung jawabnya Ren, kamu yang berbuat tentu kamu yang harus bertanggung jawab. Bukankah kamu terlalu serakah jika menjadikan Kinara sebagai kambing hitam dari perbuatan mu?" ucap Rian kemudian.
"Aku... aku tidak pernah sama sekali menjadikan bu Kinara sebagai kambing hitam. Polisi itu saja yang bodoh karena tidak mengetahui fakta itu." ucap Irene berkelit.
__ADS_1
"Kau..." ucap Kafeel dengan nada meninggi namun berhasil di hentikan oleh Rian yang langsung memegang pundaknya.
"Kamu tidak bisa seperti ini, ada banyak hati yang akan terluka jika Kinara di penjara." ucap Rian kemudian.
"Delisha masih membutuhkan Kinara, kamu tidak bisa egois seperti itu dan hanya mementingkan dirimu sendiri." ucap Kafeel lagi berusaha membujuk Irene namun malah membuat Irene tersinggung ketika mendengarnya.
"Anda berkata seperti itu karena anda menyayangi bu Kinara? pernahkah anda berdiri di pihak saya? berbulan bulan bahkan bertahun tahun saya mengatasi rasa trauma karena perbuatan Fathan pada saya. Anda tidak tahu bukan? kalian para lelaki hanya bisa mengedepankan ego kalian dan terus membela wanita yang kalian sayangi. Apakah kalian juga pernah memikirkan orang lain? jawabannya tentu tidak!" ucap Irene dengan nada setengah berteriak karena menahan perasaan yang bergejolak di dadanya ketika mendengar Kafeel dan juga Rian terus mendesaknya.
"Bukan begitu... kami tidak bermaksud menyepelekan orang lain selain Kinara. Hanya saja apa yang di katakan Rian ada benarnya juga, sekarang coba kau pikir, jika kau di posisi Kinara dan saat ini mendekam di penjara karena perbuatan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, bagaimana perasaan mu?" ucap Kafeel kali ini dengan nada yang lirih karena sepertinya berbicara dengan wanita di hadapannya ini tidak bisa dengan kekerasan dan kata kata yang kasar.
"Aku... aku... sebaiknya kalian pergi dari sini, ini sudah malam tidak baik jika di lihat tetangga." ucapnya kemudian sambil langsung menutup pintu kontrakannya dengan kasar meninggalkan Rian dan Kafeel yang masih menatap Irene dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Bagaimana ini Kaf? Irene tidak akan mungkin mau membantu kita." ucap Rian dengan frustasi sedangkan Kafeel malah tenang seakan tanpa beban.
"Kau tenanglah kita tunggu sampai besok di sini, aku yakin dia akan keluar besok." ucap Kafeel dengan nada yang yakin.
"Kalau keluar sih tentu saja, yang jadi masalah itu dia mau atau tidak membantu kita?" ucap Rian dengan kesal ketika melihat ketenangan dalam wajah Kafeel.
"Sudah diam dan dan tenanglah, yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah menunggu dan jangan terus memaksanya lagi." ucap Kafeel dengan kesal karena kebodohan Rian.
"Lalu?"
"Ya kita tidur di sini lah sampai pagi besok!" ucap Kafeel kemudian sambil mendudukkan dirinya di lantai rumah kontrakan Irene.
Bersambung
__ADS_1