
"Sudahlah ma, kenapa kita berdua selalu saja bertengkar ketika membahas hal ini. Jika mama masih menyimpan rasa untuknya aku tidak akan melarang mama karena bahtera rumah tangga yang mama bangun mungkin masih berbekas di hati mama. Hanya saja aku mohon satu hal pada mama, jangan coba coba untuk melarang ku membencinya karena aku pun mempunyai alasan akan hal itu." ucap Rian kemudian melenggang pergi dari sana.
"Tapi Yan..." ucap Ratih namun tercekat ketika melihat Rian melenggang pergi dengan membawa barang brang keperluannya untuk ke Ibu kota tanpa pamit.
Ratih yang melihat putra pergi hanya bisa menatap kepergian putranya dengan tatapan yang sendu, ia benar benar bingung harus bagaimana mengikis rasa benci yang sudah mengakar di hati Rian selama ini. Ratih tidak pernah menyalahkan Rian akan perasaan benci di hatinya karena ini semua adalah kesalahannya.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang? maafkan keegoisan mama yang tidak ingin kehilangan mu dulu Yan, mama sungguh menyesal." ucapnya pada diri sendiri yang tentu saja hanya di balas oleh keheningan di sana.
Ratih menatap kosong ke arah dinding bercat warna hijau muda itu, perlahan bayangan perpisahannya dengan Adhitama di masa lalu kembali berputar di benak Ratih tanpa ia minta sedikitpun, bagai kaset rusak yang terus memutar kenangan pahitnya dahulu tanpa bisa menjeda atau menekan tombol pause untuk menghentikannya, membuat Ratih kembali teringat kenangan pahit di masa lalu.
Flashback on
Sore itu setelah putusan sidang perceraian menyatakan keduanya telah resmi bercerai, Ratih lantas mulai mengemasi barang barangnya. Air matanya perlahan terus turun membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan sedikit pun, sesuai perjanjian yang ia buat bersama Arsa ibu Adhitama, di mana ia tidak boleh membawa apapun yang masih ada hubungannya dengan keluarga Adhitama termasuk Kafeel sekalipun pergi bersamanya.
Ratih sebisa mungkin menahan isakannya agar tidak terdengar ke luar, perlahan Ratih mulai mengelus perutnya yang kini masih terlihat datar itu karena 2 hari yang lalu Ratih baru mengetahui bahwa dirinya kini tengah berbadan dua. Mendapat berita itu Ratih seperti mendapat kekuatan baru dalam dirinya untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup. Ia yakin Kafeel di sini akan bahagia dan lebih terjamin kehidupannya di bandingkan jika ikut dengannya.
"Maafkan mama yang tidak memberitahu papa mu tentang keberadaan mu nak, hanya kamu satu satunya yang mama punya di dunia ini." ucap Ratih sambil terisak.
Setelah membereskan barang barangnya Ratih kemudian lantas bangkit dan bersiap pergi meninggalkan kediaman Adhitama.
Perlahan ia menarik koper ditangannya, hanya saja baru beberapa kali melangkah Ratih lantas berhenti karena ia melihat Arsa tengah berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Buka koper mu!" perintah Arsa tiba tiba yang lantas membuat Ratih menatap bingung ke arah Arsa.
"Untuk apa ma?" tanya Ratih kemudian.
Mendapat pertanyaan itu Arsa hanya diam sambil langsung merebut koper dari tangannya Ratih dengan paksa lalu memeriksa barang bawaannya dengan sembarangan, hingga membuat baju baju Ratih yang sudah tertata rapi menjadi berantakan dan berserakan.
"Bagus tidak ada yang kau bawa dari rumah ini. Ambil itu dan pergi sejauh mungkin dari Adhitama jangan sampai ia bisa menemukan keberadaan mu, ingat itu!" ucap Arsa sambil melempar sebuah cek bernilai 500 juta di sana lalu melenggang pergi meninggalkan Ratih yang menatapnya dengan perasaan yang hancur.
Ratih menatap sendu ke arah kertas cek tersebut kemudian terduduk di lantai sambil memungut kertas cek itu dengan air mata yang terus mengalir deras membanjiri pipinya.
"Anak ini hanya milik ku, aku tidak akan sudi memberikannya kepada kalian hiks hiks, aku bersyukur mereka tidak menyadari kehamilanku selama ini.... Kafeel maafkan mama... maafkan mama" ucap Ratih dengan tangis yang tersedu sambil membereskan satu persatu pakaiannya dan kembali memasukkannya ke dalam koper. "Selamat tinggal mas, aku mohon jangan benci aku." ucap Ratih kemudian melenggang pergi dari sana tanpa menoleh maupun ingin kembali ke neraka yang berkedok istana itu.
Flashback off
Sore harinya di sebuah Resto yang terkenal di Ibukota, terlihat Rian tengah berjalan masuk ke dalam Resto hendak menemui kliennya di sana.
Rian yang memang sedang terburu buru lantas tanpa sengaja menabrak seseorang hingga membuat berkasnya jatuh dan berantakan. Rian yang mengetahui hal itu lantas langsung berjongkok dan berusaha merapikan kembali berkas berkasnya.
"Maafkan saya pak, saya tadi sedang buru buru." ucapnya dengan sopan sambil masih membereskan kertas kertasnya yang berserakan di lantai.
"Rian Zanesha Adhitama... nama mu cukup unik." ucap sebuah suara yang lantas menghentikan gerakan tangannya dan langsung bangkit menatap ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Adhitama!" batinnya dalam hati dengan diam mematung menatap ke arah Adhitama yang kini tengah memegangi kartu namanya.
Adhitama yang juga ikut membereskan berkas berkas milik Rian yang jatuh tadi, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rian yang terlihat diam mematung menatap ke arahnya.
"Nama kita berdua mirip dan tunggu... bahkan wajah kita juga sedikit ada kemiripan, bukankah ini aneh? aku tidak menyangka bisa bertemu dengan seseorang yang mirip dengan ku ketika masih muda." ucap Adhitama dengan tersenyum bahagia ketika mendapati ada kemiripan pada wajah Rian dengan dirinya.
"Maaf pak sepertinya anda salah, bagaimana mungkin kita berdua mirip di saat kita berdua bahkan baru bertemu?" sanggah Rian yang tidak suka di samakan dengan Adhitama.
"Ya kau benar, mungkin ini sebuah takdir yang aneh namun aku senang bisa bertemu dengan mu." ucap Adhitama lagi.
"Tentu saja ini sebuah takdir yang tidak bisa ku cegah, bukankah begitu pak?" ucap Rian dengan kata kata yang ambigu membuat Adhitama bingung namun tetap tersenyum sambil menatap ke arah Rian.
"Kau masih muda tapi kata kata mu sungguh dalam rupanya." ucap Adhitama dengan nada yang menggoda.
"Bapak bisa saja" ucap Rian berpura pura tersipu ketika mendengar ucapan Adhitama barusan.
"Boleh aku simpan kartu nama mu? aku suka perpaduan nama ini seakan mengingatkan ku pada seseorang." ucap Adhitama sambil menatap ke arah kartu nama yang ada di tangannya sedari tadi.
"Tentu saja pak, hubungi saya jika anda membutuhkan seorang pengacara." ucap Rian sambil tersenyum sinis ke arah Adhitama namun tentu saja tidak di ketahui oleh Adhitama.
"Terima kasih banyak nak, senang bertemu dengan mu." ucap Adhitama sambil tersenyum cerah ke arah Rian namun Rian hanya membalasnya dengan senyuman singkat kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Adhitama yang masih terdiam di sana sendirian.
__ADS_1
"Kenapa tingkahnya mengingatkan ku kepada seseorang?" ucap Adhitama pada diri sendiri sambil mengingat ingat siapa namun Adhitama tak bisa mengingatnya sama sekali.
Bersambung