
Setelah persidangan selesai, Geffie keluar dari ruangan sidang dengan raut wajah yang kesal akan keputusan yang sudah di jatuhkan oleh Hakim dan tentu saja tidak bisa di ganggu gugat. Kini dirinya tidak hanya kehilangan Kinara namun juga Delisha untuk selama lamanya, Geffie saat ini benar benar telah sendiri.
"Benar benar sialan!" gerutu Geffie dalam hati.
Geffie yang enggan melihat drama kerajaan antara Kafeel dan juga Kinara, lantas langsung bergegas pergi hendak ke rumah orang tuanya untuk bertanya secara langsung kepada Ardi apa maksud dari kesaksiannya tadi yang malah membuatnya semakin tersudut.
"Pak Geffie... tunggu..." panggil sebuah suara yang lantas menghentikan langkah kaki Geffie ketika akan memasuki mobilnya.
"Ada apa lagi?" tanya Geffie dengan nada yang ketus.
"Ada beberapa berkas yang masih harus di urus terlebih dahulu pak." ucap pria tersebut selaku kuasa hukum yang ia tunjuk dalam persidangan tadi.
Geffie yang mendengar hal itu tentu saja malah semakin kesal berkali kali lipat. Geffie kemudian lantas mendorong sedikit tubuh pengacara tersebut hingga mundur beberapa langkah darinya.
"Persetan dengan berkas itu, nyatanya kau juga tidak ada gunanya! percuma aku membayar mu dengan mahal, pengacara kondang? bullshit semua hanya tipuan marketing bukan?" ucap Geffie dengan nada yang meninggi, kemudian melangkah masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya dengan kencang meninggalkan gedung persidangan dan juga kuasa hukumnya yang bingung harus bereaksi apa akan ucapan Geffie barusan.
"Tapi pak..." ucap pengacara tersebut namun terpotong begitu saja karena mobil milik Geffie sudah melaju pergi meninggalkannya.
Sementara Geffie yang sedang dilanda perasaan yang teramat marah dan juga kesal, lain halnya dengan Kinara. Seulas senyum tak henti hentinya terbit dari wajah gadis cantik itu. Kinara yang baru saja keluar dari gedung persidangan, lantas langsung melangkah ke arah Rian hendak mengucapkan beribu ribu terima kasih pada kuasa hukumnya itu karena telah membantunya memenangkan hak asuh secara penuh.
"Em permisi..." ucap Kinara pelan karena Rian nampak sibuk memeriksa beberapa berkas sedari tadi.
"Eh Kinara, selamat ya atas hak asuh anak penuh yang jatuh kepadamu." ucap Rian dengan senyum yang ramah.
__ADS_1
Mendapat ucapan tersebut Kinara lantas tersenyum, "Terima kasih banyak atas kerja keras mu." ucap Kinara kemudian.
"Tak perlu sungkan, lagipula itu sudah menjadi tugasku bukan?" ucap Rian dengan nada yang tulus.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Kinara kemudian dengan nada yang ragu ragu namun juga penasaran bercampur menjadi satu.
"Tentang apa?" tanya Rian kemudian dengan penasaran.
"Darimana kamu tahu tentang ayah mertua ku? aku bahkan tidak bercerita apapun tentangnya, tapi kamu malah bisa menghadirkannya sebagai saksi di persidangan dan membela ku." ucap Kinara kemudian namun dengan raut wajah yang tidak terbaca.
"Oh tentang itu... aku sama sekali tidak mengetahuinya. Hanya saja saksi kedua pak Kafeel memberitahu ku akan ada saksi tambahan yang bisa di gunakan untuk memenangkan kasus. Ada apa memangnya?" tanya Rian kemudian sambil menatap ke arah Kinara, mencoba mencari jawaban melalui manik mata Kinara.
"Tidak apa, hanya saja aku sedikit terkejut karena kamu tidak mengabari ku terlebih dahulu." ucap Kinara kemudian mencoba berdalih agar Rian tidak curiga. "Kalau begitu saya permisi dulu, sekali lagi terima kasih banyak atas kerja kerasnya." ucap Kinara kemudian yang di balas Rian dengan senyuman, setelah itu Kinara langsung melenggang pergi dari sana.
Kinara kemudian lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran untuk mencari seseorang di sana. Pandangannya lantas terhenti kala melihat sosok Kafeel tengah berdiri sambil bersandar di pintu mobilnya, sepertinya Kafeel tahu kalau Kinara akan mencarinya di sini.
"Kaf kamu masih di sini? aku kira kamu sudah pulang." ucap Kinara sambil melangkah mendekat ke arah Kafeel dan ikut bersandar di mobil Kafeel.
"Aku menunggu mu." ucap Kafeel dengan jujur membuat hati Kinara lantas menghangat, namun buru buru ia tepis sejauh mungkin. Bukan karena apa? hanya saja Kinara tidak ingin jatuh pada lubang yang sama seperti dulu ia jatuh dalam kehangatan Geffie.
"Aku bahkan baru saja keluar, tidak mungkin kan aku masuk lubang baru?" batin Kinara dalam hati.
Kinara kemudian lantas hanya tersenyum menanggapi ucapan Kafeel barusan. "Em bagaimana kau tahu tentang ayah mertua ku?" ucap Kinara kemudian yang memang sudah di buat penasaran tentang hal itu sedari tadi.
__ADS_1
"Bukankah sudah ku bilang kau tidak bisa menutupinya dari ku." ucap Kafeel dengan nada yang datar seakan itu hanyalah perkara mudah bagi Kafeel.
Kinara yang mendengar hal itu tentu saja di buat terkejut, "Jangan bilang kamu juga mengetahuinya?" ucap Kinara dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan, ada perasaan takut pada diri Kinara kala melihat reaksi Kafeel yang datar. Jika Kinara di tanya apakah dia marah? tentu saja dia marah. Siapa yang tidak marah di perlakukan seperti itu, tidak hanya oleh mertuanya saja bahkan suami yang ia jadikan sebagai panutan pun ikut melukai hatinya. Hanya saja Kinara lebih memilih untuk diam karena ia yakin karma akan segera datang bagi seseorang yang berbuat dzolim tanpa harus mengembalikan
apa yang dilakukanya pada kita.
Kafeel lantas hanya mengangguk pelan sambil tersenyum menanggapi pertanyaan Kinara barusan.
"KAFEEL!"teriak Kinara kemudian.
"Stttt tak perlu terkejut seperti itu Ra, lagi pula aku melakukannya tulus dan tidak ada tujuan khusus. Jadi kamu tidak perlu khawatir karena aku dan Geffie adalah dua hal yang berbeda." ucap Kafeel dengan senyum yang tak henti hentinya mengembang di wajah tampannya itu.
Kinara terdiam, ia bingung garus bereaksi bagaimana? haruskah dia marah, senang atau malah khawatir tentang Kafeel yang semakin memperlihatkan dengan jelas ketertarikannya pada Kinara. Entah mengapa Kinara rasanya seperti tak pantas menerima segala perhatian yang di berikan Kafeel padanya.
"Jangan seperti itu Kaf, aku..." ucap Kinara namun menggantung karena ia bingung harus berkata apa.
"Tak perlu sekarang Ra, pelan pelan saja aku tahu kamu masih menyimpan trauma mendalam kepada seorang pria, jadi aku tidak akan memaksamu biar saja waktu yang menjawab segalanya Ra, aku akan sabar menunggu." ucap Kafeel sambil tersenyum tulus kepada Kinara.
"Terima kasih banyak Kaf?" ucap Kinara kemudian, entah mengapa mendengar ucapan Kafeel barusan membuat hatinya damai seakan terasa ada angin hangat yang menyapa hatinya, benar benar lembut dan mampu mengguncang hatinya yang semula beku.
"Untuk apa kamu berterima kasih? bukankah kita sudah menjadi tetangga yang dekat?" goda Kafeel kemudian yang lantas membuat Kinara jadi salah tingkah.
"Yang benar saja bapak tetangga..." ucap Kinara.
__ADS_1
Bersambung