Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Dihempaskan begitu saja


__ADS_3

Kediaman Geffie


Geffie masuk ke dalam rumah dengan wajah yang di tekuk kesal kemudian melempar kardus yang berisi barang barang yang ia bawa dari kantor dengan sembarangan.


Sila yang mendengar suara gaduh di depan lantas langsung melangkah dengan terburu buru ke arah depan untuk mengecek apa yang tengah terjadi.


"Apa yang terjadi Gef? tumben pulang jam segini?" tanya Sila dengan raut wajah yang penasaran.


"Kemasi barang barang kalian dan segera pergi dari sini." ucap Geffie dengan nada yang dingin membuat Sila lantas tak percaya mendengar ucapan Geffie barusan.


"Kau... bagaimana bisa mengusir orang tua mu sendiri seperti ini? apa kau tidak punya hati?" ucap Sila dengan nada yang menyindir.


"Rumah ini akan di tarik kembali oleh perusahaan, aku bukan mengusir kalian dari sini. Jika kalian masih ingin di sini terserah kalian." ucap Geffie dengan nada yang datar.


"Apa? bagaimana mungkin di tarik? jangan bercanda Gef... jangan bilang kau di pecat?" ucap Sila dengan nada yang terkejut.


"Ya aku di pecat, memangnya kenapa? apa masalah kalian?" ucap Geffie dengan nada yang tidak suka.


"Jika kamu di pecat bagaimana dengan kami Gef?" ucap Sila yang langsung menatap ke arah Sila dengan tatapan yang tidak mengerti.


"Ya usaha lah jangan hanya menggantung seperti ini." ucap Geffie kemudian melangkah pergi meninggalkan Sila di sana.


"Jika begitu kami akan ikut dengan mu" ucap Sila kemudian yang lantas menghentikan langkah kaki Geffie dan langsung menatap ke arah Sila.


"Enak saja tidak bisa, tabungan ku tidak cukup jika harus menampung kalian berdua. Lebih baik mama dan papa usaha sendiri jangan hanya bergantung pada ku." ucap Geffie dengan kesal kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


"Tapi Gef... tunggu... Gef..." panggil Sila sambil mencoba mengejar langkah kaki Geffie.


***

__ADS_1


Sementara itu di area parkiran depan, terlihat Kinara sedang berbincang dengan seseorang di depan mobilnya. Meski Kinara belum pulih sepenuhnya namun dirinya tidak bisa hanya tiduran dan istirahat karena masih banyak beberapa hal yang harus ia urus sebelum kepergiannya.


Kinara memutuskan menjual mobilnya untuk menanggung biaya pinalti kontrak yang ia tanda tangani bersama Danar waktu itu. Kinara memutuskan untuk mengakhiri masa kontraknya walau pekerjaannya belum selesai.


Kinara kali ini benar benar sudah bertekad untuk pergi dari sini tanpa memikirkan segala kerugian yang akan ia tanggung baik dari sisi pekerjaan maupun sisi terdalam hatinya.


"Baiklah kita sepakat" ucap Kinara sambil menjabat tangan pria tersebut tanda setuju.


Setelah menyelesaikan segala urusannya, Kinara kemudian melangkahkan kakinya menuju jalanan untuk menyetop laju taksi yang langsung mengantarnya menuju butik milik Kinara. Untuk urusan butik Kinara memilih untuk tidak menjual dan tetap mengoperasikan butiknya dari jauh. Tujuan Kinara ke butik hanya untuk berpamitan kepada karyawannya dan menyerahkan tanggung jawab penuh kepada Irene salah satu pegawai yang ia percayai selama ini.


Setelah taksi yang di kendarai Kinara melaju membelah jalanan, tanpa Kinara sadari Kafeel yang memang sedang memarkirkan mobilnya lantas memperhatikan gerak gerik Kinara sedari tadi di dalam mobilnya. Rasa penasaran mulai menggerogoti hatinya ketika dirinya melihat Kinara tengah berbincang dengan seseorang di sana.


"Bukankah dia sedang sakit? kenapa malah jalan jalan dan tidak istirahat?" ucapnya namun dengan nada yang sinis namun dengan masih memperhatikan gerak gerik Kinara dari dalam mobilnya.


Pandangan Kafeel tak pernah berhenti menatapi Kinara, sampai kemudian ia melihat Kinara pergi menyetop sebuah taksi sedangkan mobil miliknya di kendarai oleh pria yang tadi berbincang dengan Kinara.


Tinnnnnnnnn


"Apa kau ingin mati ya!" teriak pria tersebut sambil mendongakkan kepalanya keluar menatap ke arah Kafeel.


"Apa yang kau lakukan dengan mobil ini? bukankah mobil ini bukan milik mu?" ucap Kafeel sambil berjalan mendekat ke arah pengemudi.


"Kau yang sedang apa? mobil ini sudah di jual oleh pemiliknya. Jadi kau yang bukan siapa siapa minggir jangan mengganggu jalan ku!" ucap pria tersebut kemudian menutup kaca mobilnya dan melaju meninggalkan Kafeel yang terdiam ketika mendengar ucapan pria barusan.


"Apa Kinara ingin membeli mobil baru? kenapa mendadak Kinara menjual mobilnya?" ucap Kafeel dalam hati bertanya tanya.


***


Setelah mengunjungi butik miliknya dan berpamitan pada karyawannya, Kinara melanjutkan urusannya ke perusahaan milik Damar. Perlahan tapi pasti Kinara melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO.

__ADS_1


"Permisi, apa pak Damar nya ada?" tanya Kinara pada sekertaris kamar.


"Eh bu Kinara, ibu langsung masuk saja kalau ingin bertemu dengan pak Damar." ucap Lusi mempersilahkan Kinara masuk dengan ramah.


Kinara mengetuk pintu perlahan kemudian masuk ke dalam.


"Eh Kinara tumben, ada apa nih?" tanya Damar ketika melihat kedatangan Kinara di kantornya.


"Aku ingin mengakhiri kontrak kerja sama kita." ucap Kinara langsung pada intinya namun berhasil membuat Damar terkejut ketika mendengarnya.


"Ada apa dengan mu? produk kerja sama kita sedang laris di pasaran aku tidak bisa jika tiba tiba menariknya begitu saja tanpa alasan yang jelas." ucap Damar seakan tidak setuju dengan ucapan Kinara barusan.


"Aku tidak memintamu untuk menarik produk yang sedang beredar di pasaran karena aku tahu itu sangatlah sulit. Hanya saja aku meminta untuk mengakhiri kontrak kerja sama kita, anda tidak perlu khawatir karena aku akan segera membayar pinalti sesuai dengan yang tertera pada kontrak. Aku juga tidak akan meminta keuntungan produk yang sudah beredar di pasaran, anggap saja itu sebagai ganti rugi akan pemutusan kontrak kita." jelas Kinara panjang kali lebar.


"Jangan sembrono dalam berpikir Ra, ini kontrak besar bukanlah sesuatu hal yang sepele, apa kamu sudah memikirkan segala kerugian yang akan kamu tanggung?" ucap Damar lagi tidak langsung mengiyakan keinginan Kinara.


"Aku sudah memperhitungkan segalanya, jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan ku." ucap Kinara dengan tegas seakan tidak ingin ada tawar menawar lagi dalam keputu-sannya.


Damar nampak terdiam mendengar ucapan Kinara barusan, sepertinya kali ini Damar tidak bisa lagi mencegah keputusan Kinara untuk memutus sepihak kontrak mereka.


"Apa ini karena Kafeel Ra?" tanya Damar dengan tiba tiba membuat Kinara lantas langsung menatap manik mata milik Danar dengan tatapan yang kosong.


Kinara nampak menghela nafasnya panjang ketika mendengar pertanyaan dari Damar barusan. "Bohong rasanya jika aku mengatakan tidak, karena kontrak kita adalah bagian dari campur tangan Kafeel." ucap Kinara dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Damar.


"Apa yang kamu katakan? Kafeel memang merekomendasikan mu tapi akulah yang mempunyai hak untuk memilih, kontrak kerjasama kita adalah murni kesapakatan antara aku dan kamu sama sekali tidak ada campur tangan dari Kafeel." ucap Damar menegaskan kepada Kinara agar tidak salah paham.


Mendengar hal itu Kinara lantas tersenyum. "Ada atau tidaknya semua ini tetaplah karena Kafeel, aku sudah membulat kan tekad ku. Terima kasih banyak atas segalanya selama kerjasama kita berlangsung, saya permisi." ucap Kinara kemudian bangkit dan pergi dari sana, berbincang dengan Damar tidak akan ada habisnya. Damar tidak akan mengerti bagaimana rasanya di jadikan ratu dan di berikan penghargaan setinggi tingginya namun mendadak langsung terhempaskan ke dasar sumur tergelap tanpa tahu apa kesalahannya, bukankah rasanya sangat menyakitkan?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2