Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Mempermudah segalanya


__ADS_3

"Bukan aku yang membunuhnya..." ucapnya dengan lirih sambil terduduk lemas di sebelah tubuh Fathan yang tak bergerak sama sekali. "Aku tidak membunuhnya, bukan aku..." ucap Kinara lagi sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


Kinara mundur perlahan dengan wajah yang masih menatap lurus ke arah tubuh Fathan yang kini terbaring di lantai. Dengan perasaan yang kacau sekaligus terkejut, Kinara lantas mulai bangkit dari tempatnya kemudian mengambil barang barang miliknya dan keluar dari ruangan tersebut sambil menggenggam erat kemejanya yang sudah terbuka akibat tarikan Fathan tadi.


Kinara melangkahkan kakinya menyusuri lorong lorong perusahaan kemudian masuk ke dalam lift. Setelah pintu lift tertutup, Kinara terdiam menatap kosong ke arah dinding lift kemudian menunduk sebentar lalu menyilakan rambutnya ke belakang.


"Aku tidak sengaja melakukannya... aku tidak sengaja..." ucap Kinara berulang ulang dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi.


Kinara menatap tangannya yang kini tengah gemetaran dengan hebat itu. Bayangan tawa Delisha yang begitu riang mulai berputar di kepalanya, pikirannya benar benar kacau dalam benaknya kini mulai bertanya tanya, bagaimana jika Delisha mengetahui bundanya adalah seorang pembunuh? apakah Delisha akan membencinya? mungkinkah Delisha mau menerimanya yang seperti ini?


"Maafkan bunda Delisha... maafkan bunda...." ucap Kinara dengan lirih sambil terus menangis tanpa suara.


Ting


Suara pintu lift terbuka mulai terdengar di pendengaran Kinara. Dengan perlahan Kinara lantas melongok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang akan melihatnya dengan penampilan yang kacau seperti ini. Kinara memang sengaja keluar melalui basement perusahaan karena menurutnya basement adalah tempat paling sepi untuk saat ini ketimbang dengan lobi.


Setelah memastikan tidak ada orang di sana, Kinara lantas mulai mempercepat langkah kakinya keluar dari perusahaan tersebut sejauh mungkin yang ia bisa. Sambil menggenggam dengan erat baju bagian depannya untuk menutupi tubuhnya Kinara terus melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Aaaaaa... lepaskan lepaskan bukan aku... bukan aku..." teriak Kinara ketika ia merasa sebuah tangan menarik lengannya dengan tiba tiba sambil terus memberontak tanpa henti.


"Ini aku Ra... Kafeel... tenanglah." ucap Kafeel mencoba menenangkan Kinara karena yang dilakukan Kinara sedari tadi hanya terus melakukan perlawanan namun dengan menutup matanya seperti tengah ketakutan akan sesuatu.


Kinara yang mendengar suara Kafeel lantas menghentikan aksinya kemudian luruh ke bawah begitu saja membuat Kafeel lantas kebingungan di buatnya.

__ADS_1


"Eheheheeeeee huaaaaaa bukan aku yang membunuhnya Kaf... bukan aku..... hiks hiks hiks... aku... aku benar benar tidak sengaja melakukannya huaaaa....." ucap Kinara kemudian menumpahkan segalanya pada Kafeel begitu saja, Kinara benar benar bingung harus bagaimana dirinya sekarang.


"Membunuh? membunuh siapa Ra?" tanya Kafeel dengan bingung sambil menatap ke arah Kinara yang kini tengah menangis tersedu.


"Aku... aku... benar benar tidak sengaja hiks hiks." ulangnya lagi tanpa menjelaskan detailnya membuat Kafeel bingung harus bereaksi seperti apa.


Kafeel yang tidak tahu duduk permasalahannya apa? hanya bisa menenangkan Kinara sambil mengusap pelan pundaknya seakan mencoba memberikan ketenangan kepada Kinara secara tidak langsung.


"Devan! apa yang sebenarnya kau lakukan pada Kinara?" ucapnya dalam hati dengan kesal ketika melihat Kinara benar benar terpuruk sambil menangis dengan tersedu di bawah.


Kafeel yang melihat Kinara duduk di bawah sambil menangis tersedu, lantas mulai mengangkat perlahan tubuh Kinara agar bangkit dan tidak lagi duduk di bawah.


"Kita ke mobil ya Ra... jangan di sini." ucap Kafeel kemudian sambil memberdirikan Kinara perlahan dan hati hati.


"Dekaplah tubuh ku Ra untuk menutupi pakaian mu yang terbuka." ucap Kafeel yang lantas membuat Kinara menuruti ucapannya dan langsung mendekap tubuh Kafeel tanpa banyak protes sama sekali. (Ini bukan modus ya pemirsa, Kafeel mengangkat tubuh Kinara karena memang Kafeel yang saat itu kebetulan sedang mengenakan atasan kemeja, membuatnya tidak bisa untuk memberikan jaket atau semacamnya kepada Kinara sehingga Kafeel langsung menggendong tubuh Kinara agar bisa bersembunyi di balik dada bidang miliknya untuk menutupi kemeja bagian depannya yang terbuka.)


"Aku tidak akan membiarkan mu Dev! lihat saja kau!" ucap Kafeel dalam hati dengan kesal sambil terus menggendong Kinara membawanya ke arah mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.


Entahlah ini hanya sebuah firasat atau apa? setelah Kafeel mendarat di bandara Internasional SH, Kafeel lantas melajukan mobilnya menuju perusahaan W Food sesuai dengan lokasi yang di berikan Rendy padanya.


Kafeel yang semula hendak masuk ke dalam perusahaan tersebut, lantas mengurungkan niatnya dan lebih memilih melipir ke arah basement bawah tanah perusahaan W Food. Kafeel sendiri tidak tahu mengapa? yang jelas Kafeel hanya berusaha untuk mengikuti kata hatinya dan tak lama kemudian ia benar benar melihat Kinara keluar dari lift dengan pakaian serta penampilan yang berantakan.


****

__ADS_1


Sementara itu di ruangan milik Fathan terlihat Devan melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruangan tersebut. Seulas senyum terlihat terbit dari wajahnya ketika melihat seluruh kekacauan di tempat itu.


"Wah wah wah sepertinya tangkapan besar kali ini, aku bersyukur karena dia datang di saat yang tepat untuk membuat kisah balas dendam ini menjadi semakin lengkap." ucap Devan sambil bersendekap dada menatap ke arah tubuh Fathan yang terbaring di lantai ruangannya.


Devan kemudian lantas merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Rafi di sana.


"Halo tuan." ucap Rafi di seberang sana.


"Lakukan rencana selanjutnya Raf." ucap Devan memberi perintah.


"Apa anda yakin tuan? masalahnya rencana kita mendadak terhambat karena kematian Fathan yang tiba tiba." ucap Rafi menanyakan sekali lagi keputusan Devan barusan.


"Lakukan saja, kematian Fathan malah sangat menguntungkan bagi kita, kau tentu dapat menebaknya bukan?" ucap Devan dengan nada yang bahagia.


"Jangan bilang maksud anda..." ucap Rafi namun menggantung karena tidak yakin dengan apa yang tiba tiba terlintas dalam benaknya.


"Tentu saja kenapa tidak?" ucap Devan kemudian seakan mengiyakan pertanyaan Rafi yang terkesan ambigu barusan.


"Baik tuan sesuai dengan perintah anda." ucap Rafi kemudian seakan mengerti perintah dari Devan.


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Devan lantas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut namun berhenti sejenak di ambang pintu.


"Aku senang kau meninggal karena dengan begitu kau mempermudah semua rencana ku." ucap Devan dengan senyum menyeringai kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan tubuh Fathan begitu saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2