Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Di pecat


__ADS_3

Hari ini seperti biasa Geffie tengah di sibukkan dengan laporan keuangan perusahaan yang menumpuk menunggu untuk di kerjakan, suara ketukan dari luar lantas mengehentikan aktifitas Geffie yang tengah sibuk mengerjakan laporan keuangan.


"Permisi pak, anda di panggil pak Sam ke ruangannya." ucap seorang sekretarisnya.


"Baik sebentar lagi saya akan ke sana." ucap Geffie mengerti.


Geffie kemudian lantas membereskan sekilas beberapa laporan yang berserakan di mejanya, kemudian melangkah keluar menuju ke arah ruangan CEO yang hanya berjarak beberapa ruangan dari ruangan miliknya.


Tok tok tok


"Masuk" ucap sebuah suara dari dalam membuat Geffie lantas dengan perlahan membuka pintu ruangan CEO dan masuk ke dalamnya.


"Apa bapak memanggil saya?" tanya Geffie secara langsung.


Melihat Geffie di hadapannya Sam lantas mengeluarkan sebuah map dan melemparkannya kepada Geffie, membuat Geffie yang tidak tahu apa apa lantas langsung kebingungan akan sikap yang ia terima dari Sam barusan.


"Aku bahkan sudah mempercayai dirimu, tapi kau malah secara perlahan mengeruk kekayaan perusahaan untuk memperkaya dirimu sendiri. Apa kau kira ini perusahaan nenek moyang mu ha?" ucap Sam kemudian dengan nada setengah berteriak.


Geffie yang mendengar ucapan Sam barusan, lantas langsung membuka map tersebut dan mulai mengecek lembar per lembar kertas yang ada di dalam map. Betapa terkejutnya Geffie karena ternyata map tersebut berisi semua catatan tentang hasil korupsi yang ia lakukan selama 2 tahun belakangan ini.


"Bagaimana mungkin? aku bahkan mengambilnya secara perlahan dan mengubahnya dalam bentuk kamuflase, lalu bagaimana bisa Sam si bodoh ini mengetahuinya?" ucap Geffie dalam hati tidak percaya ketika bukti yang ada pada map tersebut begitu jelas dan detail.


"Kau bekerja di sini sudah lama, namun ini balasan mu?" ucap Sam dengan kesal. "Mulai hari ini kau di pecat, kemasi seluruh barang barang mu dari rumah dinas, tinggalkan semua fasilitas yang di berikan oleh kantor. Tidak ada pesangon dari kantor mengingat kelakuan mu yang bahkan menikmati keuntungan perusahaan tanpa tahu malu itu." ucapnya membuat Geffie lagi lagi di buat terkejut dengan atasannya itu.


"Saya minta maaf pak, saya bersalah pak... saya mohon jangan pecat saya." ucap Geffie memohon kepada Sam.


"Cih, dasar tidak tahu malu! pergi sana kau." ucap Sam mengusir Geffie tanpa ingin melihatnya lagi. "Ingat satu hal... aku tidak akan membiarkan ini begitu saja, camkan itu" imbuhnya kemudian.


Geffie melangkahkan kakinya keluar sambil meremas map yang ia bawa sedari tadi dari ruangan bosnya. Geffie masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang penuh dengan amarah dan langsung menggebrak mejanya.


"Sialan! dari mana Sam dapat semua bukti kejahatan ku? benar benar sial!" gerutu Geffie dengan kesal.


Tanpa membuang waktu lagi Geffie kemudian lantas mulai berkemas membereskan barang barangnya. Tidak ada banyak barang yang Geffie bawa karena memang Geffie tak suka menaruh sesuatu barang di ruangannya. Hanya beberapa buku dan baju ganti yang selalu ia siapkan jika ada rapat dadakan.

__ADS_1


Setelah Geffie memastikan semua sudah di kemas ia melangkahkan kakinya ke luar dari ruangannya untuk pulang karena hari ini Geffie telah resmi diberhentikan langsung oleh CEO perusahaannya.


**


Parkiran


Geffie mempercepat langkah kakinya hendak memasuki mobilnya, sampai kemudian sebuah suara menghentikan langkah kakinya.


"Pak Geffie tunggu" ucap sebuah suara yang ternyata adalah satpam di kantornya.


"Ada apa pak Dadang?" tanya Geffie menatap bingung ke arah Dadang.


"Saya mendapat perintah dari pak Sam untuk meminta kunci mobil milik anda." ucap Dadang dengan nada yang ragu karena tidak enak harus menyampaikannya seperti apa.


"Apa? tidak bisa begitu dong pak, saya terus pulangnya bagaimana?" tanya Geffie dengan nada yang kesal.


"Maaf pak saya hanya menjalankan perintah saja. Untuk masalah pulang biar saya bantu stop kan taksi karena saya tidak bisa mengantarkan bapak pulang."ucap satpam tersebut dengan nada rendah memberikan solusi untuk Geffie.


"Katakan pada Sam aku juga sudah tidak menyukai mobil butut ini!" ucap Geffie dengan nada yang kesal kemudian melangkah pergi meninggalkan Dadang yang menatap kepergiannya.


****


Unit apartment Kinara


Karena Kinara sudah merasa baikan akhirnya ia meminta untuk pulang dan di rawat di rumah saja. Di tatapnya seluruh bagian apartment yang sudah ia tinggali selama beberapa bulan belakangan ini. Terdapat banyak kenangan yang telah ia lalui di sini, membuat Kinara lantas menghela nafasnya panjang ketika mengingat segala kenangan itu.


"Sepertinya sudah saatnya aku pergi, jika hati ini sudah tidak memiliki alasan lagi untuk bertahan, untuk apa aku masih di sini?" ucap Kinara dalam hati.


"Biar saya antar ke kamar bu." ucap Nining.


"Tidak perlu Ning lebih baik kamu tidurkan saja Delisha di kamar." ucapnya karena melihat Nining seperti kelelahan karena menggendong Delisha yang sedang tertidur, tentu saja dengan berat tubuhnya yang sudah bertambah dengan seiring berjalannya usianya.


"Apa ibu yakin?" tanya Nining.

__ADS_1


"Iya tenanglah tak perlu khawatir" ucap Kinara lagi sambil tersenyum.


Nining kemudian lantas menuruti ucapan Kinara dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Delisha untuk menidurkannya.


Setelah kepergian Nining, Kinara lantas segera masuk ke kamarnya dan langsung membuka almari miliknya. Perasaan sedih lagi lagi terlintas ketika melihat begitu banyaknya pakaian serta barang barang pemberian Kafeel di almari miliknya.


Setetes air mata mulai turun tanpa Kinara minta. Kinara mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya tanpa permisi kemudian mengeluarkan sebuah koper besar dan mulai mengemasi seluruh pakaian miliknya kecuali semua barang pemberian dari Kafeel.


"Sudah saatnya aku pergi hiks..." ucap Kinara dengan sedikit terisak.


Kinara kemudian lantas merogoh ponselnya dan mendial nomor Rian di sana.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Maaf mengganggumu bisakah kamu membantu ku?" ucap Kinara kemudian dengan suara yang serak.


"Apa kamu sedang menangis Ra?" tanya Rian ketika mendengar suara serak Kinara.


"Bukan, aku hanya sedang tidak enak badan." ucap Kinara beralasan.


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan?" tanya Rian kemudian.


"Bantu aku pergi dari sini, kemanapun tidak apa... asal aku pergi dari sini." ucap Kinara sambil mengusap kembali air matanya yang tumpah ruah.


"Baiklah, katakan saja kapan kamu siap aku akan mengantar mu." ucap Rian kemudian.


"Esok malam kita berangkat karena masih ada yang aku urus sebelum pergi." ucap Kinara kemudian memutuskan.


"Baiklah terserah padamu, istirahat yang cukup Ra. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting dan membuat pikiran mu penuh." ucap Rian memberikan nasihat.


"Terima kasih banyak yan" ucap Kinara kemudian memutus sambungan telpon miliknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2