Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Apa aku terlalu kejam?


__ADS_3

Mobil milik Kafeel berhenti tepat di depan rumah Kinara, tidak ada pembicaraan lebih lanjut antara keduanya setelah pembahasan tadi. Kafeel benar benar kecewa akan penolakan yang di berikan oleh Kinara, namun ia juga tidak bisa menyalahkan Kinara akan keputusan yang ia ambil saat ini.


Kinara bersiap untuk turun namun berhenti sejenak kemudian menatap ke arah Kafeel yang tengah menatap kosong ke arah depan.


"Pulanglah Kaf lanjutkan hidup mu, jangan terus seperti ini karena itu akan menyiksa mu." ucap Kinara yang lantas membuat Kafeel menoleh kearahnya menatap manik mata milik Kinara yang begitu teduh ketika di pandang semakin dalam.


Karena tidak ada tanggapan maupun sanggahan dari Kafeel, Kinara kemudian lantas melangkahkan kakinya turun dari mobil dan menutup pintu mobil perlahan. Ditatapnya mobil milik Kafeel yang mulai melaju meninggalkan kediamannya. Ada sedikit perasaan bersalah ketika Kinara melihat wajah kecewa yang di tunjukkan oleh Kafeel.


"Apakah aku tadi terlalu kejam padanya? kenapa mukanya suram sekali?" ucapnya sambil masih menatap kepergian Kafeel hingga menghilang dari pandangannya. "Ah sudahlah" ucapnya lagi kemudian berbalik dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya.


"Ra..." panggil sebuah suara yang lantas menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa yan?" tanya Kinara kemudian ketika mendengar panggilan Rian barusan.


"Ini untuk mu" ucap Rian sambil memberikan paper bag kepada Kinara, Kinara yang di berikan paper bag tersebut lantas menatapnya secara menelisik karena ia seperti tidak asing dengan paper bag tersebut.


"Bukankah ini paper bag yang sama dengan yang kamu bawa tadi?" tanya Kinara kemudian sambil mengingat ingatnya.


"Tentu saja bukan, tadi milik mama dan sekarang aku memberikan ini untuk mu." ucap Rian sambil tersenyum manis menatap ke arah Kinara.


Kinara menerima paper bag tersebut kemudian melihat isinya. "Tiramisu!" pekiknya kemudian ketika melihat ke dalam paper bag tersebut.


"Heem aku tidak sengaja melihatnya dan langsung teringat dengan mu." ucap Rian dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Kinara.


"Kalau begitu ayo kita makan bersama." ajak Kinara kemudian sambil melangkah menuju ke arah rumahnya dengan langkah yang bahagia.

__ADS_1


Rian yang melihat tingkah Kinara lantas tersenyum, baginya Kinara benar benar sosok wanita yang berbeda dari kebanyakan wanita lainnya, Kinara bisa menempatkan dirinya sesuai dengan situasi yang di alaminya. Terkadang Kinara bisa menjadi sosok yang tegas, terkadang juga bisa menjadi sosok yang lembut dan juga menggemaskan tergantung pada situasi yang sedang ia alami.


Seperti saat ini bagi Rian, Kinara terlihat sangat menggemaskan hanya karena sekotak kue tiramisu kesukaannya.


"Dia sangat lucu" ucap Rian dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Kinara.


Kinara kemudian lantas merogoh kunci pada sakunya dan mulai membuka pintu rumahnya perlahan.


"Tunggulah di sini aku akan menyiapkan kuenya sebentar." ucap Kinara kepada Rian yang di balas dengan anggukan kepala oleh Rian.


Sementara Kinara masuk ke dalam untuk menyiapkan kue tersebut, Rian lantas mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di teras rumah kontrakan Kinara.


"Begini saja aku sudah bahagia." ucap Rian dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Tak berapa lama dari arah dalam rumah, Kinara nampak keluar dengan membawa nampan berisi kue tiramisu yang di bawa Rian tadi dan juga dua cangkir kopi cappucino untuknya dan juga Rian.


Kinara kemudian lantas memberikan piring kecil yang berisi sepotong kue tiramisu kepada Rian dan satu piring lagi untuknya. Dengan wajah yang berseri Kinara lantas mulai memakan kuenya begitu pula dengan Rian.


"Bagaimana rasanya? apakah enak?" tanya Rian sambil menatap ke arah Kinara yang terlihat tengah menikmati kue tersebut.


"Enak" ucapnya sambil tersenyum.


"Dasar kamu, apapun itu jika rasanya tiramisu selalu saja jawabannya enak." sindir Rian sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Rian... jangan coba coba memancingku karena saat ini aku tengah menikmati kue tiramisu ini.." ucap Kinara memperingati Rian agar diam dan tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Baiklah baiklah aku akan diam kali ini." ucap Rian sambil memberikan bahasa isyarat seakan akan mengunci mulutnya, membuat Kinara lantas langsung tertawa terpingkal ketika melihat hal itu.


**


Sementara itu dari kejauhan tanpa keduanya sadari Kafeel tengah menatap penuh dengan api cemburu kearah keduanya. Niat hati Kafeel ingin kembali dan meyakinkan Kinara bahwa ia akan terus berjuang untuk meluluhkan kembali hati Kinara. Namun sayangnya, bukan senyuman yang ia dapatkan dari Kinara malah sebuah pemandangan yang menyakitkan untuknya.


"Kenapa harus dia yang mendekati mu Ra?" ucap Kafeel dengan kesal sambil sesekali memukul setir mobilnya saking kesalnya.


Kafeel yang diliputi api amarah lantas memutar balik mobilnya dan meninggalkan rumah Kinara dengan perasaan yang membara. Kafeel benar benar tak sanggup jika terus berada di sana dan menyaksikan keduanya tengah tertawa bahagia di atas penderitaan yang ia rasakan.


"Arg.... kenapa harus dia? di saat berjuta juta laki laki tersebar di seluruh Indonesia, kenapa harus dia?" ucap Kafeel lagi sambil terus melajukan mobilnya menuju ke hotel yang sudah di boking Rendy untuknya selama berada di kota Malang ini.


***


Kediaman Ratih


Ratih nampak menatap ke arah jendela kaca rumahnya melihat interaksi antara Rian dan juga Kinara di sana. Melihat keduanya bersenda gurau membuat Ratih merasa cemas dan khawatir. Ratih benar benar dalam posisi yang sulit untuk memilih, Ratih tahu Kafeel sangat mencintai Kinara namun Ratih juga tahu bagaimana perjuangan Rian membuat Kinara untuk bahagia dan melupakan semua masa lalunya. Jika seperti ini manakah yang harus Ratih dukung? jika kedua putranya sama sama membutuhkan sosok Kinara di sampingnya.


"Bu..." panggil Adhitama dari arah belakang membuat Ratih lantas menghentikan kegiatannya dan berbalik menoleh ke arah Adhitama.


"Apa kamu mau pulang ke Jakarta?" tanya Ratih kemudian ketika melihat Adhitama sudah berpakaian rapi.


"Iya ada pekerjaan yang harus aku urus dan mama juga akan mendarat besok di Jakarta." ucap Adhitama.


Mendengar Arsa akan datang ke Jakarta membuat jantung Ratih tiba tiba berdegup dengan kencang. Bayangan tentang bagaimana Arsa memperlakukannya di masa lalu kembali berputar di benaknya sehingga membuatnya menjadi gelisah. Adhitama yang mengetahui Ratih sedang tidak baik baik saja setelah mendengar berita darinya, lantas langsung mendekat ke arah Ratih dan mencoba untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Tenanglah aku tidak akan memberitahu mama kamu di sini jadi kamu tidak perlu khawatir, aku akan mencari cara agar kita bisa kembali bersama, aku harap kamu mau menunggu ku bu..." ucap Adhitama dengan nada yang lirih.


Bersambung


__ADS_2