Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Harus bagaimana?


__ADS_3

Kediaman Kinara


Terlihat Kinara melangkahkan kakinya memasuki rumahnya kemudian menutup pintu rumahnya dengan kasar. Kinara menyandarkan tubuhnya sebentar pada daun pintu dan mengambil nafas panjang berkali kali. Kinara kemudian mengintip sedikit ke arah jendela kaca rumahnya, hanya sekedar memastikan apakah Kafeel dan juga Rian mengikutinya sampai sini atau tidak.


"Ah syukurlah... ku kira mereka mengikuti ku sampai rumah." ucap Kinara sedikit bernafas lega karena tidak melihat Kafeel maupun Rian di teras rumahnya.


"Apa yang sedang bunda lihat di luar?" ucap Delisha kemudian yang menatap aneh ke arah Kinara yang tengah sibuk terus menatap ke arah luar rumah melalui kaca jendelanya.


"Astaga Delisha mengejutkan bunda saja..." ucap Kinara yang cukup di buat terkejut ketika mendengar suara Delisha barusan. "Apa Delisha sudah lapar sekarang? soalnya bunda belum masak apapun untuk sarapan." ucap Kinara sambil melangkah mendekat ke arah Delisha yang menatapnya dengan bingung sedari tadi.


"Bunda tak perlu bingung, aku dan mbak Nining tadi memasak untuk bunda." ucap Delisha sambil tersenyum manis menatap ke arah Kinara.


Kinara yang mendengar ucapan Delisha barusan lantas berakting terkejut untuk menyenangkan putrinya tersebut. "Oh ya? apa Delisha benar benar yang memasaknya untuk bunda?" tanya Delisha kemudian dengan nada yang menggoda.


"Tentu saja dong bun..." ucap Delisha lagi dengan nada yang bangga.


Melihat Delisha yang tersenyum penuh kebanggaan lantas membuat Kinara langsung mengacak acak rambut Delisha dengan gemas kemudian mencium pipi bulat putrinya itu secara berkali kali.


"Baiklah kalau begitu sekarang kita makan bersama dan mencicipi masakan Putri kecil ini." ucap Kinara sambil mencubit gemas hidung putrinya itu, kemudian keduanya lantas melenggang pergi menuju ke arah meja makan.


***


Mansion utama


Di sebuah meja makan di kediaman keluarga Adhitama terlihat Arsa dan juga Adhitama tengah menikmati makanan mereka dengan nikmat. Tidak ada pembicaraan yang khusus antara keduanya sampai kemudian Arsa mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Kamu tidak menemuinya bukan?" tanya Arsa kemudian yang lantas menghentikan gerakan tangan Adhitama yang sibuk menikmati makanannya.


Mendapat pertanyaan tersebut Adhitama hanya menghela nafasnya panjang, ia tidak membantah maupun mengiyakan ucapan Arsa, membuat Arsa sedikit curiga akan kelakuan putranya itu.


"Jangan bilang kamu menemuinya? sampai kapan pun mama tetap tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian berdua, jadi jangan coba coba melakukan apapun di belakang mama." ucap Arsa dengan nada yang tegas memperingati Adhitama untuk tidak macam macam.


"Ma... mama tidak bisa menghakimi Ratih begitu saja dong Ratih itu wanita yang baik tidak seperti yang ada di pikiran mama selama ini." protes Adhitama yang tidak terima dengan ucapan Arsa barusan.


"Cih wanita baik, mana ada wanita baik yang lahir dari rahim seorang narapidana? bukankah mama sudah katakan keluarganya bukanlah keluarga baik baik? mengapa kamu tetap saja kekeh untuk kembali bersamanya?" ucap Arsa dengan kekeh.


"Selalu saja keluarga yang mama bawa dalam masalah ini, memangnya kenapa jika ibu Ratih mantan narapidana? asal mama tahu, mama tidak ada hak menyamakan Ratih dengan ibunya seperti ini, merek tentu saja dua hal yang berbeda ma!" ucap Adhitama tak mau kalah.


Arsa benar benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran putranya itu, sejak awal Adhitama membawa Ratih ke rumahnya waktu itu Arsa sudah tidak memberikan restu pada keduanya. Background orang tua Ratih yang seorang narapidana membuat Arsa tak menyukai Ratih, mengingat alasan utama ibu Ratih di penjara karena kasus pembunuhan di mana korbannya adalah suaminya sendiri. Bagaimana mungkin Arsa membiarkan Adhitama membangun rumah tangga dengan Ratih begitu saja? tentu saja jawabannya tidak.


"Sampai kapan pun mama tidak akan merestui hubungan kalian titik dan tidak ada lagi bantahan." ucap Arsa kemudian bangkit dan menyudahi sarapannya begitu saja, Arsa tidak ingin lagi berdebat dengan Adhitama.


Adhitama menatap kepergian Arsa dengan tatapan yang tidak bisa terbaca, sudah bertahun tahun semuanya berlalu tapi pendirian Arsa masih sama seperti waktu itu. Adhitama memijat pelipisnya perlahan yang mulai berdenyut, Adhitama mencoba memutar otaknya agar bisa meluluhkan hati ibunya namun setelah bertahun tahun tetap saja tidak bisa.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mama merestui hubungan kami. Kenapa sulit sekali berbicara dengan mama? harusnya setelah bertahun tahun mama akan luluh namun nyatanya tetap saja sama." ucap Adhitama dengan nada yang lirih sambil mencoba memikirkan cara untuk membujuk ibunya itu. "Pertengkaran ini selalu saja membuat ku lelah karena tidak pernah ada ujungnya." ucapnya lagi dengan nada yang sendu di setiap kata katanya.


******


Malam harinya di mansion milik Devan


Dari arah luar Rafi terlihat melangkah bergegas menuju ke arah ruang kerja yang terletak di sudut mansion milik Devan. Diketuknya perlahan pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


"Masuk" ucap sebuah suara dari arah dalam ruangan.


Mendapat persetujuan dari Devan membuat Rafi langsung melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam ruangan kerja Devan. Rafi menyerahkan sebuah map yang berisi data data tentang Kinara dan menaruhnya di depan meja Devan.


Dengan perlahan Devan mulai membuka map tersebut dan melihat isinya dengan seksama.


"Ternyata wanita ini cukup luar biasa juga ya? aku tidak menyangkan bahwa dunia ini begitu sempit, ketika Kafeel menceraikan istrinya dia malah mendekati mantan istri selingkuhan Nabila, benar benar sesuatu." ucapnya sambil tersenyum sinis.


Devan membaca setiap detail data data yang di berikan oleh Rafi barusan. Sebuah ide gila tiba tiba saja tercetus di pikirannya membuat seulas senyuman lantas terlihat di wajah Devan saat ini.


"Baiklah, atur semuanya Raf... aku ingin lihat reaksi Kafeel ketika mengetahui hal ini." ucap Devan dengan tersenyum smirk menatap ke arah Rafi.


"Apakah saya harus bertindak secara langsung tuan?" tanya Rafi dengan menatap serius ke arah Devan.


Devan lantas mengetuk ketukan kuku jarinya ke atas meja ketika mendapat pertanyaan dari Rafi barusan. "Jangan bertindak secara langsung biarkan Fathan yang melakukannya, pasti akan terasa lebih seru bukan?" ucap Devan kemudian dengan nada yang bahagia.


"Fathan? maksud anda manager marketing kita?" tanya Rafi memastikan lagi bahwa apa yang di dengarnya adalah benar.


"Yap tentu saja, memang Fathan siapa lagi?" ucap Devan singkat dengan nada yang datar.


"Apa anda yakin? masalahnya dia terkenal dengan sebutan penggila **** tuan." ucapnya kemudian yang lantas membuat tawa menguar memenuhi ruangan tersebut.


"Bukankah dengan begitu terasa lebih menyenangkan Raf?" ucap Devan sambil tertawa membuat Rafi lantas menelan salivanya dengan kasar karena menurutnya rencana bosnya kali ini sedikit keterlaluan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2