
Setelah mengatakan unek uneknya kepda Kafeel dan juga Rian, Irene lantas masuk ke dalam rumah kontrakannya sambil membanting pintu dengan keras. Irene melakukan hal itu bukan karena marah kepada Kafeel dan Rian, ucapan mereka berdua semua adalah kebenaran. Hanya saja Irene merasa sedikit iri dengan bosnya itu, Kinara selalu saja di kelilingi oleh orang orang yang menyayanginya tanpa pamrih sedikit pun, namun dirinya? jangankan orang orang yang menyayanginya kasih sayang orang tua saja Irene tidak memilikinya. Bagaimana bisa Irene semalang itu?
"Apa aku tidak berhak bahagia?" ucapnya dengan terisak di balik pintu rumah kontrakannya.
Irene menangis dengan tersedu sedu menangisi nasib malangnya sendiri, semakin dipikirkan entah mengapa rasanya semakin tidak adil. Irene menjambak rambutnya dengan kasar sambil menahan isakannya agar tidak terdengar keluar oleh Rian maupun Kafeel.
****
Keesokan paginya
Sinar mentari pagi menyilaukan Rian dan juga Kafeel yang tengah tertidur di depan rumah kontrakan Irene sedari semalam. Jika mengikuti kata kata hati Kafeel pasti sebentar lagi Irene akan keluar, namun hingga matahari menyingsing tak ada satupun tanda tanda Irene akan keluar dari dalam rumahnya.
"Cih bukan cenayang aja sok sokan meramal pilihan seseorang." ucap Rian dalam hati mengejek ucapan Kafeel semalam.
Sampai kemudian suara pintu yang mulai terbuka perlahan terdengar. Membuat Kafeel dan juga Rian yang memang dalam posisi sudah bangun lantas bangkit dan mengecek siapa itu.
"Saya akan menyerahkan diri ke kantor polisi." ucapnya dengan lirih dan mantap, membuat Rian yang mendengar hal itu lantas melongo dan menatap tak percaya ke arah Kafeel, sedangkan Kafeel hanya tersenyum mendengar jawaban dari Irene barusan.
"Aku akan mengantarmu menuju ke kantor polisi." ucap Kafeel dengan perasaan yang lega karena Irene pada akhirnya mau mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Sebenarnya sih Kafeel tidak tahu juga jika Irene akan menyerahkan diri atau tidak, yang Kafeel lakukan hanya berusaha dan menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada takdir. Kafeel yakin jika orang baik yang tersakiti pasti akan ada yang membuka jalan kebenaran meski di tutupi sedemikian rupa.
Ketiganya lantas berjalan menuju ke arah mobil milik Kafeel yang terparkir tak jauh dari sana. Baik Kafeel, Rian dan juga Irene terlihat memasuki mobil yang kemudian dilajukan oleh Kafeel menuju ke arah kantor polisi.
"Aku berhasil Ra... aku berhasil..." ucap Kafeel dalam hati sambil melajukan mobilnya menuju ke arah kantor polisi.
__ADS_1
Sementara itu tanpa ketiganya sadari tak jauh dari mereka seorang laki laki nampak memperhatikan gerak gerik ketiganya dari dalam mobil miliknya. Pria itu nampak merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya tepat setelah melihat kepergian ketiganya dari rumah kontrakan milik Irene.
"Halo" sebuah suara dari seberang sana terdengar menggema di telepon.
"Mereka sudah berangkat bos, sepertinya tujuan mereka adalah kantor polisi." ucapnya dengan si penelpon.
"Eksekusi mereka dan bunuh wanita itu, usahakan agar kematian wanita itu tidak tercium oleh polisi, lakukan dengan benar karena aku tidak menginginkan sebuah kegagalan." ucap suara di seberang sana dengan nada yang memperingati.
"Tentu saja bos, aku tidak pernah gagal dalam melakukan tugas ku." ucapnya dengan senyum yang mengembang di akhir ucapannya.
Setelah telpon singkat tersebut, laki laki itu tampak melajukan mobilnya dengan cepat di ikuti satu mobil van berwarna hitam di belakang mobil miliknya.
***
Kembali kepada Kafeel
Ketika Kafeel tengah fokus mengendarai mobilnya sambil tak henti hentinya tersenyum, sebuah mobil van mendadak berhenti tepat di depan mobilnya membuat Kafeel yang terkejut lantas langsung menginjak remnya secara mendadak.
"Kenapa sih Kaf..." tanya Rian yang terkejut karena Kafeel menginjak rem mobilnya secara tiba tiba.
"Gak tau, tuh mobil sudah gila kayaknya!" teriak Kafeel dengan kesal.
Disaat Kafeel dan juga Rian tengah ribut karena masalah rem yang di injak secara mendadak. Dari arah mobil van yang berhenti di depannya, terlihat beberapa orang pria berpakaian hitam dengan tubuh yang kekar turun dari mobil. Jika dilihat dari bentukan mereka sepertinya mereka tukang pukul sewaan.
"Kau jaga Irene di sini, jangan keluar apapun yang terjadi. Jika kalian bisa lari larilah tinggalkan aku!" ucap Kafeel dengan nada yang serius sambil menuruni mobilnya.
__ADS_1
"Tapi Kaf..." ucap Rian namun tidak jadi karena Kafeel sudah keluar. "Ah benar benar sial!" ucapnya kemudian.
Rian yang paham akan instruksi tersebut lantas langsung mengunci pintu mobil dari dalam dan menyuruh Irene untuk menunduk apapun yang terjadi.
**
Kafeel melangkahkan kakinya mendekat ke arah laki laki yang terlihat seperti pimpinan dari beberapa orang tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Kafeel kemudian.
Mendengar pertanyaan tersebut pria bertubuh tegap itu nampak tersenyum seakan mengejek ke arah Kafeel. "Kami menginginkan perempuan itu!" ucapnya secara langsung membuat Kafeel sedikit shock ketika mendengar ucapannya.
"Aku tidak bisa memberikan apa yang kalian minta, sebaiknya kalian pergi dari sini." ucap Kafeel tak ingin kalah.
"Banyak bacot, maju habisi dia!" ucap pria tersebut memberikan kode kepada anak buahnya untuk maju dan menyerang Kafeel.
Kafeel yang melihat hal itu tentu saja nyalinya sedikit menciut, masalahnya di sini dia hanya seorang diri, sedangkan lawannya begitu banyak mungkin jika di hitung sekitar 6 sampai 8 orang. Jelas ini akan menjadi pertarungan yang tidak imbang jika Kafeel terus melanjutkannya, mengingat postur tubuh mereka tidaklah main main. Hanya saja bukankah Kafeel tidak punya pilihan lain selain melawan mereka? apapun yang terjadi Kafeel harus membawa Irene ke kantor polisi.
Sebisa mungkin Kafeel harus bisa melawan beberapa orang ini atau setidaknya mengulur waktu agar Rian bisa membawa pergi Irene dari sini. Kafeel nampak memasang kuda kuda ketika dua orang dari mereka nampak mendekat ke arahnya dengan cepat.
Pertarungan benar benar tidak bisa terhindarkan, seorang dari mereka lantas mulai melayangkan pukulan ke arah Kafeel, namun beruntungnya Kafeel masih bisa menangkis dan membalasnya dengan tendangan sehingga laki laki itu lantas terhuyung.
Melihat temannya yang terhuyung dan tumbang, laki laki satunya lagi lantas bergerak hendak menendang kepala Kafeel namun lagi lagi berhasil Kafeel tangkis dan membalasnya dengan pukulan yang telak.
Melihat Kafeel bisa mengimbangi dua orang anak buahnya dengan mudah, pemimpin gerombolan tersebut lantas mengkode sisanya untuk maju dan mengeroyok Kafeel.
__ADS_1
"Beri dia pelajaran namun jangan menghabisinya!" perintahnya sebelum beberapa anak buahnya yang lain maju hendak mengeroyok Kafeel.
Bersambung