
Apartment Kinara
Kinara duduk termenung di ruang tengah sambil menonton acara televisi yang bahkan Kinara tidak tahu sampai mana, Kinara memang dalam posisi menonton hanya saja pikirannya melayang kemana mana memikirkan tentang Delisha.
Ditatapnya layar ponsel selama berkali kali sejak tadi menunggu Delisha menelpon tapi hingga saat ini tak ada satupun panggilan telpon dari Delisha. Kinara menghela nafasnya panjang berkali kali mencoba menenangkan pikirannya yang kalut sejak tadi, sampai kemudian suara bel pintu membuyarkan lamunannya.
"Ada tamu bu" ucap Nining beberapa menit kemudian setelah suara bel itu terdengar.
"Siapa Ning?" tanya Kinara dengan penasaran.
"Tetangga sebelah." ucap Nining dengan singkat.
Kinara yang mendengar Kafeel datang lantas bertanya tanya apa tujuan Kafeel datang ke unit apartemennya. Kinara kemudian bangkit dan bergegas menuju ruang tamu.
"Ada apa Kaf?" tanya Kinara dari arah ruang tengah. "Eh ada Rendy juga tumben" imbuhnya lagi.
"Ya, kami di sini ingin mengajak mu dan Nining makan malam bersama." ajak Kafeel.
"Dalam rangka apa ini Kaf?" tanya Kinara yang tak langsung mengiyakan ajakan Kafeel.
"Tidak ada hanya acara makan makan sesama tetangga saja." ucap Kafeel sambil tersenyum ramah.
"Tapi aku sedang tidak ingin keluar saat ini, Delisha ada di rumah Geffie." ucap Kinara.
"Tak perlu keluar cukup di rumah saja, ayo..." ajak Kafeel kemudian.
Pada akhirnya Kinara dan juga Nining pasrah dan mengikuti ajakan Kafeel untuk makan malam di unit apartemennya. Sebenarnya agak mendadak sih apalagi biasanya Kafeel berkunjung hanya untuk bermain dengan Delisha, namun kali ini secara tiba tiba Kafeel malah mengajak dirinya dan Nining makan. Bukankah ini sedikit aneh?
Keempatnya kemudian pergi ke unit apartment Kafeel, sampai di sana mereka sudah di suguhi dengan berbagai macam jenis olahan makanan yang tertata rapi di meja makan. Kinara menatap tak percaya ke arah meja makan, bukankah Kafeel tadi mengatakan tidak ada acara khusus? tapi setelah Kinara masuk dan menatap ke arah meja makan, rasanya seperti sedang mengunjungi pesta pernikahan seseorang saking lengkapnya menu yang tersaji di sana.
__ADS_1
"Kamu memasak sendiri semuanya?" tanya Kinara sambil menunjuk makanan di meja.
"Tentu saja tidak, kamu kira aku sepengangguran itu memasak semua hidangan ini." ucap Kafeel dengan santainya.
Ketika keempatnya hendak duduk Kafeel dengan diam diam lantas memberikan kode kepada Rendy yang lantas di balas anggukan pelan oleh Rendy.
"Bukankah sepertinya ada yang kurang bos?" ucap Rendy tiba tiba membuat Kinara dan juga Nining langsung menoleh ke arahnya. Di saat semua hidangan sudah tersaji di sana, lantas apa lagi yang kurang?
"Oh ya?" ucap Kafeel berpura pura tidak tahu.
"Bukankah semua sudah lengkap? apa lagi yang kurang?" tanya Kinara dengan bingung.
Rendy dan Kafeel yang mendengar hal itu lantas bingung ingin menjawab apa pertanyaan Kinara barusan.
"Wine! bukankah makanan tidak akan lengkap tanpa wine? iya kan bos?" ucap Rendy kemudian sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Oh iya... aku sampai melupakan wine nya." ucap Kafeel kemudian.
"Tak perlu, tanpa wine juga sah sah saja kok." ucap Kinara kemudian.
"Tentu tidak akan lengkap bu bos eh maksud ku bu Kinara, saya dan Nining akan membelinya dengan cepat kalian makanlah dulu." ucap Rendy dengan kekeh. "Ayo kita berangkat Ning." ajak Rendy kemudian, sedangkan Nining yang di ajak pada akhirnya hanya pasrah mengikuti langkah kaki Rendy padahal dalam hatinya ia ingin sekali mencicipi king lobster yang terlihat menggiurkan dengan keju bakar yang menutupi dagingnya.
"Pasti rasanya sangat enak." batin Nining sambil terus melangkah pergi mengikuti Rendy di belakangnya.
******
Sementara itu di kediaman Geffie
Delisha mulai menutup kedua telinganya ketika mendengar pertengkaran yang terjadi antara Sila dan Ardi, entah mengapa mendengar suara gaduh seseorang yang sedang beradu mulut, membuat bayangan demi bayangan pertengkaran Kinara dengan Geffie kala itu mulai terlintas kembali di ingatan Delisha. Gadis kecil itu sedikit menjauh dari Geffie dan pergi duduk berjongkok di lantai dekat ranjang miliknya.
__ADS_1
"Ternyata Delisha benar benar bisa mendengarnya dari sini." ucap Geffie sambil diam mematung melihat lurus ke arah Delisha.
Hati Geffie rasanya sangat hancur kala melihat putri kecilnya itu seperti trauma dan ketakutan kala mendengar suara gaduh. Geffie tidak menyangka hanya karena dirinya mengedepankan emosi dan rasa egois dalam dirinya, Delisha malah menjadi korban ketamakannya sendiri.
"Maafkan ayah Delisha." batinnya dalam hati.
Melihat putrinya yang semakin ketakutan membuat Geffie lantas tersadar dari lamunannya dan langsung mendekat ke arah Delisha dan memeluknya dengan erat.
"Ayah di sini nak, maafkan ayah." ucap Geffie dengan bibir yang bergetar sambil memeluk Delisha.
"Lepaskan Delisha! lepaskan Delisha! ayah jahat ayah jahat!" ucap Delisha sambil menangis tersedu dan terus meronta meminta untuk di lepaskan.
"Maafkan ayah Delisha... ayah salah ayah benar benar minta maaf..." ucap Geffie lagi dengan mata yang berkaca kaca.
"Delisha mau pulang... mau pulang... mau pulang..." ucap Delisha dengan tangis yang semakin kencang.
Geffie yang melihat Delisha semakin tertekan, lantas langsung menggendongnya sambil mengelus punggung gadis kecil itu dengan terus mengucapkan kata maaf berulang kali kepada Delisha. Seakan satu kalimat maaf tak cukup bagi Geffie untuk menggambarkan rasa penyesalannya kepada Delisha.
Butuh waktu hampir satu jaman untuk menenangkan Delisha hingga kemudian ia tertidur di gendongan Geffie.
"Delisha mau pulang yah..." gumam Delisha.
Setetes air mata perlahan jatuh tanpa permisi membasahi pipi Geffie. Hatinya benar benar terluka melihat putri kecilnya seperti ini. Pikiran Geffie perlahan lantas melayang memutar segala kesalahan yang telah ia lakukan baik kepada Delisha maupun Kinara.
"Aku telah gagal menjadi ayah, menjadi kepala keluarga dan juga menjadi seorang anak yang membanggakan untuk mama dan papa. Kapal yang ku kendalikan sudah tenggelam ke dalam samudra hanya karena kebocoran kabin kapal karena ulah ku sendiri. Aku yang sudah mengetahui adanya kerusakan pada kabin milik ku, harusnya memperbaikinya namun aku malah memilih kapal yang baru. Mengapa penyesalan selalu saja datang di akhir?" ucap Geffie dengan nada yang lirih.
Setelah dirasa Delisha sudah cukup tenang dalam tidurnya dengan gerakan perlahan Geffie mulai menidurkan Delisha dengan hati hati. Dirapikannya rambut Delisha yang berantakan dengan lembut.
"Apakah ayah masih bisa memperbaikinya nak?" tanya Geffie pada diri sendiri dengan nada yang lirih. "Sepertinya jawabannya tidak ya nak? karena apa yang ayah lakukan pasti sudah menorehkan luka paling dalam pada bunda mu" imbuhnya kemudian.
__ADS_1
Bersambung