Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Halusinasi?


__ADS_3

Kinara pulang ke apartment sengaja menunggu malam, ia masih belum siap bertemu dengan Delisha. Entah apa yang akan ia jelaskan kepada putri kecilnya itu. Dengan langkah yang perlahan Kinara mulai memasuki apartment miliknya. Suasana saat itu sangat gelap mungkin Delisha dan Nining sudah tidur saat ini.


"Syukurlah Delisha sudah tidur." ucap Kinara sedikit bernafas lega ketika melihat seluruh lampu ruangan apartment telah mati.


Kinara terus melangkahkan dirinya dan masuk ke dalam kamarnya. Dengan langkah gontai Kinara menuju ke arah kamar mandi kemudian duduk meringkuk di lantai sambil menyalakan shower.


Setetes demi setetes air mengalir dan mulai membasahi dirinya yang masih berpakaian dengan lengkap duduk di lantai.


"Apa aku benar benar melakukannya?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya dan terus terulang di benaknya.


Kinara menyibakkan rambutnya yang basah ke arah belakang, dinginnya air shower yang mengguyur tubuhnya sama sekali tak terasa bagi Kinara. Kinara hanya menatap dengan kosong ke arah dimding kamar mandinya tanpa bergerak sama sekali.


"Sebenarnya apa aku yang terlalu bodoh atau mas Geffie yang terlalu pintar? mengapa rasanya aku terus terusan terperdaya dan terjerat olehnya?" ucap Kinara lagi dengan lirih sambil menyandarkan kepalanya pada kedua lututnya yang saat ini tengah di tekuk.


*****


Unit apartment Kafeel


Asap rokok nampak membumbung tinggi terlihat berterbangan terbawa angin malam itu. Pikiran Kafeel benar benar blank saat ini, dalam hati kecilnya terus saja menolak dan tidak percaya Kinara melakukan hal itu padanya. Hanya saja logikanya mengatakan bahwa Kinara telah mengkhianatinya, bukankah hal itu sangat bertolak belakang?


Disesapnya kembali puntung rokok di tangannya secara berulang kali, sampai kemudian ia lantas mengambil ponsel miliknya dan mendial nomer Rendy di sana.


"Halo bos" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Hancurkan Geffie sampai sehancur hancurnya." ucap Kafeel dengan nada yang dingin.


"Baik tuan, lalu bagaimana dengan mantan istri anda?" ucap Rendy tiba tiba yang lantas membuat Kafeel bingung akan arah ucapan Rendy barusan.


"Ada apa dengannya?" tanya Kafeel kemudian.


"Entahlah bos, saya hanya filing semua ini ada sangkut pautnya dengan mantan istri anda." ucap Rendy.


"Jika kau memang yakin akan hal itu seharusnya kau cari bukti bukan malah menggunakan filing yang tidak pasti mu itu!" ucap Kafeel dengan nada yang kesal karena ia mengira Rendy mengetahui sesuatu.

__ADS_1


"Maaf tuan, saya akan segera mencari tahu dan melakukan tugas yang anda perintahkan." ucap Rendy kemudian.


"Bagus" ucap Kafeel dengan singkat kemudian mengakhiri panggilan ponselnya.


****


Keesokan paginya


Setelah Delisha dan juga Nining berangkat ke sekolah Kinara buru buru keluar dan pergi ke unit apartment Kafeel untuk berusaha mencoba kembali menjelaskan kepada Kafeel bahwa ia tidak bersalah sama sekali.


Kinara melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemennya, entah ini sebuah kebetulan atau apa? tepat ketika dia keluar Kinara melihat Kafeel juga keluar dari unit apartemennya. Kinara yang mengetahui hal itu tentu merasa bahagia dan langsung mendekat ke arah Kafeel, namun Kafeel malah seakan acuh dan hanya berjalan melintasinya.


Kinara yang melihat itu awalnya terkejut namun langsung mengejar kembali Kafeel dan menarik tangannya agar langkah kaki Kafeel terhenti.


"Kaf ku mohon dengarkan penjelasan ku..." ucap Kinara dengan nada yang memelas.


Perlahan Kafeel mulai berbalik badan dan menatap wajah perempuan yang kini berhasil memporak porandakan hatinya. Ada sedikit perasaan kasihan ketika ia berbalik badan, wajah Kinara nampak pucat membuat Kafeel sedikit khawatir akan keadaan Kinara namun enggan untuk bertanya.


"Apa dia sedang sakit? atau ini hanya triknya saja agar aku luluh? bukankah Nabila juga sering menggunakan trik ini untuk menarik simpati ku?" ucap Kafeel dalam hati sambil terus memperhatikan Kinara.


"Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan, semua bukti sudah mengarah padamu, lalu apa lagi yang ingin kau lakukan?" ucap Kafeel dengan ketus.


Mendengar hal itu kepala Kinara rasanya berdenyut namun Kinara mencoba untuk mengabaikannya.


"Percayalah padaku Kaf... kita cari buktinya sama sama, aku yakin aku tidak bersalah." ucap Kinara lagi.


"Cih kau terus saja mengatakan tidak bersalah, jika seorang penjahat mengakui kesalahannya mungkin penjara sudah penuh Ra!" ucap Kafeel sambil tersenyum sinis kemudian melenggang pergi dari sana.


"Kaf..."


Melihat Kafeel yang hendak pergi Kinara lantas berusaha mengejarnya, namun tiba tiba kepalanya terasa berdenyut hebat dan perlahan lahan pandangannya kabur dan mulai menggelap.


Bruk

__ADS_1


Kafeel yang mendengar suara tersebut lantas menoleh ke belakang, Kafeel cukup terkejut ketika mengetahui Kinara sudah tergeletak di bawah. Dengan perasaan yang khawatir Kafeel lantas berlari ke arahnya untuk mengecek keadaan Kinara.


"Panas sekali... dasar ceroboh" ucap Kafeel ketika menyentuh dahi Kinara yang terasa sangat panas, sepertinya Kinara tengah demam sekarang.


Kafeel kemudian lantas menggendong Kinara ala bridal style dan langsung membawanya ke rumah sakit.


***


Rumah sakit


Kafeel menatap Kinara yang tengah terbaring dengan lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya yang pucat membuat hati Kafeel seakan berdenyut dan khawatir akan kondisi Kinara.


Di sentuhnya perlahan kening Kinara, suhu panas di tubuhnya sepertinya sudah sedikit turun dan mulai membaik, membuat Kafeel lantas bernafas dengan lega bahwa Kinara baik baik saja.


Kafeel mengelus pelan rambut Kinara dan membenarkannya. "Jangan sakit seperti ini lagi Ra, kamu membuat ku takut." ucapnya pelan kemudian mencium kening Kinara sekilas dan melenggang pergi dari sana.


**


Perlahan mata Kinara mulai terbuka, Kinara menatap ke arah atas mencoba mengumpulkan kesadarannya kemudian menatap sekeliling.


"Ah aku ada di rumah sakit." ucapnya dalam hati ketika merasa familiar dengan bau khas obat obatan yang menusuk hidungnya.


"Ibu sudah bangun? bagaimana perasaan anda bu?" tanya Nining yang lantas bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Kinara.


"Aku tidak papa Ning mungkin hanya kecapekan saja." ucap Kinara sambil bangkit perlahan dan memijat pelipisnya yang masih sedikit berdenyut.


"Syukurlah bu, Delisha sangat khawatir dengan kondisi anda sampai kemudian ia tertidur di sofa." ucap Nining sambil menunjuk ke arah Delisha yang tengah tertidur.


"Tak apa jangan di bangunkan, kasihan Delisha" ucap Kinara sambil tersenyum. "Ngomong ngomong apa kamu tahu siapa yang membawa ku ke sini Ning?" tanya Kinara dengan penasaran.


"Tadi kata perawat yang menelpon saya, bu Kinara pingsan dan di larikan ke rumah sakit oleh salah satu staf apartment yang menemukan ibu pingsan di depan unit apartment pak Kafeel." ucap Nining menjelaskan namun langsung membuat Kinara terdiam.


"Tidak mungkin, aku jelas jelas merasa seperti Kafeel yang merawat ku sejak tadi. Aku bahkan mendengar ucapannya, tidak mungkin aku hanya halusinasi bukan?" ucapnya dalam hati sambil meraba keningnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2