Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Bodoh


__ADS_3

Pagi harinya Rendy melangkahkan kakinya menuju ke kamar Kafeel dengan langkah yang terburu buru, ia sangat yakin kali ini dia pasti akan tamat di tangan bosnya karena telah lalai menjalankan tugasnya.


"Gak papa aku mati yang penting aku tidak lagi melihat bos galau seperti kemarin lagi." ucapnya dengan nada yang yakin dan siap menerima segala hukuman yang akan di berikan oleh Kafeel padanya.


Tok tok tok tok


"Bos....." teriak Rendy berulang sambil terus menggedor gedor pintu kamar Kafeel, hanya saja Rendy sama sekali tidak mendengar jawaban apapun dari dalam kamar.


"Apa yang kau lakukan pagi pagi buta begini? kau pikir ini hutan?" ucap Kafeel setengah berteriak namun bukan dari arah kamarnya melainkan dari arah dapur.


Rendy yang melihat Kafeel keluar dari sana lantas tersenyum garing karena ia pikir Kafeel tadi sedang tertidur di dalam kamarnya.


"Ternyata bos sudah bangun?" ucapnya dengan lirih.


"Katakan ada apa?" tanya Kafeel kemudian dengan mendudukkan bokongnya di sofa ruang tengah.


"Ada hal penting yang harus anda tahu bos tentang mantan istri anda, Geffie, dan juga Kinara." ucap Rendy kali ini dengan nada yang serius.


"Tentang apa ini?" tanya Kafeel dengan penasaran.


Rendy yang mendengar pertanyaan tersebut lantas langsung mendekat ke arah Kafeel dan memperlihatkannya rekaman kamera pengawas pada hari itu.


"Anda bisa lihat tuan, sebelum kedatangan Geffie ke kamar Kinara ada seorang pelayan hotel datang ke kamar sambil mendorong troli makanan, aku yakin pasti anda mengira itu adalah hal biasa bukan? hanya saja ada yang aneh dari petugas hotel tersebut. Jarak petugas itu masuk dan juga keluar berkisar sekitar 45 menitan, bukankah itu terlalu lama tuan? tidak hanya itu saja ada hal aneh yang terlihat ketika petugas itu keluar dari kamar Kinara." ucap Rendy menjelaskan detailnya sambil men zoom gambar pada iPad yang ada di tangan Kafeel. "Lihatlah tuan seperti ada kain yang sedikit menjuntai dari dalam troli bagian bawah, jika dipikir pikir lagi bukankah kain ini mirip dengan gaun yang di pakai Kinara saat itu tuan?" ucap Rendy kemudian sambil menatap ekspresi wajah Kafeel.


Keringat dingin mulai menetes di dahi Rendy, ia yakin setelah puncak penjelasannya sebentar lagi Kafeel pasti akan segera mengamuk.

__ADS_1


"Lalu?" ucapnya dengan dingin.


"Saya mencoba mengikuti arah kepergian petugas tersebut dan hal yang mengejutkan terjadi di mana petugas tersebut ternyata masuk ke dalam kamar hotel 101, bukankah kamar ini adalah..." ucap Rendy namun terhenti ketika suara meja kaca yang terdengar pecah ketika Kafeel menendangnya barusan membuat nyali Rendy seakan menciut untuk melanjutkan kembali ceritanya.


"Kau... sejak kapan kau jadi sebodoh itu Ren!" ucap Kafeel setengah berteriak dengan menunjuk ke arah Rendy.


"Saya benar benar minta maaf tuan, saya akui saya yang bersalah di sini tuan." ucap Rendy sambil menunduk karena ia tahu kelalaiannya kali ini adalah sebuah kesalahan terbesar sepanjang pekerjaannya.


Mendengar hal itu dengan mata yang merah tajam Kafeel lantas melangkah mendekat ke arah Rendy, ditunjuknya dengan kasar pundak Rendy menggunakan jarinya berulang kali seperti hendak menghajar Rendy namun Kafeel masih berusaha mengontrol emosinya mengingat Rendy adalah orang kepercayaannya dan telah bekerja dengannya cukup lama.


"Bereskan kekacauan ini segera Ren! atau kau yang akan aku jadikan sasaran amukan ku!" ucap Kafeel dengan nada penuh penekanan membuat Rendy hanya bisa menunduk dan tidak berani menatap ke arah mata Kafeel yang tengah menatap tajam ke arahnya. "Pergi sana kau sekarang!" ucap Kafeel kemudian berbalik memunggungi Rendy seakan enggan untuk melihat kembali ke arah Rendy.


Rendy yang mendengar perintah dari Kafeel barusan lantas langsung melenggang pergi dari sana sebelum Kafeel benar benar berubah dan berbalik memangsanya.


Teriak Kafeel dengan frustasi seakan kini ia merasa menjadi laki laki paling bodoh di dunia ini karena telah melupakan janji yang ia buat sendiri pada Kinara ketika di rooftop kala itu. Bayang bayang tangis Kinara ketika mengiba kepadanya mulai berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang tidak pernah bisa berhenti, membuat Kafeel semakin di buat frustasi karenanya.


"Maafkan aku Ra... maaf..." hanya kata itu yang terulang dari mulut Kafeel yang tidak tahu lagi harus bagaimana untuk memperbaikinya.


Kafeel yang baru tersadar akan satu hal lantas langsung bangkit dan menghapus dengan kasar air matanya. Dengan langkah terburu Kafeel lantas mulai keluar dari unit apartemennya dan langsung menuju unit apartment Kinara.


Diketuknya berulang kali pintu unit apartment Kinara sambil terus memanggil nama Kinara dan menyebutkan kata maaf berulang kali. Hanya saja sama sekali tidak ada jawaban di sana membuat Kafeel lantas bingung dan mengira Kinara masih marah dan tidak ingin menemuinya.


Tubuh Kafeel lantas luruh dan jatuh terduduk di lantai dengan bersandar di pintu unit apartment Kinara. Dijambaknya rambutnya dengan frustasi sambil terisak namun tanpa suara seakan menyesali semua perbuatannya.


"Bodoh kau... bodoh... bodoh... bodoh kau Kaf...." ucapnya berulang kali sambil memukulkan kepalanya dengan tangannya berulang kali. "Aku sungguh menyesal tidak mempercayai mu Ra, aku sungguh sungguh menyesal dan sangat menyesal. Ku mohon Ra jangan hukum aku seperti ini..." ucap Kafeel sambil mengetuk pelan pintu unit apartment milik Kinara.

__ADS_1


Kafeel meringkuk menyandarkan kepalanya pada pintu unit apartment Kinara dengan frustasi karena tidak terdengar apapun dari arah dalam. Kafeel tahu Kinara pasti marah, hanya saja masih adakah kata maaf yang tersisa untuk dirinya yang bodoh ini? Kafeel tidak meminta penuh karena Kafeel tahu kesalahannya sangatlah besar, namun entah mengapa Kafeel masih menginginkannya padahal jelas jelas Kafeel lebih tahu reaksi seperti apa yang akan di berikan oleh Kinara padanya.


Dengan rasa yang frustasi Kafeel memutuskan untuk diam menunggu Kinara di depan pintu unit apartemennya.


Satu jam...


Dua jam...


Tiga jam...


Kafeel mulai frustasi karena sampai saat ini pintu unit apartment Kinara sama sekali tidak terbuka sejak dari tadi.


"Permisi pak saya mau masuk." ucap sebuah suara yang lantas membuat Kafeel langsung mendongak ke arah sumber suara.


Perlahan Kafeel lantas mulai bangkit dan menatap kearah petugas pelayanan kamar dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kafeel kemudian.


"Saya hanya akan beres beres di dalam karena kemarin malam penghuni unit apartment ini sudah check out." ucapnya menjelaskan.


"Oh mau bersih bersih?" ucap Kafeel dengan singkat sepertinya Kafeel belum menyadari sepenuhnya perkataan petugas itu. "Tunggu sebentar... apa kata mu barusan check out? jangan bercanda kamu!" ucap Kafeel kemudian terkejut kala baru saja menyadari ucapan dari petugas tersebut.


"Benar pak, unit apartment ini sudah kosong" ucapnya lagi mengulang karena sepertinya Kafeel terlihat tidak percaya padanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2