Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Jauhkan tangan kotor mu!


__ADS_3

Setelah Kinara selesai di obati, Dika pamit untuk kembali ke rumah sakit karena masih ada pasien yang menunggunya. Kafeel kemudian lantas mengantar Dika hingga ke pintu depan.


"Tak perlu khawatir tidak ada luka yang serius, jangan lupa untuk mengoles salepnya, jika terasa sakit beri dia pereda nyeri yang aku resep kan, apabila muncul gejala lain nanti malam kau bisa langsung membawanya ke rumah sakit dan menemui ku." ucap Dika kepada Kafeel yang di balas Kafeel dengan anggukan.


Setelah kepergian Dika dari sana, Kafeel lantas merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Rendy di sana.


"Halo bos" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Selidiki siapa yang membuat Kinara terluka, aku mau hasilnya malam ini juga harus ada." ucap Kafeel dengan nada tidak ingin di bantah.


"Em tuan bisa saya minta clue nya?" ucap Rendy tiba tiba namun dengan nada ragu ragu karena ia tahu Kafeel akan marah jika ia bertanya hal tersebut.


"Kau begitu saja minta clue, cari saja sendiri! kalau aku tahu aku tidak akan menyuruh mu untuk bertindak. Apa kau ingin makan gaji buta?" ucap Kafeel dengan kesal kala mendengar pertanyaan bodoh dari Rendy


"Baik baik tuan akan saya laksanakan secepatnya." ucap Rendy kemudian, setelah itu Kafeel lantas memutus sambungan telponnya.


Kafeel melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa untuk melihat keadaan Kinara, ketika sampai di sana Kafeel melihat Kinara tengah tertidur, ya ini memang ulahnya Kafeel yang menyuruh Dika untuk memberikannya suntikan obat penenang dosis rendah, sehingga Kinara bisa tidur sebentar dan beristirahat.


Kafeel membawa selimut tebal dari arah kamar lalu menyelimuti Kinara. Di bukanya tutup salep di tangannya, kemudian mengoleskannya pelan pada beberapa luka di tubuh Kinara.


"Pasti rasanya sakit sekali ya Ra?" ucap Kafeel pada diri sendiri yang tentu saja hanya di balas keheningan karena Kinara kini tengah terlelap dalam tidurnya. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh mu Ra! lihat saja apa yang akan ku lakukan dengan orang itu." imbuh Kafeel.


********


Sementara itu di kediaman rumah Ardi tengah terjadi huru hara antara Sila dan juga Ardi. Ardi yang bingung harus berbuat apa untuk menghindari amarah Sila, lantas memutuskan untuk pergi keluar dan bersembunyi sementara waktu dari Sila.


Ckit


Suara rem di injak secara mendadak terdengar nyaring di telinga. Ardi yang memang terkejut dengan mobil yang secara mendadak berhenti di depannya, lantas menginjak rem secara mendadak.


"Mobil sialan!" gerutu Ardi.

__ADS_1


Seorang pria berjas hitam lantas terlihat ke luar dari mobil itu, diikuti dua orang pria bertubuh tinggi tegap di belakangnya.


Tok tok tok


Kaca mobil Ardi perlahan mulai turun ketika di ketuk dari luar oleh seseorang.


"Dengan bapak Ardi?" ucap pria berjas hitam tersebut yang ternyata adalah Rendy.


"Ya, kalian siapa ya?" tanya Ardi dengan tatapan bingung karena tiba tiba di berhentikan di tengah jalan oleh beberapa orang.


"Kami dari kepolisian khusus, ingin meminta keterangan anda tentang laporan yang di buat oleh istri anda." ucap Rendy membuat alibi.


"Yang benar saja pak! laporan atas dasar apa ini?" tanya Ardi yang cukup di buat terkejut ketika mendengarnya.


"Laporan atas tindak KDRT dan juga perselingkuhan, kami harus membawa anda ke kantor. Untuk surat penangkapan sedang di proses dan akan segera kami berikan kepada anda." ucap Rendy lagi.


"Saya tidak mau!" teriak Ardi menolak.


Dalam seretan dua orang pria bertubuh kekar itu Ardi terus meronta, hingga ia di bawa ke dalam mobil barulah keheningan terjadi. Setelah Rendy memastikan mobil yang membawa Ardi melaju ke suatu tempat, Rendy lantas mulai memakai sarung tangannya kemudian masuk ke mobil milik Ardi.


Ada beberapa hal yang di lakukan Rendy di sana dan salah satunya adalah menghapus rekam jejak tepat sebelum dirinya datang hingga satu jam setelahnya. Setelah semuanya selesai, Rendy mulai melajukan mobil tersebut ke suatu tempat.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Saya sudah membawanya ke markas bos dan memastikan semuanya bersih." ucap Rendy dengan nada yang datar.


"Bagus, kerja mu lumayan cepat. Sementara ini awasi dia hingga aku datang ke sana." ucapnya kemudian memutus sambungan telpon.


"Akhirnya aku akan dapat bonus juga yuhuuuuu." teriak Rendy setelah sambungan telponnya terputus dengan nada yang gembira.


*******

__ADS_1


Di suatu ruangan yang pengap dengan hanya bermodalkan satu lampu gantung untuk penerangannya, Ardi tengah diikat di sebuah kursi di bagian tengah ruangan tersebut.


Tak tak tak


Suara langkah kaki terdengar nyaring mulai mendekat ke arah tengah.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ardi ketika melihat seseorang berjalan mendekat ke arahnya.


"Siapa aku? itu tidaklah penting, yang jelas kau akan celaka ketika menyentuh milikku!" ucap Kafeel dengan nada yang dingin.


Mendengar hal itu Ardi nampak terdiam sambil mengingat ingat siapa yang di maksud oleh pria di hadapannya ini. Namun sayangnya, semakin Ardi mencoba mengingatnya ia semakin tidak merasa bersalah, hanya satu yang pernah ia sentuh dan hampir di jamah, namun gagal karena isterinya tiba tiba datang dan mengacaukan semuanya.


"Tidak mungkin Kinara bukan? yang benar saja Kinara kan menantu ku mana ada hubungannya dengan pria ini." batin Ardi dengan sedikit tersenyum membuat Kafeel semakin kesal kala menatap wajah Ardi.


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ardi, saking kerasnya tamparan tersebut lima tangan Kafeel bahkan sampai membekas di pipi Ardi, rasanya begitu ngilu dan membuat kepalanya langsung berdenyut.


"Bagaimana rasanya? apa kamu sekarang sudah mengingatnya ha?" teriak Kafeel.


"Apa mau mu sebenarnya? semakin dipikir pun semakin aku tidak tahu siapa yang kau maksud!" ucap Ardi sambil menahan rasa sakit yang menjalar di pipinya.


Kafeel yang mendengar hal itu tentu saja semakin marah dan kembali menampar pipi Ardi yang sebelahnya, hingga membuat kedua pipi Ardi terdapat cap tangan milik Kafeel. Tidak sampai di situ saja, Kafeel yang sudah terlanjur kesal lantas menendang dengan kuat kaki kursi hingga patah, sedangkan Ardi yang berada di atasnya tentu saja langsung tersungkur bersamaan dengan kursi yang diikat di tubuhnya.


"Sekali lagi ku peringatkan pada mu jangan sentuh Kinara dengan tangan kotor mu itu!" teriak Kafeel kemudian dengan nada yang menggelegar dan memenuhi ruangan tersebut.


Ardi yang tersungkur ke lantai lantas langsung terdiam kala nama Kinara terucap dari mulut pria yang memukulinya itu.


"Kinara?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2