Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Bukan jodoh?


__ADS_3

Yang sebenarnya terjadi tepat setelah Kinara pingsan di kamarnya. Terlihat petugas room service yang masih berada di ruangan tersebut lantas datang mendekat ke arah Kinara untuk mengecek kondisinya. Setelah ia memastikan bahwa Kinara benar benar sudah pingsan, ia lantas kembali menuju troli dan langsung membuka troli bagian bawah.


"Ah apakah dia sudah tidur?" tanya Nabila ketika keluar dari troli bagian bawah yang hanya tertutup kain di sana.


"Sudah bu" ucapnya singkat.


"Ayo bantu aku memasukkannya ke dalam troli." ucap Nabila mengajak petugas tersebut agar membantunya.


Keduanya kemudian menggotong tubuh Kinara dan memasukkannya perlahan ke dalam troli.


"Benar benar menyusahkan!" gerutu Nabila sambil sedikit mendorong kaki Kinara agar lebih masuk ke dalam troli. Setelah memastikan Kinara sudah dalam posisinya, Nabila lantas menutup troli tersebut dan merapikannya.


Seulas senyum terbit di wajah Nabila kala melihat Kinara tidak nampak tengah berada di dalam troli, benar benar sesuatu yang menguntungkan karena tubuh Kinara yang kecil membuatnya begitu muat masuk ke dalam troli tanpa harus Nabila bersusah payah memasukkannya.


"Jangan lupa bawa dia ke kamar 101" ucap Nabila kembali mengingatkan petugas tersebut.


"Tentu bu, saya permisi" ucap petugas tersebut kemudian mendorong troli perlahan meninggalkan kamar.


Setelah kepergian Kinara dan juga petugas tersebut dari sana, Nabila lantas mematut dirinya di cermin dan mulai membuat sanggul yang mirip dengan rambut Kinara. Ketika Nabila masih menata rambutnya pintu perlahan terbuka menampilkan sosok Geffie di sana.


"Kau mengejutkan ku saja!" ucap Nabila yang terkejut karena mengira barusan adalah orang lain bukan Geffie.


"Apa semua sudah beres?" tanya Geffie menatap ke arah Nabila yang tengah sibuk merapikan rambutnya.


"Tunggulah sebentar, kurang sedikit lagi." ucapnya sambil membenarkan rambutnya kemudian merapikan wedding dress yang ia kenakan.

__ADS_1


"Kamu hanyalah figuran bukan pemeran utama dalam pernikahan ini, bukankah kau terlalu berlebihan?" ucap Geffie karena Nabila malah menanggapinya dengan sungguhan sampai sampai sedetail itu.


"Janganlah berisik, Kafeel itu orang yang teliti jika aku tidak memperhatikan detailnya maka kita akan ketahuan." ucap Nabila dengan kesal karena yang di lakukan Geffie sedari tadi hanyalah mengomel.


"Terserah apa katamu!" ucap Geffie kemudian pasrah.


Setelah semuanya selesai Nabila mulai mendekat ke arah Geffie bersiap untuk memulai akting mereka.


"Ingat satu hal tutupi wajah ku agar tidak tertangkap kamera pengawas, buat sepanas mungkin dan natural. Jangan sampai kamu terlalu melebih lebihkannya atau hanya standar saja." ucap Nabila memperingati.


"Iya aku tahu, sudahlah ayo cepat lakukan keburu kita ketahuan" ucap Geffie kemudian yang gemas karena Nabila hanya berputar putar sedari tadi tanpa langsung memulainya.


Keduanya pun lantas memulai akting mereka, dengan perlahan Geffie mulai ******* bibir Nabila dengan brutal. Ketika keduanya sampai di titik utama kamera pengawas, Geffie sengaja menegang tengkuk Nabila seakan akan seperti menuntun Nabila untuk mengikuti permainannya, padahal yang sebenarnya terjadi Geffie hanya berusaha membuat wajah Nabila agar tidak tertangkap kamera pengawas.


Flashback off


Sementara itu setelah Kafeel mengusirnya dari area taman, Kinara melangkahkan kakinya dengan langkah yang berat menjauh dari tempat Kafeel.


Kinara mengambil duduk pada sebuah kursi yang terletak di dekat area kolam renang. Kinara membungkukkan tubuhnya sambil menunduk, tangisnya benar benar pecah saat itu juga. Kinara tidak tahu lagi harus menjelaskannya dengan cara apa lagi agar Kafeel percaya padanya.


"Bodohnya aku yang percaya akan cinta sehingga aku lagi lagi harus terjatuh karena rasa percaya yang hanya ku perjuangkan sendiri baik dulu ketika bersama Geffie maupun saat ini." ucapnya dengan air mata yang berlinang. "Aku sungguh tidak mengerti, bagaimana mungkin Kafeel sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan ku hiks hiks..." imbuhnya lagi.


Sebuah tangan dengan saputangan di genggamannya perlahan menyentuh pundak Kinara. Kinara yang memang dalam posisi menunduk lantas langsung mendongak kala yang ada dipikirannya bahwa tangan ini adalah milik Kafeel.


"Kaf aku benar benar..." ucapnya namun terpotong karena ketika dia mendongak ternyata yang di lihatnya bukanlah Kafeel melainkan Rian pengacaranya.

__ADS_1


"Hapuslah air matamu, bukankah air mata mu terlalu berharga jika kau gunakan untuk menangisi seseorang yang bahkan tidak ingin mendengar penjelasan mu sama sekali?" ucap Rian sambil mengambil duduk di sebelah Kinara.


Kinara mengambil saputangan tersebut dan mengusap air matanya perlahan.


"Apa yang kamu lakukan di sini? pernikahannya tidak jadi, kenapa kamu tidak pulang?" tanya Kinara dengan nada suara yang serak karena habis menangis.


"Entahlah... aku hanya mengikuti kata hati ku untuk tidak pulang dan aku malah menemukan mu di sini." ucap Rian dengan nada yang teduh.


Mendengar hal itu Kinara hanya terdiam seakan enggan menanggapi lebih lanjut ucapan Rian barusan.


"Aku tahu dan percaya kamu tidak melakukannya Ra, aku bahkan lebih tahu bagaimana perjuangan mu untuk berpisah dengan Geffie, bukankah tidak logis jika tiba tiba kau tidur dengannya?" ucap Rian tiba tiba yang lantas langsung membuat Kinara menoleh ke arahnya karena tidak menyangka Rian mengetahui tentang hal ini.


"Wah beritanya sudah menyebar ya..." ucap Kinara dengan nada yang sendu di setiap ucapannya.


"Aku tidak akan mengatakan tidak hanya untuk menenangkan mu karena tebakan mu barusan adalah sebuah kenyataan." ucap Rian dengan nada yang penuh perhatian membuat Kinara menghela nafasnya berulang kali di sana.


"Aku tidak tahu lagi harus membela diri seperti apa, tapi aku berani bersumpah aku tidak pernah melakukannya. Hanya saja entah mengapa Kafeel tidak ingin sama sekali mendengar penjelasan ku, ini jebakan Rian." ucap Kinara seakan mulai mengeluarkan unek uneknya.


"Mungkin Kafeel saat ini tengah emosi, kamu jangan terus menyalahkan dirimu seperti ini. Bukankah nona Kinara adalah seorang yang kuat dan tegar walau badai yang datang menerpanya cukup kencang?" ucap Rian menyemangati sambil tersenyum ke arah Kinara.


Mendengar ucapan Rian barusan ada sedikit perasaan tidak percaya di sana mengingat ini adalah kali keduanya ia terjatuh. "Apa kamu yakin aku bisa?" tanya Kinara dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Rian.


"Ya aku yakin akan hal itu, bangkitlah jangan terlalu lama terpuruk. Bukankah ada ungkapan yang mengatakan mati satu tumbuh seribu? jika Kafeel terus terusan tidak mempercayai kata kata mu mungkin ini adalah sebuah pertanda bahwa kalian tidaklah berjodoh."ucap Rian dengan nada seakan penuh maksud tersirat di sana. "Katakan saja apa yang ingin kamu lakukan maka aku akan membantu mu." imbuhnya kemudian.


"Terima kasih banyak yan karena telah menenangkan ku." ucap Kinara dengan tulus sambil tersenyum ke arah Rian.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2