Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta

Bodohnya Aku Yang Percaya Akan Cinta
Untuk terakhir kalinya


__ADS_3

"Ini... saatnya... aku pergi Ra... ber..bahagialah...." ucap Rian kemudian terhenti, tangan Rian yang semula memegang pipi Kinara perlahan turun dan jatuh dengan posisi mata yang tertutup.


"Riannnnnnnn...." teriak Kinara secara spontan dengan disertai tangisan yang tidak bisa dia tahan lagi.


Tepat setelah teriakan Kinara terdengar di sana suasana mendadak hening dan sepi, semua tamu undangan sudah berhamburan keluar setelah mendengar suara tembakan tadi dan kini hanya tersisa keluarga inti saja.


Teriakan Kinara yang memanggil nama Rian begitu keras hingga membuat Arsa, Adhitama dan juga Ratih yang tengah bersembunyi lantas keluar dan langsung berlarian menuju ke arah Rian dan juga Kinara.


Sedangkan Kafeel yang mendengar teriakan tersebut, lantas langsung mengakhiri panggilannya kemudian menghampiri Kinara dan memeluk tubuh Kinara dengan erat sambil menatap ke arah Rian yang sudah terbaring di pangkuan Kinara.


"Tenanglah Ki..." ucap Kafeel sambil menatap ke arah Rian dengan pandangan yang berkaca kaca hingga perlahan air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


Kafeel menyesal tidak memanfaatkan waktunya bersama Rian dengan sebaik baiknya, selama beberapa bulan ini hanya ada perselisihan dan juga perdebatan yang mengisi hari hari mereka. Bagai tom dan jerry Kafeel dan juga Rian tidak pernah akur setiap harinya, ada saja yang mereka ributkan hingga terkadang membuat Arsa dan juga Ratih kewalahan dalam menangani mereka.


Kafeel mencium puncak kepala Kinara kemudian memalingkan wajahnya ke atas yang saat ini sudah banjir dengan air mata, Kafeel benar benar tidak sanggup melihat wajah Rian yang terbujur kaku dengan bersimbah darah di tanah.


Sedangkan Arsa, Ratih dan juga Adhitama yang melihat semua itu hanya bisa menatap dengan tatapan yang melongo tak percaya. Mereka benar benar terkejut Rian telah benar benar pergi meninggalkan mereka untuk selama lamanya. Tangis mereka tak bisa lagi tertahan mengiringi kepergian Rian untuk selamanya.

__ADS_1


******


Mansion utama


Semua orang nampak berkumpul di ruang tengah dengan mengenakan pakaian serba putih. Pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia di dunia ini berubah menjadi hari kelam untuk keluarga Adhitama. Kepergian Rian benar benar menyisakan luka terdalam bagi keluarga Adhitama, di saat kebahagian mulai berkumpul perlahan menjadi satu Rian malah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


Ratih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adhitama tak kuasa menahan tangisnya, Ratih tak menyangkan bahwa putra yang ia sembunyikan agar tidak di rebut oleh Arsa berakhir dengan kematian yang tragis di saat Arsa dan juga Adhitama baru mengetahuinya.


"Maafkan mama Yan... harusnya mama mempertemukan mu dengan Oma dan juga papamu sejak dulu... mama benar benar minta maaf... hiks hiks.." ucapnya dalam hati dengan tangis yang terisak.


Di saat semua keluarga tengah berduka dan hendak melepas kepergian Rian untuk selamanya, Kinara kini terlihat sedang duduk bersandar di ranjang dengan lengan yang di balut perban karena tembakan tadi. Beruntung peluru tersebut tidak menembus lengannya dan hanya mengenai bagian permukaannya saja.


Kafeel adalah putra sulung di keluarga Adhitama, ia harus kuat dan tetap tegar agar dapat menopang seluruh kesedihan keluarganya. Rasanya sangat sulit ketika Kafeel hampir gila karena menahan dirinya agar tetap waras saat melepas kepergian Rian dengan ikhlas dan menguatkan keluarganya.


Deringan ponsel milik Kafeel mulai terdengar membuat Kafeel lantas langsung tersadar dari lamunannya.


"Halo" ucap Kafeel dengan nada yang serak menahan gejolak di hatinya tepat setelah menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya

__ADS_1


"Saya sudah berhasil menyergapnya bos, sekarang dia ada di markas dan menunggu untuk di eksekusi." ucap Rendy dengan nada yang serius.


"Tunggu aku di sana dan jangan lakukan apapun hingga aku datang." perintah Kafeel ketika mendengar berita barusan dari Rendy.


"Baik bos" ucap Rendy, setelah itu terdengar panggilan ponsel di putus begitu saja oleh Kafeel.


"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu begitu saja!" ucap Kafeel dengan lirih namun masih berusaha menahannya agar tidak terdengar oleh Kinara yang terlihat masih sangat terpukul di sana.


Setelah memastikan Kinara baik baik saja, Kafeel lantas keluar dari kamar dan mulai melangkahkan kakinya ke depan untuk mengikuti prosesi pemakaman Rian dan mengantar jenazah Rian untuk yang terakhir kalinya.


Isak tangis tak henti hentinya mengiringi kepergian Rian untuk selamanya, hingga jasad Rian di kebumikan dan bersatu dengan tanah. Baik Arsa, Ratih dan juga Adhitama mereka hanya bisa terdiam dan meratapi kesedihan mereka dengan penyesalan demi penyesalan yang ada dalam diri mereka masing masing.


Arsa menatap ke arah pusara yang sudah di penuhi bunga setaman di permukaannya dengan tatapan yang sendu. Arsa adalah orang yang paling menyesal dalam hal ini, baginya sikap keegoisan yang tertanam dalam hatinya waktu itu, membuat dirinya tidak mengetahui keberadaan Rian lebih cepat.


Jika harus kembali memutar waktu ke masa lalu mungkin Arsa tidak akan pernah menyuruh Ratih untuk menceraikan Adhitama, jika begitu akankah semua kemalangan yang menimpa keluarganya tidak akan pernah terjadi? atau mungkin tetap terjadi namun dengan jalan yang berbeda?


Berkali kali Arsa mengusap air mata yang lolos begitu saja di pipinya dengan kasar, tubuhnya sudah begitu tua untuk menanggung beban ini. Keinginan terbesarnya di hari tua adalah melihat cucu cucunya bahagia dan segera menimang cicit. Namun yang ia dapat malah kematian tragis cucu yang baru ia ketahui kehadirannya.

__ADS_1


"Maafkan Oma... maafkan keegoisan Oma... Oma benar benar minta maaf..." ucapnya dengan lirih sambil masih menatap ke arah pusara Rian untuk yang terakhir kalinya.


Bersambung


__ADS_2