
Setelah prosesi pemakaman Rian selesai Kafeel mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat. Tatapannya ke jalanan begitu bengis, pikirannya benar benar gelap, kematian Rian benar benar menyisakan luka terdalam baginya. Walau ia dan Rian tidak pernah akur, namun bukan berarti Kafeel akan diam saja ketika melihat adiknya di bunuh dengan begitu tragis di depan matanya.
Beberapa menit berkendara Kafeel terlihat menghentikan laju mobilnya di sebuah bangunan yang terlihat seperti sebuah gedung tua terbengkalai di salah satu tempat letaknya di ibu kota.
Dengan langkah yang bergegas Kafeel lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan tersebut mencari keberadaan orang yang di maksud oleh Rendy di telpon.
"Bos..." panggil Rendy ketika melihat kedatangan Kafeel yang berjalan mendekat ke arahnya.
Seulas senyum miring terlihat terbit dari wajah seseorang yang kini dalam posisi terikat di sebuah kursi ketika melihat kedatangan Kafeel di sana.
"Ternyata kau!" ucap Kafeel dengan tersenyum meremehkan ke arahnya.
"Cuih aku bahkan ke sana untuk membunuh mu tapi malah orang lain yang mati, benar benar menggelikan." ucap Devan dengan nada yang sengaja di buat buat.
Kafeel yang mendengar hal itu tentu saja langsung naik pitam dan melangkah bergegas menuju ke arah di mana Devan berada. Dengan kesetanan Kafeel menendang kursi yang menopang Devan hingga jatuh dan tergeletak dengan posisi Devan yang masih di atasnya.
Devan yang terjatuh bukannya memohon ampun malah tertawa dengan kerasnya, membuat Kafeel langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam.
"Oh aku lupa satu fakta bahwa ternyata laki laki itu adalah saudara kandung mu ya? benar benar kebetulan yang sangat luar biasa hahahaha." ucap Devan dengan tawa di setiap kata katanya yang lantas membuat Kafeel benar benar naik darah ketika mendengarnya.
"Kau sangat bermulut besar rupanya? kau tau satu peribahasa yang mengatakan bahwa kuku harus di balas kuku dan gigi harus di balas gigi? jadi bukankah kau bisa menebak apa yang aku akan lakukan padamu Devan Mahendra?" ucap Kafeel dengan nada yang di buat buat membuat Devan langsung terdiam seketika.
Pikiran Devan melayang tepat ketika ucapan Kafeel menggema di telinganya. Devan kembali menarik memori tentang bagaimana ia membunuh saudara Kafeel waktu itu. Dan Devan lantas tersenyum ketika berpikir bahwa Kafeel akan langsung membunuhnya sama seperti dirinya yang menembak mati Rian.
"Hahahaha bunuh saja kalau kau memang mau ganti nyawa ku, aku tidak takut mati Kaf... lagi pula polisi akan segera menemukan jasad ku bukan? dan kau akan mendekam di penjara." ucap Devan dengan tawa yang sinis seakan menganggap remeh ucapan Kafeel.
__ADS_1
Sedangkan Kafeel yang mendengar ucapan Devan barusan lantas tersenyum dengan tatapan iblis mengarah ke Devan. "Apa kau ingin mencobanya? jika seorang Kafeel sudah bertindak tidak akan ada hukum yang bisa menangkapnya." ucap Kafeel sambil menengadahkan tangannya ke atas seakan mengkode Rendy untuk memberinya sesuatu.
Rendy yang melihat kode itu, lantas langsung mendekat dan memberikan Kafeel satu buah pistol lengkap dengan peredam suara di ujungnya. Dengan perlahan Kafeel mulai menarik pelatuknya dan mengarahkannya ke arah Devan, membuat Devan lantas menelan salivanya secara kasar.
"Kau menembakkan peluru sebanyak 4 kali maka aku akan membalasnya 4 kali juga, bersiaplah menjemput ajal mu!" ucap Kafeel bangkit berdiri dan memainkan pistol di tangannya.
Kafeel lantas menendang kursi yang diikat bersama dengan Devan cukup keras hingga bergeser dan menabrak ke dinding, membuat Devan yang berada di atasnya lantas meringis kesakitan ketika kursi tersebut membentur dinding bersama dengan tubuhnya.
Dor
Satu tembakan terdengar nyaring dan mengenai tepat sasaran. Devan yang mengira Kafeel akan langsung menembak ke arah jantungnya lantas terkejut karena Kafeel mengarahkan tepat ke betisnya. Begitu terasa ngilu dan sakit yang Devan rasakan di sekitaran area betisnya.
"Kau... arg.." teriak Devan sambil menahan sakit di area betisnya.
"Kenapa? apa kau ingin mengatakan kata kata terakhir mu sebelum ajal menjemput?" ucap Kafeel dengan tersenyum sambil melangkah mendekat ke arah Devan.
Aaaaaaaaa
"Berteriak lah... lebih keras... tidak akan ada yang mendengar mu!" ucap Kafeel dengan tawa yang menggema.
Sedangkan Rendy yang menyaksikan segalanya di sana, hanya bisa diam dan menutup mulutnya ketika menyaksikan amukan bosnya itu.
"Mengganggu bos Kafeel sama dengan cari mati! dasar bodoh" batin Rendy dalam hati merutuki kebodohan Devan yang selalu saja berusaha menjatuhkan Kafeel.
Melihat Devan dengan keringat dingin yang membasahi dahinya, membuat Kafeel lantas tersenyum ia tahu laki laki itu pasti tengah menahan sakitnya saat ini.
__ADS_1
Kafeel kemudian lantas kembali mengarahkan pistolnya ke arah pundak dan langsung menembakkan pelurunya tepat di sana. Membuat Devan yang tidak bersiap sebelumnya lantas di buat terkejut dengan tembakan mendadak Kafeel yang kedua kalinya.
Darah segar berhamburan kemana mana tepat setelah Kafeel menembakkan peluru kedua di pundak Devan.
"Arg... kenapa kau malah bermain main bodoh! bunuh saja aku langsung, apa yang kau lakukan?" teriak Devan sambil mengerang kesakitan, membuat Kafeel yang mendengar itu lantas tertawa menikmati setiap penderitaan yang di rasakan oleh Devan.
"Terlalu mudah jika aku langsung membunuh mu, aku ingin melihat mu sekarat terlebih dahulu dan merasakan setiap rasa sakit yang memenuhi tubuh mu itu. Bukankah aku sangat baik padamu?" ucap Kafeel sambil tersenyum bahagia melihat wajah pucat milik Devan.
"Kau psiko gila! kau benar benar tidak waras Kaf!" umpat Devan dengan tatapan yang mulai memudar ke arah Kafeel.
Kafeel yang mendengar umpatan tersebut lantas langsung mendekat ke arah Devan dan melayangkan pukulan ke wajahnya dengan keras.
"Ini untuk luka yang di rasakan oleh Kinara!" teriak Kafeel sambil melayangkan pukulan yang pertama.
"Dan ini untuk orang tuaku yang terluka karena kehilangan satu putra mereka!" ucap Kafeel lagi sambil kembali melayangkan pukulan yang kedua kalinya.
"Ini untuk Oma Arsa yang telah kau buat sedih karena kehilangan cucu yang baru saja ia temui!" imbuhnya lagi sambil memukul untuk ketiga kalinya.
"Dan ini untuk...." ucap Kafeel dengan tercekat karena tak kuasa menahan kesakitan yang menggerogoti hatinya. "Untuk adik ku yang telah kau bunuh dengan keji!" teriaknya kemudian sambil kembali memberikan pukulan kepada Devan.
Setelah puas melayangkan pukulannya Kafeel lantas bangkit berdiri dan langsung menembak sebanyak dua kali, satu di bagian tangan kananya yang Devan gunakan untuk menembak Rian dan satu lagi di bagian lengan kirinya di mana ia memberikan luka tembak pada Kinara.
Devan yang memperoleh dua tembakan sekaligus lantas langsung mengerang dengan sejadi jadinya. Hingga kemudian Kafeel melangkah dan menghampiri Rendy yang masih setia menunggunya di sana.
"Bakar dia dan jangan sisakan apapun dari tubuhnya! biarkan dia merasakan bagaimana panasnya kobaran api membakar sekujur tubuhnya." ucap Kafeel dengan singkat kemudian melenggang pergi dari sana.
__ADS_1
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku! tidak bisa..." teriak Devan yang juga mendengar perintah yang di berikan Kafeel pada Rendy barusan.
Bersambung