CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 10. Squishy


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 10


Handphone milik Shine berdering keluar dari kamar mandi. Di layar telepon itu tertera nama 'Calon Bidadariku'. Senyum tampan mulai terukir di wajah pria bule itu.


Belum juga Shine menggeserkan tombol warna hijau, dering telepon itu pun mati. Ini tandanya kalau Amira mematikan panggilan. Perempuan itu tidak jadi menghubunginya.


"Apa-apaan dia ini! Kenapa seenaknya saja dia matikan panggilan begitu saja," ucap Shine di sana ada kecewa.


"Apa tadi dia salah pencet nomor dan hubungi orang lain?" tanya Shine bermonolog.


Shine yang baru selesai mandi, lantas memakai baju piama, lalu berbaring di atas tempat tidur. Dia ingin malam ini tidur lebih lama, karena besok akan melakukan perjalanan yang sangat jauh.


Lagi-lagi terdengar suara dari telepon dari handphone-nya yang disimpan di atas nakas. Namun, Shine mengabaikan panggilan itu dan memilih tidur. Dia tidak tahu kalau Amira yang sedang melakukan panggilan terhadap dirinya.


***


Sementara itu, di rumah Amira. Perempuan ini mendadak tidak tenang hatinya, karena panggilan telepon dia sejak tadi tidak diangkat oleh laki-laki yang sedang mengacaukan pikirannya saat ini. Dia takut kalau sudah terjadi sesuatu kepada Shine.


"Bagaimana?" tanya Abah pada Amira.


"Tidak diangkat juga, Bah. Apa sudah terjadi sesuatu kepada Shine di apartemennya, ya?" balas Amira menduga-duga.


"Coba telepon sekali lagi. Jika tidak diangkat juga sebaiknya kita ke sana untuk melihat keadaannya," ucap Abah.


Amira pun menghubungi Shine sekali lagi. Lagi-lagi panggilannya itu tidak diangkat.


"Sebaiknya kita lihat keadaannya ke sana!" ajak Kiai Samsul kepada putrinya.


Kiai Samsul, Ummu Habibah, dan Amira pergi ke apartemen Shine. Amirara yang sudah tahu nomor kode pintu apartemen itu, langsung masuk dan mencari keberadaan laki-laki itu.


Shine tidak ada di semua ruangan yang dicari oleh Amira. Tinggal kamar tidur miliknya saja yang belum dia periksa.

__ADS_1


"Abah, tinggal kamar tidurnya saja yang belum diperiksa. Apa aku harus masuk ke dalam kamarnya?" tanya Amira sambil melihat ke arah kedua orang tuanya.


"Sebaiknya kamu periksa juga di dalam sana. Siapa tahu dia benar-benar membutuhkan bantuan kita saat ini," jawab Kiai Samsul.


Amira pun masuk ke dalam kamar dan dia melihat Shine sedang berbaring di atas ranjangnya. Lalu, dia pun berniat memeriksa keadaan laki-laki itu.


Saat tangan Amira menjulur ke arah kepala Shine untuk memeriksa suhu tubuhnya. Laki-laki itu langsung mencengkram tangan itu dengan kuat dan menariknya sampai jatuh ke atas tubuhnya. Dalam hitungan persekon detik Shine membalikkan tubuhnya, sehingga Amira berada di bawah kungkungannya. Selain itu tangan Shine menekan kuat dada Amira.


'Empuk?'


Shine yang masih belum sadar sepenuhnya malah mere_mas squishy alami itu. Begitu dia memfokuskan penglihatannya dia merasa melihat ada Amira di dalam kuasanya.


"Otak aku sudah tidak beres. Bahkan dalam alam mimpi pun kamu masih saja bergentayangan di depan mataku. Sepertinya aku ini sudah benar-benar jatuh cinta kepadamu," bisik Shine yang masih berada pada posisinya.


Amira sangat shock, sampai tidak bisa apa-apa. Dia ingin berteriak, memukul muka laki-laki yang seenaknya saja menindih tubuhnya, dan mengigit tangannya yang sudah berani menyentuh aset miliknya yang berharga.


"Kamu sangat cantik Amira," lirih Shine dan memberikan kecupan di kedua mata Amira yang menatapnya horor. (Aku baru sadar ini keluarga Andersson, tidak bapak, anak-anaknya sering merasa halusinasi jika sama perempuan yang jadi jodohnya 😆😆🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️)


"Shine! Amira! Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Kiai Samsul yang sejak tadi menunggu di dekat pintu kamar tidur itu.


Shine terhenyak dalam kesadarannya. Dia benar-benar melihat ada Amira di bawah kungkungannya saat ini.


"Shine, kamu bereng_sek!" Akhirnya Amira sudah bisa mengumpulkan kekuatannya dan mendorong tubuh Shine dengan kuat sampai laki-laki dan terjengkang ke belakang.


Amira kemudian berlari ke dalam pelukan Kiai Samsul. Dia merasa terhina akan perlakuan Shine padanya barusan.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Shine yang masih mencerna kejadian saat ini.


"Tadi Amira menghubungi kamu berapa kali. Tetapi, kamu tidak mengangkat panggilan telepon darinya," jawab Kiai Samsul yang kini menatap tajam ke arah Shine.


Shine tidak tahu harus menjawab apa saat ini, karena dia merasa terharu akan perhatian Amira dan keluarganya. Apa lagi dia sampai melakukan perbuatan tadi, yang menurutnya sebuah keberuntungan yang sangat langka terjadi dalam hidupnya.


'Jadi, yang aku pegang tadi adalah asli aset milik Amira.' Muka Shine terasa panas saat mengingat kembali bagaimana empuknya squishy alami milik Amira.


"Sepertinya dia dalam keadaan baik-baik saja. Lebih baik kita pulang sekarang juga, Bah," ajak Amira yang masih berada dalam dekapan Kiai Samsul.

__ADS_1


Amira saat ini sangat malu sekali dan tidak berani menampakkan wajahnya kepada orang lain terutama pada Shine. Padahal dia sedang memakai cadar dan tidak ada orang lain yang bisa melihat wajahnya.


Shine ingin menahan Amira dan memintanya jangan dulu pulang. Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting kepadanya.


"Amira, ada yang aku bicarakan denganmu," kata Shine.


"Tidak ada lagi hal yang mau aku bicarakan lagi denganmu," balas Amira dan langsung pergi berlari keluar kamar itu.


Shine yang kakinya masih belum pulih tidak bisa mengejar Amira. Dia hanya bisa menatap nanar akan kepergian gadis itu bersama keluarganya.


"Padahal aku benar-benar mau menawarkan pernikahan atau pertunangan dulu kepadanya," lirih Shine.


***


Semenjak kejadian malam itu, Amira berusaha untuk menghilangkan bayangan Shine dalam pikirannya. Meski sangat sulit dia lakukan. Bahkan tubuhnya pun sering merinding saat membayangkan kejadian malam itu.


"Dasar laki-laki bereng_sek!" umpat Amira masih suka emosi jika mengingatnya lagi.


"Siapa laki-laki bereng_sek itu?" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari balik punggungnya.


"Sky?" Amira merasa ragu pada orang yang di depannya saat ini, karena mereka berdua memiliki wajah yang identik.


"Apa kamu tidak bisa membedakan yang mana Sky dan mana Shine?" ucap laki-laki yang kini tersenyum miring padanya.


"Mudah saja bagiku untuk membedakan kalian. Shine kursi roda sedangkan Sky pasti bisa berjalan," balas Amira dengan tatapan sinis.


"Pintar juga kamu. Aku hanya ingin mengantarkan ini," ucap Sky sambil menyerahkan sebuah paper bag.


"Apa ini?" tanya Amira.


"Itu hatinya Shine," jawab Sky yang terdengar ambigu.


***


Apa isi dari paper bag itu? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya.



__ADS_2