
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 62
Shine, Sky, dan Langit mendatangi markas tim keamanan keluarga Andersson yang ada di pusat. Mereka baru saja mendapat kabar kalau terjadi penyerangan terhadap Alex di depan gedung kepolisian pusat.
"Bagaimana dengan kabar dari papa?" tanya Langit.
"Tuan Angkasa sudah pergi ke sana dengan beberapa tim orang khusus," jawab Martin.
"Sebaiknya kita segera bersiap dengan peralatan tempur milik kita!" perintah Langit.
"Apa kalian butuh bantuan?" Tiba-tiba saja ada William Green dan Fatih sedang berdiri di depan pintu.
"Kakek Willi … Paman Fatih! Ternyata kalian ada di sini," pekik Langit senang.
Langit lebih senang jika yang jadi partner kerjasama ini adalah keluarganya. Sebab, dia percaya kalau mereka akan selalu berusaha agar bertahan hidup, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya.
"Kenapa malah kakek-kakek yang pada datang. Trio R sama Om Ghaza yang seharusnya di suruh ke sini," gumam Sky.
"Mereka tidak akan pernah diizinkan oleh ibu mereka jatuh ke dunia seperti ini. Kalau kita sudah terlanjur dulu pernah jatuh. Sehingga sekali-kali tidak apa-apa mengotori tangan kita lagi," balas William.
"Sepertinya masalah kita dulu belum tuntas dan ini adalah waktu terbaik untukmu menuntaskan semuanya," lanjut Fathir.
Meski Aurora melarang keras Fatih untuk datang ke Amerika dan membantu Alex. Dia tidak bisa membiarkan saudaranya berjuang sendirian tanpa bantuan orang-orang di masa lalunya. Lagian Alex sudah meminta izin kepada kepolisian Amerika untuk meminta bantuan saudaranya dari Indonesia. Jadi kali ini Fatih tidak perlu mencemaskan keterlibatan dirinya dalam penyelesaian masalah ini.
__ADS_1
"Memangnya Tante Mentari memberikan izin kepada Paman Fatih untuk ikut dalam misi ini?" tanya Langit.
"Diberikan izin setelah merayu dia habis-habisan," jawab Fatih sambil tersenyum jahil.
Langit hanya tersenyum garing karena dia tahu kalau Fatih adalah orang yang serius. Bahkan dia menjadi heran kenapa kedua anak kembarnya bisa berbeda seperti itu.Â
***
Satu jam lalu ….
"Apa kalian merasakannya?" tanya Alex kepada kedua orang kepercayaannya.
"Ya, tatapan yang ingin membunuh," jawab Akira dengan sikap waspadaÂ
"Ternyata meski kita sudah tua tapi, kemampuan insting tidak ikut hilang," lanjut Peter dan tatapan mata mulai berkeliling mencari keberadaan ancaman itu.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang, Tuan?" tanya Akira.
Pistol milik Alex bukanlah untuk membunuh, tetapi untuk melumpuhkan atau membius target. Sisanya dia akan berikan kepada anak buahnya. Entah itu diinterogasi atau dibunuh.
Alex dan Fatih sudah sumpah tidak akan menumpahkan darah lagi. Kecuali, jika benar-benar hal itu perlu dilakukan demi kebaikan semua.
"Ada musuh dari arah jam tiga dan jam lima!" teriak Alex sambil memberikan badannya. Begitu juga dengan Akira dan Peter. Namun, kedua ini sambil menembakkan tembakannya ke arah yang dibilang oleh Alex barusan.
Pistol mereka berdua menggunakan selongsong peluru, sehingga tidak akan terdengar bunyi letusan tembakan itu. Mereka pun baru sembunyi di balik mobil.
"Apa tembakan kita mengenai sasaran?" tanya Peter sambil mempertajam penglihatannya ke arah tempat yang tadi dia tuju menjadi sasaran.
__ADS_1
"Aku melihat kalau tembakkan aku mengenai target yang menjadi sasaran. Ada bercak darah di atas tembok dekat dia berdiri tadi," jawab Akira sambil melihat lewat teropong canggih miliknya.
"Sini! Aku mau melihat targetku juga, apa tepat mengenai sasaran atau tidak," ucap Peter sambil menengadahkan tangannya meminta dipinjamkan teropongnya.
Terlihat Alex mengarahkan tembakannya ke beberapa tempat. Hal ini membuat kedua orang itu terkejut.
"Ada apa, Tuan?" tanya Akira dan Peter secara bersamaan.
"Banyak musuh yang mengintai kita saat ini," jawab Alex.
Beberapa polisi melihat hal yang aneh sedang terjadi pada Alex dan kedua temannya. Mereka pun menjadi waspada karena melihat Alex menembakan pistolnya ke beberapa tempat.
"Tuan Andersson, apakah ada musuh di sekitar sini?" tanya salah seorang polisi.
"Kalian jangan bergerak diambil tempat masing-masing!" teriak Alex memberikan peringatan kepada beberapa anggota polisi yang hendak berlari ke arahnya.
Mereka pun langsung terdiam dan bersembunyi di tempat yang kiranya tidak akan terlihat oleh musuh. Namun, naas ada dua orang polisi yang baru saja sampai ke parkiran di depan kepolisian pusat. Mereka baru saja datang setelah menjalankan tugasnya.
"Tiarap!" teriak Alex, akan tetapi kedua orang itu tidak memahaminya.
Kedua polisi itu pun menjadi sasaran empuk para penjahat. Tabuh mereka di tembaki oleh banyak peluru sehingga mati di tempat.
"Tidak!" Alex pun mengarahkan tembakannya pada titik-titik yang diduga tempat musuh bersembunyi.
Akira dan Peter pun langsung mengeluarkan kedua senjata mereka dan mengarahkan tembakannya ke arah tembakan tadi berasal.
"Si_al!" umpat Alex marah karena ada dua polisi mati di depan matanya.
__ADS_1
***
Bagaimana Kelompok Keluarga Andersson mengalahkan musuh-musuhnya? Tunggu kelanjutannya, ya!