CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 21. Pinangan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 21


"Jika, Amira punya perasaan cinta untukmu, akankah kamu segera menikahinya?" tanya Kiai Samsul.


Shine tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. Tentu saja dia akan jangan senang hati meminang Amira.


"Tentu saja, Abah."


Kiai Samsul merasa senang, dia pun ikut tersenyum lebar. Dia berharap putri satu-satunya itu mendapat seorang pendamping yang benar-benar bisa menjaga dan membimbingnya.


***


Pagi harinya setelah selesai salat subuh tanpa sadar Amira terus melirik ke arah kamar tamu. Dia penasaran kenapa Shine belum juga keluar dari kamarnya. Amira tidak tahu kalau Shine saat ini bersama abah sedang menjala ikan di kolam belakang rumah Tahfidz.


"Ada apa? Cari Shine?" goda Umma Habibah.


"Umma, apa-apaan, sih?" Amira merasa sangat malu.


"Nak Shine itu, laki-laki yang baik dan bisa menjadi sosok seorang imam bagi keluarga," ucap Umma Habibah lagi.


"Aku belum yakin kalau Shine bisa menjadi pendamping hidup yang baik bagi aku," tukas Amira.


"Kamu mau mencari laki-laki yang seperti apa?" Umma Habibah menghela napasnya, "Shine itu sepertinya sangat menyukai dirimu."


Amira terdiam karena dia tahu akan perasaan laki-laki bule itu kepadanya. Namun, dia masih marah padanya, jadi memilih membiarkan seolah tidak peduli padanya.


"Kamu, jujur sama Umma. Apa kamu juga sekarang suka pada Shine?" tanya perempuan yang usianya sudah lebih dari 60 tahun itu.


Amira bingung harus menjawab apa. Di sudut hatinya ada perasaan lain untuk Shine. Namun, dia masih ragu apa kabar perasaan ini cinta atau hanya kagum saja.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Umma. Karena aku tidak mau salah memilih dalam mencari pasangan hidup. Setidaknya aku mencari laki-laki yang nilainya tidak jauh dari Rain," jawab Amira.


"Apa kamu sampai sekarang masih mencintai laki-laki itu? Dia itu sudah menikah, Amira. Seharusnya kamu segera mencari laki-laki lain, agar bisa secepatnya melupakan perasaan kamu kepada Rain," ujar umma.


Amira membenarkan ucapan ibunya. Hanya saja untuk melupakan perasaannya kepada laki-laki yang menjadi cinta pertama itu sangat sulit bagi dia untuk dilakukannya.


"Aku tahu Umma. Hanya saja perasaan itu akan sulit untuk kita kendalikan," tukas Amira dengan suaranya yang lirih.


***


Shine pulang ke Jakarta sekitar pukul 08:00:00 karena dia harus menghadiri rapat. Kini Kiai Samsul memanggil Amira dan ingin membicarakan sesuatu yang penting.


"Amira, abah mau tanya. Apa kamu pernah punya pikiran untuk menjadikan Shine sebagai pendamping hidupmu?"


Amira terdiam sejenak, kemudian dia berkata, "Iya. Aku tadi sempat berpikir, apa Shine bisa menjadi seorang pemimpin yang baik bagi keluarga aku nanti,"


"Seandainya saja Shine menawarkan pinangannya kepadamu saat ini, apakah kamu bersedia menerimanya?"


"Saya tidak bisa menjawabnya sekarang Abah. Bagaimanapun juga aku tidak mau main-main dalam menentukan pasangan hidup. Setidaknya aku harus melakukan salat istikharah dulu untuk memantapkan hatiku dalam memilih siapa yang pantas untuk menjadi pendamping nanti. Di rumah sakit juga ada seorang rekan dokter yang mengajukan lamaran untuk aku, Abah."


"Ya, sudah. Kamu lakukan saja salat istikharah dulu dan minta petunjuk kepada Allah, siapa yang pantas untuk menjadi pendamping dirimu kelak."


***


Shine hari ini punya janji untuk bertemu dengan Ghozali. Mereka sedang merencanakan kerja sama untuk pembuatan resort di daerah wisata di Karimunjawa. tempat wisata itu kini sedang banyak digandrungi oleh para turis asing maupun domestik.


Sebenarnya Shine hampir setiap hari mendatangi rumah sakit. Saat dirinya berjalan melewati ruang Amira, dia selalu mencuri pandang ke arah sana. Pemuda itu berharap bisa melihat gadis pujaan hatinya.


'Kenapa sulit sekali untuk bertemu dengan dia.'


***


Amira selama satu minggu ini melakukan salat istikharah dan meminta petunjuk. Siapa yang pantas menjadi pendampingnya.

__ADS_1


Hari ini kebetulan banyak sekali pasien anak-anak yang terserang sakit flu dan batuk. Dia sampai melupakan waktu makan siangnya.


"Aduh, jam istirahat sudah lewat. Lapar banget," kata Amira bermonolog.


Amira pun pergi ke kantin yang ada di gedung sebelah. Saat dia duduk memesan makanan, tanpa sengaja melihat ada Shine sedang berada di sana sambil mengerjakan sesuatu. Terlihat dari jarinya yang menari dengan cepat di keyboard laptop miliknya.


Rasanya Amira ingin datang menghampiri Shine. Hanya sekedar untuk menanyakan kabarnya. Terlihat pemuda itu mengangkat panggilan telepon lewat handphone. Entah apa yang sedang dibicarakan olehnya dengan orang di seberang sana. Terlihat kalau laki-laki yang memiliki mata tajam dan lensa berwarna biru itu sedang tertawa. Ada perasaan cemburu yang dirasakan oleh Amira.


'Apa dia sedang bicara dengan seorang perempuan?'


Amira tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Shine saat ini. Bahkan saat pelayan menyajikan pesanan di atas meja, dia membiarkannya begitu saja.


"Bu Dokter Amira!" pelayan itu beberapa kali memanggil nama Amira, karena tidak mendapatkan respon darinya.


Amira terhenyak karena terkejut oleh panggilan pelayan perempuan yang kini sedang berdiri di samping mejanya. Dia merasa malu karena kepergok sedang memperhatikan seorang laki-laki yang ada di meja seberang sana.


"Terima kasih," kata Amira.


"Kenapa, Bu Dokter? Apa laki-laki bule itu kenalan Bu Dokter?" tanya perempuan berambut panjang dan diikat satu.


"Iya. Dia teman aku. Sejak kapan dia duduk di sana?" tanya Amira menatap ke arah pelayan.


"Hmmm, sepertinya belum lama ini. mungkin sekitar 20 atau 30 menitan yang lalu," jawab pelayan.


Amira makan pesanannya, dia tidak sadar kalau Shine sedang memperhatikan dirinya karena niqob dia menutupi wajahnya. Biasanya Amira makan di ruang pribadi. Akan tetapi, saat ini keadaan kantin sedang kosong sehingga dia memilih makan di sana.


Shine tahu kedatangan Amira ke kantin, saat perempuan itu masuk ke sana tadi. Dikarenakan tanggung dengan pekerjaannya yang begitu menumpuk, dia pun memilih menyelesaikan dulu tugasnya. Namun, saat dia asyik mengerjakan pekerjaannya ada telepon masuk dari seorang perempuan yang disayangi olehnya. Dia pun mendengarkan curahan isi hati wanita itu. Namun, bagi Shine itu mahal yang lucu dan membuatnya tertawa. Menggodanya membuat dia merasa senang dan terhibur.


Saat dia sedang berbicara, terlihat jelas dari sorot pancaran mata Amira ada perasaan tidak suka. Entah kenapa dia merasa sangat senang melihat hal ini. Maka dia pun sengaja berlama-lama berbicara di telepon itu.


***


Siapa kira-kira perempuan yang sedang berbicara lewat telepon dengan Shine? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2