CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 31. Amira Tiba Di Amerika


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya! Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 31


Keadaan Hotel Asterik kini sudah dikepung oleh polisi. Para tim keamanan keluarga Andersson sudah tidak ikut campur saat polisi melakuakan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara. Hal ini sesuai perintah Angkasa dan kepala polisi.


Angkasa baru saja selesai melakukan transfusi darah. Saat ini hanya dirinya yang bisa melakukan hal itu. Anak-anak dia berpencar melanjutkan studi mereka ke berbagai negara. Saudara dia yang lainnya pun sedang berada di belahan dunia lain.


"Terima kasih, sudah mau merawat Shine," ucap Angkasa.


"Tentu saja itu harus aku lakukan. Kenapa juga stok darah milik kalian habis di saat genting seperti ini," ucap seorang laki-laki berjas putih yang kini duduk di sofa bersama Angkasa.


"Ya, kamu terlalu sibuk sampai tidak menyadari stok darah untuk keluarga sendiri sampai kosong. Langit dan Sky sedang menuju kemari. Semoga saja dengan istirahat seharian, kondisi tubuh mereka cepat kembali pulih." Angkasa menatap langit-langit kamar.


Ada pesan masuk ke handphone miliknya. Ada pesan dari saudara kembar perempuan yang kini menetap di Indonesia.


Aku, Bang Ghazali, Raihan, Rayyan, dan Rain sudah mengirim darah kami lewat pesat jet khusus. Semoga bisa cepat sampai di sana.


Angkasa tersenyum, Bintang adalah orang yang selalu bergerak cepat dan tidak suka dengan kemalasan. Kecerewetan dia juga tidak ada yang menandinginya.


"Ada apa?" tanya dokter ahli organ dalam itu penasaran.


"Bintang kirim pesan," jawab Angkasa.


"Benarkah. Apa dia juga akan pulang ke sini?" tanya laki-laki itu dengan antusias.

__ADS_1


Angkasa bisa melihat binar kebahagian dari manik bola matanya. Dia tahu kalau dokter ini salah satu pengagum Bintang.


"Tidak. Mana mungkin dia diizinkan oleh suaminya pergi tanpa dirinya," jawab Angkasa dan dokter itu kembali layu


***


Alex dan Cantika datang terlebih dahulu ke rumah sakit begitu mendengar kabar putra merek. Disusul oleh Langit dan istrinya. Berselang satu jam Sky dan Amira datang ke sana.


"Sky, kenapa kamu malah ke rumah sakit? Seharusnya langsung saja pulang ke rumah untuk beristirahat," kata Angkasa saat adiknya datang ke rumah sakit.


"Amira ingin melihat keadaan Shine sekarang. Dia menangis terus sejak masih di Indonesia," bisik Sky kepada kakak tertuanya.


Angkasa sama lirik ke arah samping Sky, di mana ada seorang perempuan yang menggunakan cadar dan terus menundukkan kepalanya.


"Assalamualaikum," salam Angkasa.


"Wa'alaikumsalam," balas Amira dengan suaranya yang pelan.


"Mama ... Papa!" Sky langsung menghamburkan pelukannya kepada sang ibu.


"Shine pasti akan baik-saja," kata Cantika sambil mengusap punggung putranya.


"Semalam aku sempat memimpikannya, kalau dia minta tolong. Tapi aku tidak bisa menolongnya," ucap Sky.


"Itu hanya buah mimpi. Dia akan baik-baik saja. Karena dia anak mama dan papa yang selalu kuat dalam keadaan apapun," balas Cantika.


Amira ingin melihat keadaan Shine. Dia ingin berada di sisinya memberikan dukungan dengan doa. Selama menunggu di samping Shine, dia juga terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Meski sudah satu jam lebih dia mengaji di sampingnya. Pemuda itu belum juga sadar.

__ADS_1


Amira menunggui Shine malam harinya. Meski hal itu tidak boleh atau tidak perlu, karena sudah ada perawat yang akan mengawasi keadaannya. Namun, dia tidak mau beranjak dari samping laki-laki yang sering mengganggu pikirannya.


"Shine, buka matamu," kata Amira lirih.


Perempuan itu rasanya ingin membelai wajah tampan yang kini penuh luka. Namun, dia tidak bisa melakukan hal itu, karena saat ini dia istrinya atau bukan mahram bagi Shine.


"Ya Allah, aku mohon berikanlah kesembuhan dan kekuatan pada Shine."


"Ya Allah, jika dia ditakdirkan untukku, maka aku ridho. Engkau tahu siapa yang terbaik untuk aku. Engkau juga pasti akan memberikan laki-laki yang terbaik untukku."


Shine mendengar setiap perkataan Amira. Dia merasa sangat senang. Rasanya dia ingin membuka matanya dan melihat perempuan yang sudah mencuri hati dan perhatiannya beberapa bulan ini.


'Ya Allah, aku ingin melihatnya. Jika, Engkau masih memberikan aku kesempatan, maka tanpa menunggu lama, aku ingin menghalalkan dirinya untukku.' (Shine)


'Amira, terima kasih atas kesedian kamu untuk menerima diriku ini.'


***


Angkasa juga sebenarnya menunggu di rumah sakit, apalagi dia juga sedang menunggu darah yang diperkirakan datang jam 20:00:00 dan mengalami keterlambatan karena ada longsor salju.


Jam 21:00:00 saat Angkasa mendatangi kamar inap Shine terlihat Amira tertidur sambil duduk di samping Shine. Lalu, dia pun menyelimuti Amira setelah selesai mengganti kantong darah untuk Shine.


"Ayo, Shine cepat bangun! Bukannya kamu ingin bertemu dengannya karena sangat merindukannya. Orangnya sudah datang, saat ini duduk mencemaskan kamu. Kamu harus berjuang." Angkasa menyentuh tangan adiknya dan terasa ada gerakan padanya, meski lemah.


"Bagus. Kuatkan dirimu dan segeralah buka matamu. Lihatlah perempuan yang selalu kamu puji dan kagumi ini! Ajak dia ke pelaminan. Jangan mau kalah sama saudara-saudara kamu yang punya kisah cinta yang indah. Buatlah kisah cintamu dengannya juga," ucap Angkasa.


Kali ini tangan Shine bergerak lebih jelas terlihat. Angkasa senang melihat reaksinya.

__ADS_1


***


Akankah Shine cepat sadar? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2