
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 66
Alex dan teman-temannya ternyata memasuki sebuah kamar tamu yang tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Saat mereka berjalan di lorong ada beberapa orang yang berseragam tentara bayaran dari kelompok Flamingo. William dengan gerakan cepat bisa melumpuhkan ketiga orang itu.
"Bagus kakek!" puji Alex dan Fatih.
"Kalian jangan menganggap remeh aku. Setiap hari aku melatih beladiri kedua anak kembarku," ucap William.
"Itu benar. Seharusnya seperti itu agar tubuh kita tetap keadaan bugar," balas Alex.
Ketiga laki-laki tua itu pun melanjutkan kembali perjalanan mereka mencari keberadaan Juan. Mereka menduga kalau kamar pribadi milik orang itu berada di lantai tiga. Mereka tidak bisa menaiki lift karena beresiko akan ketahuan. Jadinya mau tidak mau harus menaiki anak tangga.
Lagi-lagi mereka bertemu dengan anak buah Flamingo. Alex pun menembak mereka dengan peluru bius. Seketika lawannya jatuh pingsan.
"Cepat ikat mereka dan lucuti senjata miliknya!" titah Alex pada kedua saudaranya itu.
"Aku rasa jumlah anak buah Juan bukan 100 orang pembunuh bayaran tetapi lebih," kata Fatih saat dia mengumpulkan semua senjata milik musuhnya.
"Aku juga merasa seperti itu. Mana mungkin untuk menjaga semua makhluk hanya menggunakan 100 orang itu belum lagi dari mereka ada yang mati," ujar William.
"Siapa yang bilang kalau anggota anak buah Juan ada 100 orang? 100 orang itu adalah anak-anak kecil yang dulu pernah direkrut oleh Ramos dan dijadikan tentara untuk membunuh para lawannya atau orang yang dianggap musuh paginya," jelas Alex.
Ketiga orang itu pun melanjutkan kembali menelusuri menuju lantai tiga. Saat ini mereka berada di lantai dua.
__ADS_1
Hal yang paling membuat mereka terkejut dan sekaligus ingin tertawa adalah tim Alex bertemu dengan tim Angkasa di lorong lantai dua.
"Papa." Angkasa dan Sky memanggil Alex.
"Angkasa ... Sky." Alex melihat ada dua orang putranya.
Ayah dan anak itu selalu dalam keadaan siaga. Namun, saat mereka beradu ketiganya pun tertawa kecil.
"Hebat juga kalian sudah bisa mencapai lantai dua," puji Alex.
"Kita naik lewat pohon," balas Sky sambil berbisik.
Alex, William, dan Fatih pun tertawa mendengar perkataan Sky barusan. Ketiganya tidak menyangka kalau mereka masuk dengan cara seperti itu.
"Papa akan menuju ke lantai tiga mencari keberadaan Juan," kata Alex.
Tim mereka pun berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Tim Alex menuju lantai tiga, sedangkan tim Angkasa menelusuri semua ruangan yang ada di lantai dua.
***
Sementara itu, di daerah halaman samping kanan, tim Langit masih bersembunyi. Terlalu banyak anak buah Juan berkumpul di sana.
"Bagaimana ini?" tanya Langit kepada Akira.
"Harus ada sesuatu yang bisa memancing mereka agar membubarkan diri," jawab Akira.
"Kira-kira apa yang bisa menjadi pemicu?" tanya Nick.
__ADS_1
Langit pun menunjuk saklar listrik. Namun, Akira melarangnya, karena akan memicu kepanikan seluruh mansion. Serta, membahayakan dengan mereka yang sudah berhasil masuk.
Maka Akira pun mengeluarkan bola gas agar orang yang menghisapnya akan jatuh tertidur seperti orang yang tidak sadarkan diri sampai 10 jam. Saat gas tanpa warna itu ke luar, orang-orang yang di sana ricuh karena mencium bau wangi dan dalam seketika jatuh tertidur.
"Kenapa tidak sejak tadi kamu gunakan alat seperti itu?" tanya Langit kepada Akira dengan kesal.
"Soalnya aku hanya membawa dua buah. Itu untuk berjaga-jaga saat dalam keadaan darurat," jawab Akira.
"Sebaiknya kita lekas masuk ke dalam atau kita akan menghabisikan anak buah Juan yang ada di halaman ini?" tanya Nick begitu mereka selesai mengikat para penjahat dan melucuti semua senjatanya.
"Kita sebaiknya berisi saja anggota anak pengajuan yang ada di halaman ini," kata Akira.
"Benar juga apa kata Akira. Sebaiknya kita bereskan saja anggota anak buah Juan yang ada di halaman mansion ini," ucap Langit.
"Itu lebih baik karena aku suka pertempuran yang berada di rumah daripada bertarung di dalam," ujar Nick.
"Kalau begitu kita mulai dari mana? Dari depan ke belakang atau dari belakang ke depan?" tanya Nick lagi.
"Sebaiknya kita menyerang dari arah belakang terlebih dahulu," jawab Langit.
"Oke. Kita mulai sekarang!" balas Nick dengan senang.
***
Apakah Semua bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan pikiran mereka? Ataukah Juan sudah tahu rencana mereka terlebih dahulu? Tunggu kelanjutannya, ya! Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya. Sudah tamat, jadi kalian bisa membacanya secara maraton.
__ADS_1