CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 75. Hamil


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kita semua diberikan kelancaran dan kemudahan dalam segala urusan.


***


Bab 75


Shine tersenyum senang, berbanding terbalik dengan Amira yang cemberut. Tadi sebelum memulai suaminya bilang akan bercinta sebentar. Nyatanya mereka mengarungi surga dunia itu hampir dua jam. Itu juga terhenti ketika ada telepon yang masuk mama mertuanya.


"Jangan marah, Honey. Biar Shine junior cepat hadir," kata Shine merayu istrinya.


"Aku malu sama mama dan papa," balas Amira karena Cantika tadi bilang minta maaf karena sudah mengganggu proses pembuatan cucunya.


"Tidak perlu malu. Hal ini seperti inikan lumrah bagi pasangan suami istri," ujar laki-laki yang kini duduk di sofa bersama istrinya.


"Aku nggak akan mau di ajak ibadah gituan kalau bukan di kamar tidur kita di rumah," ucap Amira masih cemberut.


"Lalu, kalau besok kita pergi bulan madu. Kamu nggak akan mau melakukan ibadah itu dengan aku saat di sana?" tanya Shine dengan tatapan sendu.


Muka Amira sudah seperti kepiting rebus saat ini. Bukannya dia tidak suka melakukan ibadah itu dengan suaminya. Namun, dia ingin suaminya itu tahu tempat saat melakukannya.


"Bukan begitu, Sayang. Tapi, aku nggak mau kalau melakukan ibadah itu bukan di tempat yang semestinya," bantah Amira.


Kini Amira menatap ke arah suaminya. Dibelainya wajah Shine dengan lembut.


"Aku ingin melakukan ibadah itu dengan hati dan pikiran yang tenang. Tanpa adanya rasa takut ketahuan atau kelihatan oleh orang lain. Selama ini aku tidak pernah menolak ajakan Cintaku ini dalam ibadah itu, ketika di rumah. Iya, 'kan?" tanya Amira.


"Iya," jawab Shine membenarkan, kalau istrinya tidak pernah menolak ajakan darinya meski menggerutu awalnya karena dia minta tambahan jatah. Kalau tidak pagi, ya,  waktu makan siang.


"Aku ikhlas saat menjalani ini. Tapi, kedepannya jangan di tempat seperti ini," pinta Amira.


"Iya. Maafkan aku, Honey." Shine langsung memeluk istrinya.


Amira pun membalas pelukan suaminya. Dia juga memberikan kecupan di pipinya.


"Shine, kamu sudah boleh pulang," kata Sky sambil masuk ke dalam kamar.


Untung posisi Amira memunggungi pintu, sehingga Sky tidak melihat wajahnya. Shine pun dengan cepat memasangkan cadarnya.


"Baiklah. Honey, ayo!" Shine menuntun Istrinya dan menenteng tas berisi baju kotor milik mereka.

__ADS_1


***


Shine mengalami muntah-muntah sepulang dari masjid. Ini membuat Amira khawatir. Dia takut ada luka dalam yang tidak terdeteksi atau mungkin saja gejalanya baru muncul saat ini.


"Tidak, Honey. Semua organ dalam aku dalam keadaan baik-baik saja. Hanya tinggal memar-memar di tubuh saja yang belum hilang," ucap Shine.


"Kita periksa ulang lagi, ya! Aku ingin memastikan dengan kepala mata sendiri," ucap Amira.


***


"Semua hasilnya baik, bahkan memar di badannya pun sudah memudar," kata Angkasa yang sengaja memeriksa keadaan adiknya setelah mendengar keluhannya tadi.


"Makanya kamu harus selalu pakai baju, biar tidak masuk angin," balas Sky yang kebetulan ikut ke sana karena ada perlu dengan Angkasa.


Shine hanya mendengus, sedangkan wajah Amira di balik cadarnya sudah merona. Mereka tahu maksud saudara iparnya itu.


"Mungkin yang perlu diperiksa adalah Amira," ucap Angkasa sambil melirik ke arah adik iparnya.


Shine dan Sky pun ikut-ikutan melihat ke arah perempuan bercadar itu. Mereka mengira kalau Amira sedang sakit.


"Maksud Kak Angkasa?" tanya Amira tidak mengerti.


Amira dan Shine mengira-ngira kemungkinan itu terjadi. Sebab, mereka tidak pernah absen melakukan ibadah mengarungi surga dunia itu.


"Honey, sebaiknya kita periksakan, yuk!" ajak Shine dengan wajah yang berseri-seri.


***


Amira pun di periksa ke dokter kandungan. Alat test pack menunjukan dua garis merah. Hal itu tentu membuat keduanya sangat bahagia.


"Kita periksa lewat USG," kata dokter wanita yang sudah lumayan tua.


Perut Amira pun diolesi dengan gel pelumas khusus di permukaan kulit perut. Ini digunakan untuk mencegah gesekan yang melukai kulit saat bagian transduser ultrasound digerakan di atas kulit.


"Nyonya Amira sedang mengandung dan usia janin baru berusia enam minggu," jelas Dokter Sandra yang sering menangani para istri di keluarga Andersson, saat mereka hamil.


"Alhamdulillah, Honey. Akhirnya kita akan menjadi orang tua," ucap Shine sambil menciumi tangan istrinya.


Mata Amira berkaca-kaca betapa bahagianya dia saat ini. Dia bisa mengandung buah cintanya dengan laki-laki yang dia cintai.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Ya Allah, berikanlah kemudahan aku saat menjalani kehamilan ini," gumam Amira.


***


Kabar kehamilan Amira membuat bahagia seluruh keluarga Andersson. Bahkan keluarga Amira yang ada di Indonesia pun merasa sangat bahagia ketika Amira memberi tahu hal ini kepada Abah dan Umma-nya.


"Honey, kamu harus banyak-banyak beristirahat. Jangan capek-capek!" Shine memberikan peringatan kepada sang istri.


"Tentu saja, Sayang. Jadi, ibadah di atas ranjang pun harus libur dulu, ya!" Bukan Amira yang membalas, melainkan Sky. Dia mengejek kembarannya.


Semua orang menahan tawa karena ulah Sky. Amira sudah sangat malu sekali. Sementara itu, Shine melotot kepada kembarnnya.


"Untuk yang itu tidak bisa libur," balas Shine.


Sky merasa iri kepada kembarannya. Dia kini akan menjadi seorang ayah. Sementara itu, dirinya belum juga punya pasangan.


"Kamu, harus berhati-hati. Kehamilan Amira masih sangat muda, jadi sangat rawan sekali," kata Cantika dan dibenarkan oleh kedua menantu lainnya.


"Ma, suruh Amira tidur dengan Mama saja. Kasihan jika dibiarkan tidur dengan Shine," ujar Sky.


Lagi-lagi mereka menahan tawanya, sedangkan Shine sewot sambil mencak-memcak pada kembarannya itu. Dia mana bisa tidur nyenyak jika tidak memeluk tubuh Amira. Baginya, istrinya kini adalah sudah menjadi belahan hidupnya. Jika, Amira tidak ada di sampingnya, maka akan ada yang terasa kurang.


***


Di sebuah ruangan yang remang-remang ada dua orang sedang duduk saling berhadapan. Salah seorang darinya memberikan satu amplop berukuran besar.


"Ada kabar terbaru?" tanya orang yang yang menerima amplop.


"Ada. Dan kau akan suka mendengarnya," jawab orang yang tadi menyerahkan amplop.


"Apa itu, James?" tanya laki-laki yang memiliki jari-jari tangan yang panjang.


"Shine sudah menikah dan kini istrinya sedang hamil," jawab James Black sambil tersenyum miring.


"Apakah kabar ini bisa dipercaya?" tanya laki-laki dengan rambut yang mulai beruban meski belum menginjak kepala lima.


"Ya, ini kabar yang bisa dipercaya, David." James Black menyeringai.


***

__ADS_1


😱 David masih hidup? Lalu, yang mati saat di Pulau Leon itu siapa? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2