CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 91.


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 91


Shine melajukan motornya menerobos hutan yang lebat. Dia harus segera menemukan istrinya karena ancaman musuh ini tidak bisa dianggap enteng. Selain itu hari juga sudah semakin gelap dan akan berubah menjadi malam. 


'Ya Allah, lindungilah Amira dan bayi kami.' (Shine)


Laki-laki ini sudah lumayan jauh masuk ke tengah hutan. Untungnya dia menggunakan jaringan satelit sehingga keberadaan Amira kini bisa diketahui. Jarak dirinya dengan sang istri tinggal beberapa kilometer saja. Namun, terasa sangat jauh baginya saat ini.


Beberapa saat kemudian dia bisa melihat ada bangunan besar di tengah hutan. Maka, Shine pun menghentikan motornya dan menyembunyikan di balik pohon besar. Lalu, dia masuk ke halaman itu dengan mengendap-ngendap dan bersembunyi jika ada musuh yang mendekat. Dia melihat ada banyak orang di halaman itu dengan membawa persenjataan lengkap. Mereka terlihat sedang berjaga-jaga dan mengawasi keadaan sekitar. Terlihat ada tiga atau empat orang yang membawa teropong dan menggunakan alat itu untuk melihat kawasan sekitar bangunan.


'Aku harus berhati-hati. Semoga saja para Tim Keamanan segera sampai ke sini.' (Shine)

__ADS_1


***


Trio Kancil berhasil menemukan laki-laki yang menyamar jadi David. Meski rupa wajah, bentuk tubuh, dan gaya bicara sama dengan David, tetapi mereka lupa sesuatu yang penting, yaitu tanda lahir yang seharusnya menjadi tanda kunci asli orang itu.


"Kamu sudah tidak bisa lagi kabur dari kami," kata Bintang saat berhadapan dengan David palsu.


Laki-laki itu kini terlihat diam, tidak ada tanda-tanda akan melakukan perlawanan. Ini akan membuat mereka mudah untuk mengakhiri pengejaran ini. Namun, ternyata dugaan mereka salah, karena laki-laki itu di dalam perhitungan detik langsung menembak ke arah mereka merdeka.


DOR! DOR! DOR!


"Maaf, aku tanpa sengaja langsung membunuhnya," ucap Angkasa dengan penuh penyesalan.


"Sudah tidak apa-apa. Mungkin sudah takdir orang itu mati tanganmu," balas Langit sambil memeriksa keadaan mayat itu.


Bintang merasakan ada hawa kehadiran orang lain di sekitar sana. Maka dia pun mengedarkan penglihatannya untuk mencari salah satu. Ternyata mereka adalah Tim Keamanan yang datang untuk membantu mereka.

__ADS_1


"Tuan Angkasa, kami datang untuk membantu," ujar salah seorang dari mereka.


Mendengar ucapan orang itu Angkasa dan Langit hanya menganggukkan kepala. Namun, semuanya sudah mereka bereskan dan tinggal melakukan pembersihan.


"Lapor! Semua musuh sudah kami bereskan. Mayat-mayat mereka juga sudah kami kumpulkan dan mobil pengangkut jenazah juga akan segera sampai," ucap salah seorang Tim Keamanan yang baru datang menyusul.


"Bagus. Bereskan semua ini, aku akan menyusul Shine!" Angkasa pun pergi dengan berlari cepat.


"Langit aku serahkan semua yang ada di sini kepadamu. Aku akan pulang melihat keadaan Mama!" ujar Bintang, kemudian dia pergi dengan menaiki motor yang ada di depan bangunan itu, entah milik siapa.


Langit hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Selalu saja dia bagian sesi penyelesaian terakhir di lapangan.


"Kalian ini selalu saja menyuruh aku melakukan hal seperti ini. Padahal aku juga masih ingin pergi ke tempat Papa," gerutu Langit.


***

__ADS_1


Apakah Shine akan bisa menyelamatkan Amira? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2