CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 72. Akhir (3)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 72


Shine dan Martin mengikuti langkah James. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Langit dan Akira. 


"Kalian!" Mereka terkejut, kemudian tertawa.


"Bagian di sana apa sudah beres semua?" tanya Langit.


"Sudah. Tim bantuan pun sudah berdatangan ke sana. Hanya saja ada beberapa orang dari tim kita yang mengalami luka parah. Selain itu mereka luka ringan dan sedang," jawab James.


"Di sini juga sepertinya sudah selesai, tidak tahu di lantai atas," ucap Langit.


Saat mereka hendak menaiki anak tangga, dari atas ada Angkasa turun bersama timnya ditambah Nick.


"Nick!" panggil Langit.


"Tuan Langit, maaf aku tersesat dan tidak bisa menemukan Anda," kata Nick dengan ekspresi penyesalan.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak baik-baik saja, 'kan?" tanya Langit. 


"Tadi sempat bertemu dengan beberapa orang anak buah Juan. Untungnya seragam kita anti peluru," jawab laki-laki yang usianya seumur dengan Langit.


"Syukurlah, kalau begitu. Sekarang kita cari papa dan om Fatih," ajak Langit.


Mereka menaiki lantai tiga di sana juga banyak anak buah Juan yang bergelimpangan di lantai. Bau anyir darah tercium begitu menyengat. Bahkan Shine hampir muntah-muntah.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Angkasa karena merasa kasihan kepada adiknya itu.


"Aku biasanya tidak merasa jijik saat melihat darah. Tapi, entah kenapa sekarang membuat aku mual dan jijik," jawab Shine dengan wajah yang pucat.


"Nanti aku akan periksa kesehatan kamu jika sudah sampai rumah," ucap Angkasa.


Alex dan Fatih memapah Willian yang terluka dalam. Laki-laki tua itu terlihat meringis.

__ADS_1


"Apa Kakek William terluka parah, Pa?" tanya Angkasa yang langsung menghampiri.


"Iya, dia terkena senjata yang sama dengan Martin dulu," jawab Alex.


"Sebaiknya kita langsung bawa ke rumah sakit. Pesawat juga selalu dalam keadaan siap sedia," kata Angkasa begitu melihat keadaan William.


Pasukan militer datang menyusul ke pulau itu setelah ada komando dari seorang jenderal. Mereka membereskan sisanya dan membawa para anak buah Juan. Baik yang terluka maupun sudah mati.


Hari mulai memasuki tengah malam saat mereka meninggalkan Pulau Leon. Mereka beristirahat dulu di pulau milik William, kecuali William, Shine, dan Angkasa yang langsung pergi ke rumah sakit.


***


Amira tidak bisa memejamkan matanya, jam di dinding sudah menunjukan pukul 00:00. Dia pun ke luar kamar untuk mengambil air minum. Ternyata hal yang sama juga dilakukan oleh istrinya Langit, Almahira. Jadinya, mereka berdua duduk di ruang keluarga yang ada di lantai dua. 


"Kak Alma, apa sudah sering merasakan hal seperti ini? Ditinggal suami pergi ke tempat berbahaya?" tanya Amira.


"Kadang-kadang kalau ke tempat berbahaya. Kalau ditinggal ke tempat laboratorium miliknya, baru sering. Jika, dia membuat barang baru kadang tidak pulang," jawab Almahira.


"Aku sangat cemas dan takut sekali, Kak. Ini pertama kali aku ditinggalkan sama Shine ke tempat berbahaya seperti itu," aku wanita yang kini sedang menanggalkan cadarnya.


"Percayalah, kalau mereka akan baik-baik saja," ucap Alam. Dia juga dulu pernah terlibat dalam pertarungan antar kelompok Yakuza. Bahkan nyawanya terancam karena tubuhnya dipasangi bom oleh pihak lawan (baca di Trio Kancil).


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01:00, tetapi Shine dan yang lainnya belum juga pulang. Amira entah ke berapa kali melirik ke arah jam itu dan terasa sangat lambat.


"Kalian belum tidur?" tanya Cantika yang ke luar dari kamar tidurnya.


"Tidak bisa tidur, Ma," jawab Amira dan Alma bersamaan.


"Sholat tahajud sama-sama, yuk!" ajak Cantika dan keduanya pun menyetujuinya.


***


Amira langsung mendatangi rumah sakit begitu mendengar suaminya dirawat lagi. Tadi dia sempat pingsan saat mendengar kalau Shine di bawa ke rumah sakit. Dia menyangka kalau laki-laki itu terluka parah lagi sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit.


"Kak, bagaimana keadaan Shine?" tanya Amira pada Angkasa.


"Dia baik-baik saja. Mungkin karena terlalu tegang atau mungkin juga karena merindukan dirimu, dia jadi begini," jawab Angkasa sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


Amira hanya terpana melihat Angkasa tersenyum seperti itu. Selama ini tampang kakak iparnya itu selalu serius dan irit bicara.


Terlihat Shine yang sedang terbaring tidak berdaya di atas brankar. Hanya ada selang infus yang terpasang di tangan kirinya.


"Sayang." 


Amira memanggil suaminya dengan lembut. Dia juga membuka cadarnya dan mencium kening dan pipi. Digenggamnya tangan kanan itu lalu dikecupnya dengan lembut.


"Buka matamu," bisik Amira.


Air mata perempuan itu mengalir dengan deras. Dia merasa sedih dan takut melihat keadaan suaminya kini.


"Katanya akan mengajak aku pergi bulan madu jika semua ini berakhir. Aku sudah tidak sabar menanti hari itu," ucapnya lagi.


Cantika hanya berdiri mematung di depan pintu ruang rawat putranya. Tadinya dia mau masuk, tetapi canggung saat Amira mencurahkan perasaannya pada Shine yang tidak sadarkan diri. Jadinya, dia lebih milih berdiri saja di sana. Sebelum datang ke kamar putranya, Cantika menengok dahulu keadaan Kakek William. Dia ingin melihat kondisinya terlebih dahulu. Untungnya semua bisa diatasi oleh peralatan medis di sana.


"Mama, kenapa berdiri di sini? Tidak masuk?" tanya Angkasa.


"Biarkan dulu Amira mencurahkan perasaannya saat ini. Kasihan dia. Semalam saja dia tidak tidur karena terus memikirkan Shine," jawab Cantika.


"Maklum pengantin baru," bisik Angkasa.


"Kayak kamu dulu. Nempel terus," balas Cantika menggoda putra sulungnya.


***


Alex yang masih di pulau pribadi milik William sedang mendengarkan laporan dari pihak militer. Mereka melaporkan kalau orang yang mati di pulau itu ada 96 orang, yang luka-luka ringan lebih dari 300 orang, dan yang luka berat ada 525 orang.


Sementara itu, di pihak Alex sendiri tidak ada yang meninggal, hanya saja hampir semua orang mengalami luka ringan, sedang, dan parah. Dia juga memberikan laporan itu. Agar pihak pemerintah juga tahu kalau di kubunya juga banyak yang terluka. Sementara mereka datang hanya tinggal bersih-bersih tanpa mempertaruhkan nyawa mereka.


"Ada apa, Pa?" tanya Langit pada Alex.


"Pihak militer menyayangkan adanya banyak korban jiwa. Mereka mati karena ulahnya sendiri. Dulu, mereka membunuh orang tanpa belas kasihan, apalagi jika orang itu adalah warga sipil biasa yang tidak tahu caranya menggunakan senjata. Kita melawan mereka sama-sama memakai senjata dan sebelumnya juga sudah memberikan peringatan. Aneh sekali mereka ini, meminta bantuan tapi ingin tahu beres dan tidak mau mendapatkan kritikan dari rakyat," jawab Alex.


***


Sebenarnya apa yang sudah terjadi di sana? Lalu bagaimana dengan Shine? Tunggu kelanjutannya, ya.

__ADS_1


__ADS_2